Refleksi dan Proyeksi Para Pemimpin Sejati

Refleksi dan Proyeksi Para Pemimpin Sejati

- detikNews
Kamis, 30 Des 2010 17:52 WIB
Refleksi dan Proyeksi Para Pemimpin Sejati
Jakarta - Di setiap akhir tahun kebanyakan kita melakukan suatu refleksi bagi setiap perjalanan yang telah dilalui dan melakukan proyeksi bagi rencana-rencana satu tahun yang akan kita jalani. Bagi para pemimpin sejati refleksi dan proyeksi adalah melihat masa depan kepemimpinan yang melekat pada setiap individu kita menjadi akan lebih bermanfaat bagi sesama.

Mengapa? Lantaran menjadi pemimpin itu bukan kehendak atau cita-cita manusia. Menjadi pemimpin itu sesuatu yang given. Melekat pada setiap individu manusia. Sudah kehendak Allah dan tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepada manusia. Sebagaimana Adam dan manusia dijadikan khalifah oleh Allah di muka bumi.
 
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "aku hendak menjadikan khalifah di bumi". Mereka berkata, "apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?" Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS: Al-Baqarah. 30).

Dan "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di muka bumi" (QS: Fatir. 39).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adam sebagai Khalifah bermakna pengganti, pemimpin atau penguasa, karenanya Adam dan setiap manusia keturunan Adam dijamin kedudukannya oleh Allah menjadi pemimpin atau penguasa yang menggantikan Allah di muka bumi. Karena sesuatu yang telah given maka sesungguhnya manusia tidak perlu mendisain atau merancang sesuatu untuk menjadi khalifah (penganti, pemimpin, dan penguasa) di muka bumi.

Pilihan atas pengembangan kualitas dari tugas kekhalifahan di muka bumi itulah yang mengharuskan manusia mempersiapkan individu pribadinya mendayagunakan seluruh potensi yang dimiliki untuk mengembangkan tanggung jawabnya sebagai khalifah (penganti, pemimpin, dan penguasa) di muka bumi.

Setiap pribadi memiliki kebebasan memilih tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin di muka bumi melalui berbagai tugas dan tanggung jawab yang dicita-citakan. Dari sekedar menjadi pemimpin keluarga, rakyat biasa, sampai yang menjadi konglomerat, birokrat, teknokrat, atau pun pejabat. Kesemuanya adalah merupakan tugas-tugas kepemimpinan. 
 
Pemimpin Sejati

Berkaitan dengan khalifah sebagai penguasa atau kekuasaan politik dan kenegaraan (al-mulk) sebagai pilihan manusia dalam mengembangkan tugas kepemimpinan di bumi, Allah mengingatkan manusia melalui Nabi Muhammad bahwa kekuasaan politik dan kenegaraan (al-mulk) itu juga memiliki dimensi ruhani yang bersifat transendental, dan menjadi kehendak Allah.

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu". Mereka menjawab, Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekeyaan yang banyak?" (Nabi) menjawab, "Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik". Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Allah maha luas, maha mengetahui" (QS: Al-Baqarah. 247).

"Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan pemilik kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau maha kuasa atas segala sesuatu" (QS: Ali Imran. 26).

Sebagai pemimpin atau penguasa politik dan kenegaraan (al-mulk) mengharuskan setiap pribadi pemimpin itu benar-benar menjadi pemimpin sejati. Ialah pemimpin yang senantiasa menyadari bahwa kepemimpinan yang dimiliki benar-benar menjadikan kemuliaan bukan menjadi kehinaan bagi dirinya di sisi Allah. 

Pemimpin sejati adalah pemimpin yang dapat diteladani karena ia adalah pemimpin yang amanah. Amanah atau kepercayaan yang dimiliki bukan saja karena kedudukan yang legal formal sebagai penguasa politik atau kenegaraan (al-mulk). Akan tetapi ia adalah pemimpin yang senantiasa mengembangkan keperibadiannya menjadi pemimpin yang diteladani.

Pemimpin sejati adalah pemimpin yang meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai teladan Umat. Karenanya pemimpin sejati adalah pemimpin yang dapat memimpin dirinya sendiri untuk selalu taat kepada Allah dengan mengabdikan diri sebagai hamba kepada Allah, menjadi pemimpin di keluarga, menjadi pemimpin di masyarakat dan menjadi pemimpin umat atau rakyat.

