"Mereka berkata: 'Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? sungguh dia termasuk orang yang zalim', Mereka (yang lain) berkata: 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) ini, namanya Ibrahim' (QS Al Anbiya, 21: 59-60)".
Begitu juga para pemuda tangguh yang bersama-sama Rasulullah SAW dalam rangka melakukan perombakan terhadap tatanan jahiliyah yang ada. Sebut saja, Ali bin Abi Thalib (8 tahun), Zubair bin Awwam (8 tahun), Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun), Al Arqam bin Abi Al Arqom (12 tahun), Abdullah bin Masud (14 tahun), Saad bin Abi Waqqash (17 tahun), Jafar bin Abi Thalib (18 tahun), Zaid bin Haristah (20 tahun), Mushab bin Umair (24 Tahun), Umar bin Khattab (26 tahun, juga Abu Bakar Ash Shidiq (37 tahun) ketika awal mula tampil sebagai pembela Islam.
Mereka semua telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan dan perubahan. Di belahan bumi mana pun, termasuk di Indonesia, pemuda sering kali mejadi ikon dari perubahan tersebut. Terlepas dari seperti apa bentuk perubahan itu. Saking besarnya potensi yang dimiliki oleh pemudaΒ sampai-sampai Bung Karno pernah mengatakan, "beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soempah Pemoeda: Pertama, - Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe Toempah Sarah indonesia. Kedua, - Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia. Ketiga, - Kami poetra dan poetri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia.
Secara historis, paradigma pemikiran dan energi yang menggerakkan para pemuda itu beragam bentuknya. Ada yang bercorak nasionalis, sosialis, religius, atau pun gabungan dari corak-corak dari semua itu. Semuanya mewakili 3 ideologi yang ada di dunia saat ini, yaitu Kapitalisme, Sosialisme (serta sosdem), dan Islam.
Di negeri ini pernah ada beberapa kejadian monumental yang sempat mewarnai sepak terjang para pemuda dalam kancah kehidupannya. Tercatat: angkatan 45, mereka bersama-sama para sesepuhnya berhasil mengusir penjajahah Belanda yang telah lama menduduki Indonesia, kemudian disusul Angkatan 66 di mana mereka juga menjadi pelopor atas penggulingan Komunisme. Dan, terakhir, bagaimana kita tahu, pemuda Angkatan 98 dengan begitu heroiknya sukses mengakhiri kekuasaan Rezim Orde Baru saat itu.
Di tengah beberapa corak pergerakan pemuda yang ada tentunya corak pemuda yang berbasis Ideologi Islam adalah pilihan yang paling tepat dan pilihan akal sehat. Hal ini dikarenakan, pertama, merupakan tuntutan Aqidah dan syariah sebagai ummat Islam. Sebagaimana Allah SWT memerintahkan kita untuk menerima Islam secara keseluruhan (kaffah) dan bukan setengah-setengah. Kedua, Dengan perubahan ini, kesejahteraan, kenyamanan, serta kemuliaan ummat akan benar-benar terwujud.
Bagi para pemuda pencetus Sumpah Pemuda, mungkin acungan jempol untuk semangat mereka. Namun, semangat saja tidak cukup. Tetap saja hal ini tidak bisa memberikan kebangkitan yang hakiki bagi Indonesia. Dengan semangat nasionalismenya, Timor Timur lepas, Aceh menggugat cerai terhadap Indonesia, begitu juga beberapa daerah lain, seperti Papua dan Maluku.
Hal ini disebabkan semangat ikatan ini hanyalah bersifat temporal dan cenderung berubah-ubah. Punya potensi meningkat ketika menerima ancaman dari luar. Namun, ketika ancaman itu telah pergi (penjajah Belanda misalnya) semangat nasionalisme itu pun ikut pergi.
PR Besar Para Pemuda
Pekerjaan rumah (PR) besar harus dipikul oleh genarasi muda saat ini, salah satunya dikarenakan Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Bagaimana tidak. Meskipun penjajah Belanda telah pergi namun hukum dan undang-undangnya masih tetap bercokol di negeri ini. Walhasil, banyak yang seharusnya kekayaan alam milik rakyat malah dikuasai oleh para tuan menir baru (Barat).
Kondisi moral termasuk para remajanya begitu memprihatinkan. Situasi keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang juga belum memuaskan. Bahkan, Dr Helfferick pernah mengatakan, bahwa kita ini adalah 'eine nation kuli und kuli enter den nationen': bangsa kuli dan kulinya bangsa lain (Meutia Hatta: 2008).
Kini tumpuan satu-satunya negeri ini hanyalah pada Ideologi Islam setelah gagalnya Sosialisme (Orde Lama), Kapitalisme (Orde Baru sampai sekarang). Para pemuda kembali diharapkan menjadi pelopor perubahan. Perubahan yang bukan dengan coba-coba alias spekulasi namun perubahan yang benar-benar sudah teruji dan terbukti selama berabad-abad mampu memberikan kepuasan hati.
Hanya orang yang tidak paham realitas sejarah dan hatinya sudah diselimuti kedengkian terhadap Islam saja yang tidak mengakui keberhasilan Islam dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. TW Arnold misalnya, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah.
Dia menyatakan, sekali pun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen. Itulah pengakuan yang jujur dari orang-orang barat itu sendiri.
Kini Indonesia butuh perubahan sekali lagi dan untuk yang terakhir kali, yakni perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, perubahan ke arah Islam. Perubahan dengan jalan Islam. Islam yang rahmatan lil 'alamin. Panutan kita bukan orang seperti Karl Marx, Mahatma gandhi, Hugho chaves, Ir Soekarno, atau aktivis muda Idealis Soe Hok Gie.
Namun, panutan kita adalah Muhammad SAW. Kita ingin seperti Ali bin Abi Thalib yang begitu gagah berani menjadi pembela agama Allah. Kita ingin seperti Thariq bin Ziyad sang pembebas Andalusia. Kita juga ingin seperti Muhammad Al-Fatih seorang pemimpin muda dari pasukan penakluk kota Konstatinopel yang dalam pidatonya (sebelum penaklukan) mengatakan: "Wahai semua pasukan, kalian harus menjadikan syariat di depan mata kalian".
Yang dengan izin Allah akhirnya berhasil menjalankan misinya. Karena, kita adalah pemuda Islam. Allahu Akbar!
Ali Mustofa
Gang Nusa Indah Ngruki Cemani Grogol Sukoharjo
alie_jawi@yahoo.com
085728670098
Direktur Rise Media Surakarta.
(msh/msh)











































