Pengorbanan TKI yang Tak Berujung

Pengorbanan TKI yang Tak Berujung

- detikNews
Kamis, 18 Nov 2010 08:48 WIB
Pengorbanan TKI yang Tak Berujung
Jakarta - Seakan tak pernah habis derita para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Terhenyak lagi kita mendengar kasus Sumiati. Duh, gusti! Betapa biadabnya majikan yang melakukan penyiksaan tersebut.

Korban adalah segelintir dari rakyat Indonesia yang mencoba memperbaiki nasib dan mengais rezeki di negeri orang. Mungkin mereka yang hanya berpikir bahwa pekerjaan yang paling mudah tanpa menuntut skill tertentu dan tingkat pendidikan tinggi adalah pembantu rumah tangga.

Jika saja kita semua mau berpikir dan sedikit berempati bahwa para 'Pahlawan Devisa' tersebut juga merupakan duta bangsa yang layak diperlakukan dengan hormat dan layak diperjuangkan saat mereka mendapat musibah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan hanya sekedar headline di berbagai media massa dan menjadi perbincangan tanpa adanya solusi konkrit untuk melindungi hak-hak mereka. Sehingga, nanti akan muncul korban-korban selanjutnya dan akhirnya hanya akan berlalu tanpa adanya ketegasan terhadap kasus-kasus yang terjadi.

Memang saat ini kondisi negara kita sudah carut marut dan overloaded dengan segala permasalahan. Bagaimana mau mengatur urusan TKI. Wong urusan yang lainnya saja masih belum beres.Β 

Terlalu banyak drama yang terjadi di negara kita dan terlalu banyak jumlah penduduknya. Rasanya tak mungkin bisa mengurus seratus dua ratus TKI yang menderita di negara orang karena agendanya terlalu full book dan njelimet.Β 

Seharusnya kita bisa mencontoh Filipina dalam hal ini. Tokoh nomor satunya saja bisa turun gunung untuk sekedar mengurusi hak rakyat kecil dan menjaga harga diri angsanya di mata negara lain. Oleh karenanya walaupun pekerjaan mereka hanya sebagai asisten rumah tangga which is juga tidak bisa dianggap rendah.

Tapi, posisi pekerjaan mereka kukuh untuk dibela dan diselamatkan sebelum pulang ke negaranya berkain kafan. Rasanya saat ini kita masih dalam posisi memperjuangkan undang-undang penempatan tenaga kerja. Terutama untuk daerah Timur Tengah dan Malaysia.

Sudah saatnya pemerintah secara tegas menghentikan pengiriman TKI jika memang tidak mampu melindungi hak-hak mereka. Kita tidak ingin ada korban selanjutnya dan jadi bahan tertawaan dunia Internasional terhadap lemahnya perlindungan terhadap mereka.

Walaupun nampaknya akan seperti makan buah simalakama, dihentikan salah tapi bila
tidak dihentikan juga akan tetap salah, setidaknya kita tahu bahwa pemerintah sudah menutup keran-keran yang dapat kita sebut juga sebagai perbudakan modern ini.

Ellina Supendy
Kuala Lumpur
ellinasupendy74@gmail.com



(msh/msh)


Berita Terkait