Pernyataan di atas cukup menantang di tengah kondisi domestik yang kononnya banyak dirundung masalah dan petaka. Namun demikian statemen tersebut layak untuk dianalisis lebih dalam untuk memberikan pemahaman yang lebih objektif, komprehensif, dan tidak berpretensi berlebihan akan negara kita.
Diakui atau tidak perekonomian Indonesia telah menggeliat dan telah masuk dalam pusaran negara berpendapatan menengah, dan secara institutional, Indonesia telah tercatat sebagai anggota tetap G 20 yang tidak lain adalah forum negara-negara dengan tingkat perekonomian yang signifikan dalam kue ekonomi dunia saat ini dan mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
incaran institusi dan lembaga investasi keuangan global karena dianggap memberikan prospek ekonomi masa depan yang menjanjikan dan layak disandingkan bersama-sama dengan Brasil, Rusia, India, dan China serta kemudian bergabung dalam BRIC club of emerging market economy.
Pernilaian ini layak dipertimbangkan. Dengan memperhatikan assessment beberapa lembaga kredit rating internasional yang menilai Indonesia telah mengalami perbaikan secara gradual dalam sovereign credit rating. Alasannya dapat mencapai target credit rating investasi yang menggembirakan hingga masa lima tahun mendatang bersumber pada fakta perekonomian yang mampu bertahan pada tingkat pertumbuhan yang stabil.
Selain itu performa makroekonomi Indonesia yang terus menguat ditandai dengan ketahanan ekonomi dalam merespon terpaan krisis ekonomi global yang lalu. Penilaian resilience-nya perekonomian nasional sebenarnya tak lepas dari
bertenggerkan indikator-indikator makro pada level yang stabil dan kokoh. Seperti:
(1) Bertenggernya Indonesian Emerging Market Bond Index (EMBI), dan Credit Default Swap (CDS) di atas level 1,200. Ini mengindikasikan bahwa risiko perekonomian default sangatlah kecil disertai minimnya potensi terjadinya aliran modal keluar (capital outflows),Β
(2) Semakin baiknya managemen pembiayaan keuangan internasional kaitannya terhadap pengurangan risiko kerentanan neraca pembayaran dimana mulai ditopang oleh contigent financing facility sebesar US$5,5 billion,
(3) Semakin baiknya preferensi investor di pasar modal yang ditandai dengan melonjaknya IHSG di Jakarta Composite Index di atas level 3,000 atau meningkat sekitar 20 persen dalam annual basis,
(4) Kredibilitas keuangan Negara yang semakin kuat yang ditandai dengan rancangan deficit APBN sebesar 1,7 persenΒ pada 2011, atau 1,5 persen GDP, serta rasio hutang terhadap GDP yang berada di bawah level 30 persen.
Kesemua indikator makro di atas menyibak keyakinan para pemodal serta memperkuat ambisi negara dalam pencapaian taraf pertumbuhan melebihi level 6 persen. Bahkan, demi menjaga long-term growth rate perekonomian diharapkan berada dikisaran 8-9 persen. Kalkulasi tersebut memang nampaknya tidak berlebihan bila Indonesia dipandang sebagai perekonomian induk dan pendorong perekonomian raksasa lainnya.
Indonesia sebagai Negara eksporter bahan mentah dapat terus memanfaatkan momentum pertumbuhan China dan India dengan meningkatkan tingkat perdagangan dan investasi. Bahkan, baru-baru ini China Investment Corporation (CIC) sudah melakukan beberapa pembicaraan dengan sejumlah besar perusahaan di Indonesia untuk berinvestasi pada sektor-sektor sumber daya alam.
Lebih luas lagi dalam konteks ASEAN Indonesia telah sepakat untuk melakukan pengurangan tariff pada beberapa produk ekspor sehingga akhirnya dapat mendorong volume dan nilai ekspor Indonesia dalam konteks regional. Tentunya pengukuhan Indonesia sebagai raksasa ekonomi perlu diikuti oleh beberapa reformasi dan peninjauan kembali dalam ransangan kebijakan ekonomi negara, yakni:
Pertama, pembangunan dan peningkatan infrastruktur dengan menitikberatkan pada infrastruktur transportasi dan institusi. Cost efficiency terwujud dengan semakin minimnya akses transportasi menuju sumber ekonomi dan mudahnya perizinan birokrasi.
Kedua, perbaikan perangkat aturan dan regulasi yang mengarah kepada insentif usaha dan investasi dengan tetap menjaga kepentingan nasional
Ketiga, perbaikan kualitas sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan kebijakan ekonomi ke dalam peningkatan produktivitas kerja sehingga meningkatkan nilai tambah produk serta tingkat daya saing industri.
Keempat, peninjauan kembali kebijakan negara untuk lebih menekankan pada produk ekspor bernilai tambah tinggi dibanding bersumber bahan mentah untuk memperbesar penerimaan ekspor
Dengan demikian kebangkitan Indonesia bukanlah suatu kemustahilan bila berkaca pada pencapaian perekonomian nasional pada dasawarsa terakhir serta prospeknya ke depan. Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan prasyarat dalam memompa produktivitas sektor-sector ekonomi lainnya di dalam negeri, di samping juga memberikan keuntungan yang besar (trickle down effect) dalam perdangan bilateral negara ASEAN.
Hal ini dengan sendirinya akan memacu pembangunan ekonomi ASEAN. Baik dalam bidang perdagangan, ekonomi, dan keamanan. Bahkan, dalam konteks global, kebangkitan ekonomi Indonesia dipandang sebagai mesin pemompa pertumbuhan dunia pada dekade mendatang.
Untuk itu, sudah saatnya seluruh elemen bangsa duduk bersama untuk berpikir dalam realisasi pencapaiannya dan melihat momentum ini sebagai peluang untuk membuktikan bahwa Indonesia adalah "raksasa ekonomi baru dunia" di abad 21
ini. Jayalah Indonesiaku!
Dimas Bagus Wiranata Kusuma
Candidate Master of Economics, International Islamic University Malaysia,
Executive Director of Institute of Economic and Political Studies for New Indonesia
Development (INSTEAD) Kuala Lumpur
dimas_economist@yahoo.comΒ
(+60-102906105)
(msh/msh)











































