Kita tidak tahu apakah kesenyapan publikasi terhadap kedatangan Presiden Austria tersebut akan terjadi juga seandainya rencana kedatangan Presiden AS itu belum pernah direncanakan sebelumnya. Berarti, media tidak punya pilihan lain kecuali mengekspos kunjungan Presiden Austria tersebut. Walaupun mungkin saja intensitas pemberitaannya tetaplah tidak sedemikian besar. Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal:
1) Alasan pertama, sebagaimana disinggung sebelumnya, momennya bersamaan dengan kunjungan Presiden AS. Hal ini sangat terkait dengan alasan kedua, yaitu
2) Indonesia (dengan media / pers sebagai juru bicara, sebab, bukankah hingar bingar suatu pemberitaan tergantung pada mood insan pers untuk memberitakannya? Hal secara tidak langsung memposisikan pers sebagai "juru bicara" bahkan untuk level negara sekalipun), memandang posisi Austria tidaklah sepenting Amerika Serikat.
Hal ini dapat diumpamakan dengan seorang tuan rumah dalam sebuah rumah tangga menerima tetangga-tetangga sekelilingnya. Tetangga sebelah rumah adalah seorang yang sangat kaya. Sementara tetangga satunya lagi seorang yang tampaknya biasa-biasa saja.
Sebetulnya adalah hal yang biasa jika seorang pemimpin suatu negara menerima atau menjamu lebih dari satu tamu asing dalam satu hari. Salah satu contoh yang paling sering kita saksikan adalah bila presiden menerima surat kepercayaan dari Duta Besar. Sering kali itu dilakukan dengan menerima surat kepercayaan dari beberapa Duta Besar sekaligus.
Sebetulnya, prinsip kerja seorang duta besar dengan kepala pemerintahan atau negara hampir sama. Kunjungan atau keberadaan kedua pihak tersebut dalam suatu negara sama-sama merupakan representasi atau perwakilan penuh dari negara asalnya. Di sisi lain memang juga kehormatan tersendiri terhadap tamu yang bersangkutan apabila penerimaan atau penyambutannya dilakukan secara khusus, bukan secara massal.
Memang, penyambutan tidak sama dengan pemberitaan atau ekspose. Orang yang menyambut berhadapan secara langsung dengan pihak yang disambutnya (tamu). Sementara orang atau pihak yang memberitakan hanya memandang dari luar atau tidak berhadapan atau berhubungan langsung dengan tamu tersebut.
Ini artinya walau pun ekspose terhadap kunjungan Presiden Austria tidak sebesar yang terjadi terhadap kunjungan Presiden Amerika Serikat namun belum tentu penyambutan, jamuan, dan segala macam bentuk pelayanan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap tamunya Presiden Austria juga berbeda dengan yang dilakukannya terhadap Presiden Amerika Serikat.
Yang mau dikatakan adalah penyambutan berdiri di satu sisi. Sementara ekspose berada di sisi yang lain. Keduanya tidak sama. Sebab, kita harus paham bahwa bagaimana pun Austria bukanlah negara sembarangan. Ia merupakan negara terbesar ke sepuluh dalam hal ekonomi di kawasan Eropa. Khususnya di antara negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa.
Dalam hal hubungan antarbangsa, Austria juga, sebelum AS lahir pada 4 Juli 1776, sudah menjadi kekaisaran yang posisinya sangat diperhitungkan di Eropa, bersama-sama dengan Kekaisaran Prussia (Jerman masa kini). Memang, masa lalu adalah masa lalu. Namun, semua itu merupakan bukti sejarah untuk menyatakan bahwa Austria bukanlah negara kemarin sore.
Bukankah Indonesia juga sering membangga-banggakan masa lalunya dengan membawa-bawa nama Majapahit, Mataram, atau pun Sriwijaya, sehingga menyatakan bahwa Indonesia sudah "eksis" sejak ratusan tahun lampau? Lagipula, kedatangan Presiden Austria tersebut bersama-sama dengan 53 pelaku bisnis Austria, yang akan melakukan pertemuan dengan KADIN untuk membahas kerja sama investasi dan perdagangan.
Ini jelas tidak boleh dianggap sepele. Sering kali kita meremehkan apa yang sudah di depan mata. Sementara itu di sisi lain pada lain waktu kita bersusah payah mengadakan kunjungan ke luar negeri hanya untuk merayu pihak di seberang sana agar bersedia menanamkan modalnya di negara kita yang entah kapan realisasinya dapat terwujud.
Kini, Presiden Austria, yang notabene merupakan negara terbesar ke sepuluh di Eropa, datang membawa peluang bisnis tanpa kita harus berlelah-lelah menyodorkan proposal kerja sama. Tentunya adalah sangat disayangkan apabila dilewatkan begitu saja. Hal ini akan menjadi lebih jelas dengan mencermati alasan ketiga.
3) Indonesia merasa sebagai negara besar tidak perlu memandang terlalu signifikan terhadap kunjungan sebuah negara kecil seperti Austria (bandingkan misalnya bila Presiden Austria, katakanlah, berkunjung ke Timor Timur. Sudah barang tentu seluruh komponen Timor Timur, entah itu pemimpin pemerintahan, pasukan pengamanan, ilmuwan/ akademisi, sampai kuli-kuli tinta, akan ramai-ramai dengan sangat antusias merayakan kunjungan terhormat itu).
Kita terbiasa menggunkan perspektif atau cara pandang kita dalam memaknai kunjungan tamu negara. Kita akan melihat terhormat atau tidaknya, penting atau tidaknya kunjungan seorang tamu asing berdasarkan intensitas pemberitaan yang kita terima. Kita tidak terbiasa untuk melihatnya berdasarkan perspektif negara yang bersangkutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politisi-politisi atau akademisi-akademisi akan selalu mengeluarkan pendapat yang pada intinya adalah agar kita (Indonesia) harus jaga image, dan entah bagaimana, kesan jaga image itu selalu dikedepankan saat kita berhadapan dengan negara-negara besar. Entah itu dalam momen kunjungan atau pertemuan pemimpin kita dengan pemimpin mereka secara pribadi (bilateral) atau pun dalam momen "massal", misalnya forum pertemuan PBB, APEC, dan sebagainya.
Untuk sekedar informasi saja, kunjungan Presiden Obama ke Indonesia tidak (sekali lagi, tidak) merupakan headlines di salah satu harian berpengaruh di AS, New York Times, di hari Obama berkunjung, walaupun tetap diberitakan. Volcano is no deterrent to presidential visit dan Obama in Indonesia to see change and familiar sights adalah dua judul berita yang penulis temukan di antara judul-judul berita New York Times.
Berita pertama ditulis oleh wartawan New York Times bernama Sheryl Gay Stolberg. Namun, bukan masuk dalam kategori headlines walaupun tetap dalam kategori berita politik, dan anehnya, home base berita (lokasi penulisan berita, yaitu seperti yang biasa ditulis pada awal berita), adalah New Delhi, India, artinya, bukan di Amerika Serikat. Berdasarkan ini tampaknya berita ditulis oleh koresponden yang berkedudukan di luar negeri.
Berita kedua ditulis oleh wartawan (yang berdasarkan namanya, Norimitsu Onishi, tampaknya merupakan keturunan Jepang, maksudnya, bukan wartawan Amerika asli) dengan home base berita mengambil tempat di Indonesia (Jakarta). Artinya, kemungkinan besar berita ini adalah kiriman koresponden New York Times yang ada di Indonesia. Bukan wartawan yang memang berkedudukan di sana.
Harian Washington Post (harian yang langsung berkantor di Washington, Ibu Kota AS) malah lebih parah lagi. Sebab, tidak satu pun berita mengenai kunjungan Obama ke Indonesia mendapat tempat walau di kolom politik sekali pun. Namun, 'hanya' mendapat tempat di kolom 'World' (kalau di koran Indonesia kira-kira mendapat tempat di bagian berita internasional, berarti bukan di kolom politik secara khusus, apalagi headline berita utama). Itu pun ditulis oleh wartawan yang berdasarkan namanya menggunakan nama Indonesia, Niniek Karmini. Judul beritanya adalah Obama makes long-awaited return to Indonesia.
Berita ini pun mengambil tempat di Jakarta Indonesia. Jadi, jika semua hal ini benar maka berarti belum satu pun kunjungan Presiden Obama ke Indonesia yang benar-benar mendapat perhatian di negara asalnya, yaitu, yang ditulis oleh wartawan asli Amerika dan mengambil tempat berita di Amerika juga.
Artinya, kita mungkin belum lagi menjadi sebesar yang kita bayangkan di mata tamu-tamu kita sehingga pantas membuat kita jaga image, jaga gengsi, dan sebagainya. Seperti yang biasa kita dengung-dengungkan dengan kerasnya (tanpa rasa malu) agar kita harus selalu menjadi bangsa yang penuh dengan harga diri, apalagi, memberlakukan pilih-pilih kasih dalam cara penyambutan tamu. Semoga, itu hanya merupakan angan-angan buruk dari penulis, dan bukan kejadian sebenarnya.
Maruli GH Aritonang S IP
Penulis adalah Alumnus Fisipol UGM (meskipun demikian, pendapat ini merupakan pendapat pribadi, bukan mewakili insitusi manapun). Saat ini tinggal di Bekasi.
(msh/msh)











































