Pemanasan Bumi Melalui Program Swasembada Daging Nasional 2014

Pemanasan Bumi Melalui Program Swasembada Daging Nasional 2014

- detikNews
Senin, 27 Des 2010 17:59 WIB
Pemanasan Bumi Melalui Program Swasembada Daging Nasional 2014
Jakarta - Pencanangan program swasembada daging sapi akhirnya kembali digulirkan sebagai program andalan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Setelah sebelumnya gagal terealisasikan pada masa program 2010. Pemerintah menargetkan pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional pada tahun 2014 dapat benar-benar diwujudkan.

Bahkan, keseriusan pemerintah dalam hal tersebut telah didukung dengan isu penganggaran dana nasional untuk program swasembada daging hingga satu triliun rupiah. Jika memang program swasembada daging nasional akan secara sungguh-sungguh dilaksanakan maka pemerintah pasti akan melakukannya melalui dua skema umum. Pertama, optimalisasi peternakan sapi di Indonesia dan kedua, menambah jumlah bibit sapi.

Kedua skema ini terkait erat dan berhubungan dengan peningkatan kuantitas peternakan sapi. Akan tetapi pemerintah sepertinya tidak melakukan kajian lebih jauh. Peningkatan kuantitas peternakan sapi ternyata tidak akan senergis dengan daya dukung lingkungan. Terutama konteksnya sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peningkatan kuantitas peternakan tentu disertai dengan perluasan lahan. Baik berupa lahan untuk hewan ternak maupun lahan penanaman pakan ternak. Perluasan lahan ini sering kali dilakukan dengan penggundulan dan pembakaran hutan.

Hutan yang memiliki kepentingan untuk menjaga keseimbangan kadar CO2 di atmosfer dan dikategorikan sebagai CO2 trap tidak lagi produktif. Serapan terhadap salah satu gas rumah kaca ini semakin menurun yang berdampak pada meningkatnya efek pemanasan global.

Selain itu pembakaran lahan gambut yang memiliki banyak senyawa organik terkandung di dalamnya turut berkontribusi menyumbangkan CO2, gas CO, bahkan paparan partikel radikal bebas dari pembakaran tidak sempurna senyawa organik dari gambut yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Peternakan menyita cukup banyak dari area subur hanya untuk dijadikan ladang penanaman pakan ternak. Sementara pemanfaatan lahan-lahan tersebut dapat lebih baik jika dialokasikan sebagai tempat produktif lainnya maupun dijadikan kawasan hutan. Pada prosesnya pun peternakan akan secara berkala mengemisikan gas metana (CH4) hasil dari proses biologis hewan ruminansia seperti sapi.

Sapi yang tergolong sebagai hewan ruminansia memanfaatkan mikroorganisme anaerob untuk membantu proses pencernaan makanannya melalui mekanisme fermentasi. Hasil dari pencernaan makanan ini berupa gas, CO2, dan metana yang dikeluarkan melalui feses dan ekshalasi pernapasan sapi.

Masyarakat cenderung tidak memusingkan mengenai produksi gas metana ini. Padahal, metana memiliki kemampuan berkali lipat lebih besar dalam menyerap panas dibandingkan dengan gas rumah kaca lainnya.

Dapat dibayangkan jika secara teoritis satu ekor sapi dewasa dapat menghasilkan 23,59 kg feses setiap harinya dan target populasi sapi di Indonesia dari program swasembada daging mencapai kurang lebih 14,38 juta ekor akan berapa banyak metana diemisikan setiap harinya. Tidak mengherankan jika kalkulasi kasar yang dirilis oleh World Watch Institute menyebutkan bahwa peternakan bertanggung jawab atas setidaknya 51% dampak pemanasan global.

Tingkat pemanasan global terasa semakin parah. Iklim menjadi tidak menentu dan perubahan ekologis ini membuat kecenderungan kesehatan masyarakat menurun. Masyarakat semakin lama akan dibebani dengan tanggung jawab untuk terus beradaptasi terhadap perubahan kondisi alam. Jelas hal tersebut merepotkan dan kurang aplikatif.

Pemanasan global telah menyebabkan beberapa wilayah di Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang cukup signifikan yang berdampak pada kekeringan. Seperti wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT dapat dijadikan gambaran konkret bagaimana provinsi yang dicanangkan sebagai wilayah penghasil daging nasional mengalami dampak langsung dari tingginya kuantitas peternakan.

Paradoks antara peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan ancaman kelestarian lingkungan nyata terlihat dalam implikasi program swasembada daging nasional 2014. Hanya untuk tujuan peningkatan di satu aspek kehidupan masyarakat antisipasi terhadap bahaya dan permasalahan lingkungan tidak dapat diabaikan karena dampaknya akan terasa bagi seluruh masyarakat dunia.

Rima Febrina
Perumahan Taman Raya Bekasi
rima.febrina@ui.ac.id
08561261791



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads