Gayus Bersambut Pengorbanan

Gayus Bersambut Pengorbanan

- detikNews
Kamis, 18 Nov 2010 17:41 WIB
Gayus Bersambut Pengorbanan
Jakarta - Namanya Gayus Halomoan Tambunan. Kepergiannya keluar dari Rumah Tahanan (Rutan) Brimob Kelapa Dua Depok untuk plesiran dan menonton pertandingan tenis Internasional di Nusa Dua Bali bak gayung bersambut menuai berbagai kritik dan kecaman terhadap buruknya penegakan hukum (law enforcement) di Indonesia.

Terungkapnya plesiran Gayus ke Nusa Dua Bali yang bermula dari hasil bidikan wartawan foto Harian Kompas, Agus Susanto ini menjadi potret yang masih saja mencengangkan bagi kita. Begitu buruknya penegakan hukum (law enforcement) tindak pidana korupsi di Indonesia dan asas persamaan di depan hukum (equality before the law) akibat perlakuan khusus bagi para tahanan tersangka dan terpidana khususnya tindak pidana korupsi.

Sebenarnya bukan hanya kali ini saja Gayus keluar dari Rumah Tahanan (Rutan) Brimob  Kelapa Dua Depok. Disinyalir Gayus sudah enam puluh delapan kali keluar dari Rumah Tahanan (Rutan), dan bukan hanya Gayus yang dapat melenggang keluar dari Rumah Tahanan (Rutan). Banyak juga para tersangka dan terpidana dapat keluar masuk penjara dengan berbagai alasan.
 
Motif di Balik Plesiran Gayus

Plesiran Gayus ke Nusa Dua Bali menjadi sorotan berbagai pihak. Mengapa? Lantaran selain dilihat dari sisi penegakan hukum (law enforcement) dan persamaan di depan hukum (equality before the law) saja akan tetapi kasus ini oleh banyak pihak dikaitkan dengan banyak nama besar seperti Jenderal Pol Timur Pradopo yang mulai diuji kinerjanya sebagai Kapolri yang baru, Patrialis Akbar selaku Menteri Hukum dan HAM, dan menyangkut nama besar salah satu tokoh politik penting di negeri ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai motif plesiran Gayus ke Nusa Dua Bali yang dikemukakan oleh banyak pihak dapat kita klasifikasi menjadi:

Pertama, masih terjadinya rivalitas di internal Kepolisian Republik Indonesia dan belum berhasilnya Jenderal Pol Timur Pradopo mengkonsolidasi Internal Kepolisian Republik Indonesia.

Kedua, menyangkut buruknya kinerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Patrialis Akbar yang begitu santer disuarakan atas lemahnya penegakan hukum (law enforcement) dan persamaan di depan hukum (equality before the law) dan dikaitkan dengan reshuflle kabinet.
 
Ketiga, menyangkut motif politik yang disangkutpautkan dengan dugaan kasus korupsi antara wajib pajak perusahaan milik keluarga tokoh politik terpenting di negeri ini dengan kasus tindak pidana yang disangkakan terhadap Gayus Halomoan Tambunan.

Agaknya sangat berlebihan bila motif plesiran Gayus Ke Nusa Dua Bali itu seperti yang telah diungkapkan menjadi tiga klasifikasi. Gayus sendiri di depan sidang pengadilan dengan kesedihan dan tangis yang tak dapat dibendung mengungkap bahwa kepergiannya keluar dari Rumah Tahanan (Rutan) karena rasa kangen kepada keluarganya.

Tetapi, apa pun alasan dan motif plesiran Gayus keluar dari Rumah Tahanan (Rutan) tidaklah masuk akal sehat kita bila disangkutpautkan dengan posisi dan kedudukan Jenderal Pol Timur Pradopo selaku Kapolri, posisi dan kedudukan Patrialis Akbar selaku Menteri Hukum, dan Hak Asasi Manusia serta posisi tokoh politik terpenting di negeri ini yang sedang bersinar dan banyak dielus oleh berbagai kelompok elit politik untuk maju menjadi kandidat Presiden Republik Indonesia. 

Mengapa? Ada beberapa alasan rasional bahwa ketiga motif itu sungguh tidak meyakinkan:

Pertama, meskipun plesiran Gayus ke Nusa Dua Bali menampar dan mempermalukan institusi Kepolisian Republik Indonesia dengan mengorbankan posisi dan kedudukan Komisaris Pol Iwan Siswanto dicopot dari Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Brimob namun tidak cukup menjadi alasan untuk menilai adanya rivalitas di internal Kepolisian dan mengukur kegagalan kinerja Jenderal Pol Timur Pradopo pada saat ini.

Kedua, sangatlah berlebihan untuk melakukan proses pembunuhan karekter (character assasination) atau penghancuran reputasi Patrialis Akbar selaku Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui plesiran Gayus Ke Nusa Dua Bali.

Ketiga, sangatlah naif bila plesiran Gayus ke Nusa Dua Bali disangkutpautkan dengan tokoh politik terpenting di negeri ini untuk mengamankan posisi dan menjaga nama baik dan citra tokoh politik ini di masa yang akan datang. Selain bila itu benar tidak perlu mesti membawa Gayus plesir keluar dari Rutan, bukankah kita banyak disuguhi tontonan bahwa negosiasi atau apa pun dapat dilakukan meskipun tokoh kunci itu berada di dalam Rumah Tahanan (Rutan). 

Pastinya, dugaan sotoran perusahaan keluarga tokoh politik terpenting di negeri ini kepada Gayus atas pajak perusahaan tersebut tidak ada sangkut paut secara hukum dengan tokoh politik terpenting ini, lantaran semua kebijakan perusahaan secara hukum tidak langsung berada di tangan kebijakan dan menjadi tanggung jawab tokoh politik penting ini.

Di negeri ini semua bisa saja mungkin terjadi dan ada pepatah sepandai-pandai tupai melompat sekali-kali akan terjatuh juga. Sepintar-pintar membungkus bangkai busuk aromanya akan tercium juga.

Akan tetapi secara jernih mestilah kita akui jangan sampai aroma busuk plesiran Gayus ke Nusa Dua Bali justru akan menutup semua subtansi persoalan dan tuntutan yang sedang disangkakan kepada Gayus sehingga menutup peluang dan momentum bagi keseluruhan subtansi penegakan hukum (law enforcement) dan persamaan di depan hukum (equality before the law). Terutama bagi tindak pidana korupsi di Indonesia.
 
Bersambut Pengorbanan

Setelah khusuk menjalankan sholat Idul Adha 1431 H di Mako Brimob Kelapa Dua Depok tiba-tiba pikiran saya dipenuhi oleh sosok Susno Duaji yang berkorban hewan ternak di Mako Brimob Kelapa Dua Depok dan sosok Gayus Halomoan Tambunan. Saya membayangkan kasus plesiran Gayus Bersambut Pengorbanan bagi kita segenap anak negeri bangsa Indonesia.

Selain kita berkorban hewan ternak: kambing, domba, sapi, dan kerbau pada hari di mana setiap kita tengah mengabadikan spirit keimanan Nabi Ibrahim dan Ismail yang berkorban untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Berbagai ujian dan pengorbanan Nabi Ibrahim itu yang menyebabkan Nabi Ibrahim didaulat menjadi imam (pemimpin) bagi umat manusia. 

Setiap kita perlu mengambil spirit untuk berkorban dengan menahan diri untuk tidak menyuap dan disuap, menahan diri menjadi pemimpin yang tidak mau melakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang nyata-nyata telah menyengsarakan bangsa Indonesia, menahan diri untuk melakukan maksiat dan kejahatan dan menahan diri untuk tidak melakukan hasut, fitnah, adu domba, dan memicu perpecahan umat manusia yang menimbulkan azab dari Tuhan secara langsung (tanpa ditunda).

Kesediaan semua kita untuk berkorban itu adalah demi perbaikan bangsa Indonesia dan memperbaiki posisi skor Corruption Perception Index Indonesia di tahun 2010 yang tidak bergeser dari tahun lalu. Masih pada skor 2,8 yang menempatkan Indonesia di peringkat 110 dari 178 negara terkorup di dunia. Sehingga, target pemerintah dalam capaian pemberantasan korupsi di Indonesia pada tahun 2014 mencapai skor 5,0 berdasarkan Corruption Perception Index (CPI) dari Transparency International benar-benar dapat diwujudkan.

Bagi saya, bak gayung bersambut, plesiran Gayus ke Nusa Dua Bali dalam momentum hari raya kurban dalam pikiran dan perasaan saya adalah Gayus Bersambut Pengorbanan bagi kita. Berkorban untuk menabur kebajikan dan kebaikan bagi negeri Indonesia tercinta.

Wahyu Triono KS
Bhayangkara No 9A PGS Cimanggis Depok
wahyu_triono2004@yahoo.com 
87717007/ 081219921609

Penulis adalah Direktur CINTA Indonesia dan Professionals Campaign and Politic  dan Consultant pada DInov ProGRESS Indonesia.


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads