Mendulang Berkah di Bulan Zulhijjah

Mendulang Berkah di Bulan Zulhijjah

- detikNews
Selasa, 16 Nov 2010 17:58 WIB
Mendulang Berkah di Bulan Zulhijjah
Jakarta - Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah (berqurban di sini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah). Sungguh amat besar nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita sebagai hambanya.

Isteri, anak, dan harta yang kita miliki adalah nikmat dari Allah. Kesempatan dan kesehatan yang kita nikmati saat ini pun merupakan nikmat dari Allah yang patut untuk kita syukuri. Pangkat, kedudukan, dan jabatan ke semuanya itu merupakan nikmat dari Allah. Bahkan, kebahagiaan yang kita rasakan saat ini merupakan nikmat dari Allah yang sering kali terlupakan oleh kita.

Segala yang dimiliki manusia adalah nikmat dari Allah. Baik berupa materi maupun non materi. Namun, bersamaan itu pula semua nikmat tersebut sekaligus menjadi cobaan atau ujian fitnah atau bala bagi manusia dalam kehidupannya. Allah berfirman:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar" (At-Taghabun: 15) [Taisir Al Karim Ar Rahman].Β 

Merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah dan tanda lulusnya seorang mukmin dari cobaan nikmat tersebut adalah dengan mengikhlaskan harta yang dia miliki untuk digunakan menunaikan ibadah haji. Berangkat dari niat yang ikhlas dan kesyukuran akan nikmat yang Allah berikan disertai syarat dan rukunnya. Ia bukan saja sekadar dianggap sah dan diterima ibadah hajinya oleh Allah tetapi diampunkan juga segala dosanya.

Ibadah haji seperti ini termasuk ke dalam apa yang disabdakan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Majah, An Nasai, dan Ahmad dari Abu Hurairah:

"Barang siapa yang menunaikan ibadah Haji, ia tidak melakukan keburukan dan kekejian, maka kembalilah ia seperti hari yang dilahirkan oleh ibunya".Β 

Subhanallah. Inilah tingkatan haji yang paling tinggi dan istimewa. Tidak semua orang mendapatkannya. Ia bukan hanya menunaikan kewajiban saja melainkan diampunkan juga segala dosanya dan dia dimasukkan ke dalam surga. Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh At Tabrani dari Abdullah Ibn Abas:

"Haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga" (HR Bukhari).Β 

Betapa bahagianya mereka yang dapat mencapai derajat haji mabrur. Ditambah dengan keistimewaan-keistimewaan yang mereka dapatkan dengan melaksanakan shalat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

"Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang" (HR Muslim no 1162).
Β 
Olehnya itu hendaknya kita benar-benar memanfaatkan tanggal 9 Dzulhijjah untuk melaksanakan ibadah di dalammnya terutama ibadah puasa. Sebagaimana hadits Rasulullah tersebut.

Salah satu bentuk lain dari cobaan harta kekayaan ialah melaksanakan udhiyah yakni menyembelih hewan yang kita kenal dengan hewan qurban di hari raya. Karena, pada hari ini Allah mensyariatkan untuk ber-udhiyah (menyembelih hewan) sehingga hari raya ini disebut dengan Hari Raya Adha.

Demikian juga penjelasan Rasulullah: Hari raya fitrah adalah pada hari manusia berbuka menyudahi puasa Ramadan. Sedangkan hari raya Adha adalah pada hari manusia ber-udhiyah. Dengan ikhlas ber-udhiyah baik berupa seekor sapi, kerbau, atau pun kambing maka orang tersebut telah melalui salah satu tahapan lulusnya dari ujian harta.

Pembagian daging qurban ini termasuk salah satu syiar agama yakni dibagikan kepada fakir miskin, sebagaimana dalam sebuah hadits:

"Makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah (daging qurbanmu)" (HR Muslim 2930).

Juga dihadiahkan kepada kaum Muslimin, baik kaya ataupun miskin, seperti tetangga dan kerabatnya. Hal ini didasari oleh sebuah hadits:

"Maka makanlah sebagian (dagingnya) dan berilah makan (manusia) dan simpanlah" (HR Bukhari 5567).

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: perkataan Nabi Sallahu Alaihiwasallam "berilah makan (manusia)" mencakup dua perkara, yaitu memberi hadiah orang-orang yang kaya dan bersedekah kepada orang-orang miskin. Juga bagi pemilik binatang (qurban) beserta keluarganya. Bagi orang yang berqurban disyari?atkan untuk makan sebagian daging binatang qurbannya. Hal ini berdasarkan perintah Allah dalam Al Quran:

"Maka makanlah sebagian (dagingnya) dan berilah makan orang yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta-minta" (QS Al-Hajj 22: 36).

Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah manusia yang pernah diuji oleh Allah dengan perintah menyembelih anak kesayangan satu-satunya yang dimilikinya. Karena, keikhlasan dan ketaatannya kepada Allah akhirnya Nabi Ibrahim lulus dari ujian tersebut.

Peristiwa tersebut telah didokumentasikan dalam Al Quran: Demikianlah sebenarnya Kami membalas orang-orang yang berusaha mengerjakan kebaikan. Sesungguhnya perintah ini adalah satu ujian yang nyata; Dan Kami tebus anaknya itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar; Dan Kami kekalkan baginya (nama yang harum) dalam kalangan orang-orang yang datang kemudian: "Salam sejahtera kepada Nabi Ibrahim!"Β 

Demikianlah Kami membalas orang-orang yang berusaha mengerjakan kebaikan. Sesungguhnya Nabi Ibrahim itu dari hamba-hamba Kami yang beriman. Dan, Kami pula berikan kepadanya berita yang mengembirakan, bahawa ia akan beroleh (seorang anak): Ishak, yang akan menjadi Nabi, yang terhitung dari orang-orang yang soleh (As Saffat: 105-112).Β 

Mari sedari kembali bahwa segala nikmat yang diberikan Allah pada hakikatnya adalah sebagai ujian. Apabila nikmat itu diminta kembali oleh yang memberi maka tidak ada yang dapat kita perbuat. Hari ini jadi konglomerat mungkin esok hari bisa jadi melarat. Sekarang berkuasa lusa bisa jadi hina tersia-sia.

Hendaknya nikmat harta yang kita miliki sentiasa kita infaqkan di jalan Allah. Memanfaatkan momentum Idul Adha yang akan segera tiba mari kita berqurban sebagai bentuk kesyukuran kitaΒ  kepada Allah.
Β 
Yakinlah bahwa harta yang kita infaqkan ikhlas di jalan Allah akan berbuah pahala yang berlipat ganda. Namun, sebaliknya ketika kita tamak dan kikir maka tunggulah kemiskinan dan kegelisahan hati selalu menghimpit.Β 
Β 
Akhirnya semoga momentum Idul Adha dapat membangunkan tidur kita sehingga kita mampu bangkit kembali sekuat tenaga untuk memperbanyak amal saleh sebagai pelebur amal-amal buruk selama ini. Amin!Β 
Β 
Muhammad Ikbal S Pd I
Mahallah Salahuddin PG2 15
International Islamic University Malaysia
Gombak Kuala Lumpur
abunabilah57@gmail.comΒ 
+60172920470
Β 


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads