Maknanya? "Sebuah praktek public relations yang cantik" dan cerdas. Betapa kentalnya sentuhan manusiawi di Stadion Old Trafford itu. Bukan hanya memperlihatkan klub MU yang gagah dalam olah raga terpopuler sejagat. Tetapi, sekaligus memberikan pesan kemanusiaan terhadap banyak orang. Para pengurus klub Manchaster United boleh dibilang tercerahkan. Sadar sepenuhnya bahwa Sepak Bola era kini bukan hanya adu taktik di lapangan. Tetapi, juga bagian dari komunikasi massa lintas batas!
Lalu mari tengok apa yang terjadi dengan perhelatan akbar di AFF 2010 ini. Indonesia, dengan dukungan penonton yang super fanatik, menorehkan kemenangan demi kemenangan. Kita menyambutnya dengan luar biasa antusias. Tetapi, bagaimana 'respon' dari para pengurus Timnas atau PSSI? Terhadap banjir dukungan itu?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, saat ini adalah golden moment, yang jarang-jarang terjadi. Setahu saya, tak ada sepatah kata pun ungkapan terima kasih untuk histeria publik terhadap Bambang Pamungkas dan kawan-kawan.
Timnas dan PSSI memang tak lupa mengundang Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden Republik Indonesia (RI). Tetapi, mereka tak ingat untuk menyediakan beberapa kursi gratis untuk para korban bencana dari Merapi atau dari mana saja. Sebagai bentuk solidaritas sesama anak bangsa?
Inilah sebuah fakta yang menunjukkan bahwa kita belum beranjak ke mana-mana dalam memperlakukan sepak bola. Berhenti memaknai sebagai permainan adu tangkas dan adu cepat mencetak gol. Berbalik punggung dengan aneka fakta fenomenal di belahan dunia lain "yang sepak bolanya begitu maju".
Publik sepak bola nasional mungkin lekat dengan memori promosi politik, kemanusiaan, atau pun solidaritas warga dunia, melalui ajang sepakbola. Betapa padat bahasa Anti Apartheidism, Anti Racism, solidaritas terhadap bencana, atau pariwara perdamaian via sepakbola.
Sponsor sepakbola saat ini, bahkan tak melulu menjadi monopoli bisnis raksasa, tetapi juga organisasi-organisasi kemanusiaan, semacam Unicef atau Unesco. Lantas, tak kurang-kurang para individu unggulan di dunia sepak bola yang berperi laku mengesankan. Mereka menyumbang orang-orang miskin di negaranya, mendirikan sekolah, atau sekedar rajin hadir dalam charity show (program-program bantuan amal).
Fenomena tersebut sama sekali bukan kebetulan. Melainkan dalam satu bahasa rangkaian yang terjalin erat bahwa sepak bola adalah wahana mempromosikan pesan-pesan berperikemanusiaan.
Benar, tak ada kaitan langsung antara apresiasi pengurus PSSI dan timnas terhadap solidaritas mereka yang saat ini kurang beruntung dengan prestasi yang akan diukir di lapangan. Mereka sudah cukup bagus bila bekerja baik-baik. Demi menjemput kemenangan demi kemenangan. Tetapi, satu hal pasti, sebuah magical moment yang mestinya bermanfaat optimal bagi seluruh bangsa ternyata berlalu begitu saja.
Namun, dalam jangka panjang, sikap seperti ini harus segera tanggal. Sepak bola idealnya menjadi bahasa kemanusiaan di negeri ini. Agar semua anak bangsa berbagi kebahagiaan. Saling mempromosikan kebaikan. Dan, tidak menjadi bangsa penonton yang hanya tahu dua istilah: menang dan kalah. Atau hanya bisa berperilaku terbatas: histeris ketika unggul, dan mengamuk ketika kalah. Sungguh suatu pola perilaku yang anti kemanusiaan.
Akan begitu indah jika kita mulai hari-hari ini. Mengejawantahkan memori publik yang telah lama menjadi inferior. Untuk beranjak dengan penuh harga diri. Mengalihkan naluri agresif yang merusak kepada sebuah perilaku yang bermartabat.
Hanya perlu langkah-langkah sederhana dari para pengurus Timnas dan PSSI. Guna memanfaatkan momen AFF ini. Misalnya dengan mengundang para korban bencana, memberi kesempatan kepada kaum terpinggirkan untuk bisa menonton, dan tidak serakah membisniskan ajang semeriah ini. Andai ini yang dilakukan, maka Timnas dan PSSI enak untuk didukung dan perlu.
Endi Biaro
Balaraja Tangerang Banten
rendi_biaro@yahoo.co.id
082111425279
(msh/msh)











