Pemimpin sejati adalah pemimpin yang selalu mengembangkan kualitas kepribadian yang mengedepankan sikap moral yang baik dan kejujuran (siddiq). Meningkatkan keterampilan dan menyampaikan apa adanya (tabligh) dan mengembangkan kapasitas serta kecerdasannya (fathanah). Pemimpin atau penguasa politik dan kenegaraan (al-mulk) semacam inilah yang senantiasa mendapat kepercayaan (amanah) bukan saja dari umat (rakyat) tetapi mendapat amanah dari Allah.

Karena itu pula, pemimpin sejati adalah pemimpin yang senantiasa mengkuti kehendak Allah untuk berendah hati kepada rakyat yang dipimpinnya atau pengikutnya.

"Janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah kami berikan kepada beberapa golongan di anatara mereka (orang kafir), dan jangan engkau bersedih hati terhadap mereka dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman" (QS: Al-Hijr. 88).

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu" (QS: Asy-Syu'ara. 215).
 
Tugas Kepemimpinan

Menjadi pemimpin atau penguasa politik dan kenegaraan (al-mulk) adalah jalan kemuliaan menuju kekuasaan Allah. Kemulian kekuasaan hanya diperoleh dengan menjadi pemimpin sejati yang benar-benar mengemban tugas kepemimpinan dari Allah untuk memakmurkan bumi.  

"Dan kepada kaum Samud (kami utus) saudara mereka, salih. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya)" (QS: Hud. 61).

Menyadari berbagai krisis kepemimpinan atau kepemimpinan tanpa moral kekuasaan di level mana pun, perlu bagi setiap pribadi saat ini untuk kembali merenungi tanggung jawab kepemimpinan baik sebagai pemimpin keluarga, rakyat biasa, konglomerat, birokrat, teknokrat, atau pun pejabat untuk benar-benar menciptakan kemakmuran bumi. 

Menjadi pemimpin sejati sebagai pemimpin atau penguasa politik dan kenegaraan (al-mulk) adalah pemimpin yang menjadikan negerinya menjadi negeri yang baik, dengan Tuhan yang maha pengampun, Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur (QS: Saba. 15).

Pemimpin yang memakmurkan bumi dengan mewujudkan negara yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo yang diridhoi Tuhan. Lalu ia pun menyadari bahwa tugas kepemimpin yang diembannya itu akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana Al-Hadist, "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya". Karena ia menyadari bahwa semua tugas kepemimpinan dan kekuasaan politik dan kenegaraan (al-mulk) yang dimilikinya adalah merupakan pengabdian semata-mata kepada Allah sebagai hamba Allah" (QS: Az-Zariyat. 56).

Dalam refleksi dan proyeksi yang sebaiknya dilakukan oleh para pemimpin sejati Indonesia saat ini agaknya pernyataan Muhammad Natsir berikut ini patut untuk direnungi bahwa: "Kemenangan perjuangan pada hakikatnya tidak semata-mata karena tempat yang diduduki cukup banyak, atau kekuasaan ada di tangan. Tetapi hakikat kemenangan ialah apabila semua itu dipergunakan untuk menolong dhuafa dari nasibnya yang malang. Keluh mereka dapat terbujuk, air mata disapu dari muka, tangan yang menadah mengadukan nasib kepada Tuhan disambut dengan bimbingan: bila semua ini berganti dengan wajah baru sampai si lemah terlepas dari penderitaannya, di sinilah baru kita merasakan kemenangan baru kita peroleh".

Perenungan yang begitu dalam ini setidaknya agar kekuasaan politik dan kenegaraan (al-mulk) yang dimiliki oleh siapa pun yang ingin menjadi pemimpin sejati. Tidak membawa kepada kehinaan dan penyesalan di kemudian hari sebagaimana kata Nabi, "Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan". 

Patut bagi setiap kita dalam melakukan refleksi akhir tahun dan proyeksi di awal tahun semacam ini adalah ucapan selamat bagi kita para pemimpin sejati Indonesia dan selamat tahun baru untuk suatu visi, misi, dan cita yang lebih mulia dan bermanfaat bagi sesama. 

Wahyu Triono KS
Bhayangkara No 9A PGS Cimanggis Depok
wahyu_triono2004@yahoo.com 
87717007/ 081219921609

Penulis adalah Direktur CINTA Indonesia dan Professional Campaign and Politic
Consultant pada DInov ProGRESS Indonesia.



(msh/msh)


Berita Terkait