Bila musuh telah menemukan jalan lobang untuk menyadap berita-berita militer paling rahasia suatu negara langsung ke sumbernya maka ia pun telah bisa membaca pola pikir lawannya. Berkat tindak mata-mata keluarga ganjil yang mulai dilakukan John Walker sejak tahun 1968 Soviet berhasil meraup keuntungan berupa inti pengetahuan langsung dari sumbernya terkait gerakan-gerakan militer yang direncanakan Amerika Serikat selama 17 tahun.
Komplotan Walker memberitahukan kepada Soviet lebih dari 1.000.000 informasi (berita-sandi) serta kunci-kunci untuk menterjemahkannya. Inilah kerugian paling besar bagi Amerika. Tapi, sebaliknya merupakan kemenangan gemilang bagi pihak Uni Soviet dalam keseluruhan perang dingin.
Penetrasi langsung Uni Soviet ke dalam pusat jaringan sisitim informasi pertahanan AS. Meliputi Air Force, Gedung putih, Pentagon, Komando Kapal selam, satelit, pesawat ruang angkasa adalah sebuah ancaman besar bagi Amreika saat itu.
Dalam kelanjutan buku ini diterangkan untung saja tidak terjadi perang fisik. Jika tidak Amerika akan kalah telak. Karena, data-data penting dan strategiknya telah bocor ke tangan militer Uni Soviet saat itu. Kendati pun tidak terjadi perang fisik tapi Amerika dalam hal ini tetap kalah dalam memproteksi kerahasiaan negara.
Kolone Kelima
Dalam strategi perang kita mengenal sosok yang paling terkenal yakni Sun Tzu. Ahli strategi perang ini berasal dari Cina. Menurutnya, strategi yang baik adalah yang dapat membawa kemenangan perang tanpa banyak penggunaan kekerasan dan pertumpahan darah.
Olehnya itu dibutuhkanlah kekuatan kolone kelima yang berperan dalam melakukan operasi intelejen. Baik dalam bentuk propaganda dan konspirasi. Kedua bentuk operasi intelejen ini (propaganda dan konspirasi) dilakukan dengan sangat rahasia dan menggunakan supra-teknologi (supra technology) komunikasi yang diprotek rahasisanya sedemikian rupa oleh otoritas militer nasional.
Penggunaan kolone kelima juga pernah dilakukan oleh Nazi Jerman dalam perebutan Eropa Barat. Demikian juga keberhasilan Jerman dalam menimbulkan kecurigaan Stalin kepada Kastaf Umum USSR (Union of Soviet Socialist Republics) sehingga diberlakukan pembersihan besar-besaran di lingkungan personil pimpinan angkatan bersenjata USSR yang telah melumpuhkan AB tidak lama sebelum Jerman menyerang negara tersebut. Demikian pun kekuatan kolone kelima yang diotaki Amerika dalam memecahbelahkan Uni Soviet.
Konspirasi
Dengan terkuaknya sekian ratus ribu kawat Amerika yang dipublikasikan oleh WikiLeaks, menunjukkan bahwa, keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam perbagai konflik perang selama ini dengan mengatasnamakan polisi dunia (world police) mulai rontok.
Namun, tanpa disadari, bocor dan membanjirnya rahasia intelejen Amerika dan negara lainnya ini, seolah membuka peta baru konflik dan melahirkan ketegangan-ketegangan yang berarti bagi peta perdamaian dunia. Bocornya rahasia intelejen oleh WikiLeaks juga menumbuhkan sentimen baru terkait konflik global yang tengah menghangat. Terutama konflik-konflik yang memperhadapkan Amerika dengan negara-negara yang berkontra ideologi dengannya.
Setelah terungkapnya berbagai konspirasi dan rencana hitam AS sebagaimana yang dipublikasi oleh WikiLeaks beberapa negara korban proyek konspirasi mulai membuka mata lebar dan sadar. Tapi, dengan terkuaknya informasi intelejen Amerika dan beberapa negara ini, tidak serta-merta membuat kisa cepat berkesimpulan.
Sekencang apa pun WikiLeaks menguliti rahasia-rahasia intelejen AS, masih ada konspirasi intelejen yang belum sempat terkuak. Mengapa WikiLeaks tak menyentil Israel. Negara yang tak kalah begalnya dan kontroversial dengan Amerika itu?
Sekilas kita membaca, bocoran rahasia-rahasia intelejen tersebut, terutama yang berkaitan dengan rahasis intelejen di negara-negara Timur Tengah (Arab), sepertinya ada skenario yang mengalurkan terciptanya konflik sesama negara Islam. Singkatnya, tujuan aksi WikiLeaks ini dapat ditangkap sebagai upaya memperkuat front Arab dalam menghadapi diplomasi regional Republik Islam Iran.
Dalam situs www.konspirasi.com, menulis "Ada aksi terorganisir di balik proyek ini dengan tujuan menciptakan perselisihan dan konflik antarnegara Timur Tengah. Penjelasan ungkapan sebagian kepala-kepala negara Arab terkait Iran yang dikutip dalam dokumen-dokumen ini merupakan upaya menjustifikasi adanya perselisihan dan konflik hebat antara negara-negara di Timur Tengah".
Jika diperkerucut lagi terkait bocoran rahasia-rahasia intelejen oleh WikiLeaks maka dapat diendus adanya indikasi permainan konspirasi. Terutama konspirasi tersebut berkaitan dengan kepentingan Amerika terhadap Iran.
Dus, pada akhirnya kepentingan Amerika terhadap Iran tersebut memiliki implikasi ideologis terkait kegeraman Amerika terhadap negara-negara Islam khususnya. Hal ini serupa dengan kamuflasi intelejen terkait kepemilikan senjata pemusnah masal di Irak yang mana hal tersebut dijadikan legitimasi internasional untuk melakukan agresi militer terhadap Irak dibawah rezim Sadam Husein.
Dengan demikian, kita tak perlu terburu-buru menertawai terbongkarnya borok Amerika melalui rahasia intejelen oleh Wikileaks, jika operasi intelejn ini bisa jadi, merupakan pegelaran kekuatan kolone kelima dan politik konspirasi yang bisa saja dimainkan oleh negara-negara adidaya seperti Amerika? Siapa tahu bisa demikian.
Abdul Munir Sara
Jln Kayu Manis Baru II No 25
Matraman Jakarta Timur
abdulmunir_sara@yahoo.co.id
081318004078
Pemerhati masalah Intejelen.
(msh/msh)











































