Sepak Bola dan Harga Diri

Sepak Bola dan Harga Diri

- detikNews
Minggu, 26 Des 2010 13:22 WIB
Sepak Bola dan Harga Diri
Jakarta - Masyarakat Indonesia sedang dilanda euphoria berlebih atas keberhasilan Tim Nasional (Timnas) Garuda menembus babak final AFF Cup 2010. Ekspektasi sebagai juara baru pun membumbung. Harga diri dipertaruhkan.

Di tengah himpitan permasalahan sosial dan politik yang semakin mumet dewasa ini bangsa kita seakan haus akan sesuatu yang bisa dibanggakan. Terutama di level international. Ini dijadikan sekedar pengalih perhatian dari kehidupan yang semakin susah sehari-hari.

Biaya kesehatan menguras dompet. Biaya pendidikan mencekek leher. Padahal, katanya, pertumbuhan ekonomi kita sedang positif. Entah positif korupsi atau kolusinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mungkin kebetulan atau apa pun namanya. Tim Sepak Bola Garuda melaju hingga ke partai puncak. Meledaklah harapan ratusan juta masyarakat. Bahwa, sebenarnya kita mampu. Cuma, selama ini ada yang salah dengan bangsa ini.

Tentang sepak bola menjuarai AFF menurut saya tidaklah luar biasa (tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali). Bangsa ini sangatlah besar. Tuhan menganugerahi Nusantara dengan Sumber daya yang dahsyat. Penduduk 200 juta lebih. Alam yang kaya raya. Apalagi, bangsa ini mengenal sepak bola sejak masa pendudukan Belanda.

Mengapa Jepang yang belajar Liga dari kita bisa menembus Piala Dunia? Itu karena Pemerintah dan otoritas sepak bola mereka jauh lebih baik dibanding Indonesia?Saya pastikan ini.

Fakta, di seluruh Indonesia, hampir semua kabupaten atau kota memiliki tim sepak bola. Bahkan, ada yang lebih dari satu. Ribuan orang pasti menyaksikan setiap tim-tim itu bertanding. Di level kompetisi apa saja. Lahirlah supporter fanatik yang seakan rela mempertaruhkan jiwa raga demi timnya.

Kalau begitu mengapa prestasi international tidak kunjung datang? Padahal, pemain bola di negeri ini jumlahnya mencapai ribuan. Bahkan, mungkin jutaan. Saya bisa memastikan jawabannya. Karena, adanya campur tangan pemerintah.

Solusinya, presiden harus turun tangan. PSSI mutlak harus dibenahi, ganti ketua, sekjen, dan official lainnya hingga ke tingkat paling bawah. Terapkan aturan FIFA secara ketat. Bahwa, tim profesional tidak boleh dibiayai pemerintah dari APBD atau lewat apa pun. Kualitas lebih utama dibanding kuantitas kan? Untuk apa banyak klub kalau tidak bermutu. Cuma menghamburkan uang yang semestinya digunakan untuk pelayanan pendidikan dan kesehatan rakyat saja.

Seluruh rakyat Indonesia bangga dengan pencapaian Timnas di AFF sejauh ini. Martabat Republik terdongkrak dengan prestasi semacam ini. Presiden pun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Padahal, masih level Asia Tenggara. Bisa dibayangkan. Betapa bangganya rakyat seandainya prestasi ini dilevel Asia atau lebih jauh di level Dunia. Efeknya pun meluas ke kehidupan sosial kemasyarakatan.Β 

Coba perhatikan. Bagaimana supporter timnas kita bersatu menyanyikan Garuda di Dadaku. Tanpa mengenal perbedaan suku, agama, kepribadian lainnya. Semua terikat erat dalam Pancasila.

Rudy Mansjur
Amban Manokwari
rudyrmlan@yahoo.co.id
081248454777



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads