Kehilangan 'Kuncen' Simbah Maridjan

Kehilangan 'Kuncen' Simbah Maridjan

- detikNews
Kamis, 28 Okt 2010 17:33 WIB
Kehilangan Kuncen Simbah Maridjan
Jakarta - Siapakah yang sesungguhnya percaya bahwa hubungan antara magnet dan arus listrik adalah menuruti apa yang disebut Faraday dengan kaidah Tangan Kanan? Adakah mata Faraday melihat, dan kita tidak melihat? Yang pasti Faraday adalah mengarang, melakukan intrepetasi tentang 'gejala' yang ditemukannya.

Ketika dia dituntut harus menularkan apa yang diyakininya, dia perlu memutar otak kemudian untuk menggambarkannya dalam simbol-simbol lebih mudah dicerna. Bagaimana sesungguhnya dia melihat dia sebenarnya tidak melihat. Untuk menghitungnya kemudian butuh sebuah konstanta. Konstanta ini mewakili apa yang sering ditemui oleh ilmuwan ketika mencoba menyelidikinya. Karena alam ternyata penuh dengan ketetapan.

Dia tetap dan tidak berubah. Karena, ada banyak sesuatu yang tetap ditemukan. Ilmuwan butuh simbol yang mewakiilinya agar mudah. Rho, Phi, Coulomb, bukanlah sebenarnya diciptakan. Dia hanya ditemukan. Dan, belum tentu pasti benar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi, bagaimana wajah alam sesungguhnya. Anda harus memiliki 'madzab' untuk melihatnya. Anda perlu belajar dengan para para imam penemunya, dan mempercayainya untuk sementara. Anda harus mau tidak mau mengikuti dahulu bahwa arus, energi, listrik, cahaya, hydrogen, oksigen, magnet, dan lain-lain disimbolkan dan diberi ketetapan-ketetapan tertentu.

Wajah sebenarnyanya tersembunyi. Konstanta sebenarnya adalah Tuhan yang tahu. Para penemu hanya memberikan pendekatan-pendekatan untuk mempermudah mengenalnya. Jadi, anda jangan terlalu percaya begitu saja. Apalagi mereka cuma manusia biasa.

Karena wajahnya tersembunyi yang kita 'nikmati' hanya gejalanya. Sudah pasti memberikan intrepetasi yang berbeda. Para ilmuwan tidak mungkin bersepakat begitu saja. Dia harus berspekulasi, membangun hipotesa, dan mengujinya. Pada akhirnya 'madzab' siapa gerangan yang lebih mendekati kebenarannya.

Tidak berbeda dengan Mbah Maridjan. Apakah Mbah Maridjan tidak percaya dengan seismograf? Mbah Maridjan tidak mengakui legitimasi bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono sudah berganti? Pertanyaan sulit. Dan, mungkin tidak terlalu dirisaukannya. Karena, Simbah Maridjan begitu 'setia' dengan apa yang ditanamkan kepadanya sejak dahulu oleh para pendahulunya.

Jangan-jangan Mbah Maridjan lebih patut disandingkan dengan para penemu seimograf dan ahli ilmu geologi. Mbah Maridjan jangan-jangan sudah pada tahap berinteraksi. Dan, tidak sekedar membaca 'alam'.

Kesemua ilmuwan sebenarnya dalam kesepakatan yang sama, 'alam itu berbicara dan hidup'. Alam itu bereaksi. Al Quran malah sering menggambarkan alam semesta, bumi, gunung, langit itu bisa menolak, protes, datang, dan pergi. Intrepetasi Mbah Maridjanlah yang kemudian oleh orang 'modern' di bawah levelnya, menuduhnya gila, kolot, dan 'ndableg'.

Mendengar pinuturnya, Mbah Maridjan sering menggambarkan Merapi dengan seorang Kyai. Yang harus patut didengar dan dilayani. Walaupun secara tidak langsung beliau juga selama ini yang jadi dasar penduduk untuk mengambil 'keuntungan' Merapi.

Ini lho yang sebenarnya dikatakan Allah dengan Sakhoro, 'Wa Sakhoro lakum fiisamaawaati wa maa fil ardi ... ' Sesungguhnya ditundukkan untukmu apa yang ada di langit dan bumi. Menundukkan itu berarti mengambil manfaat dengan mengikuti hukum-hukumnya. Karena, hukum-hukum yang berlaku pada alam bukan kemauan dia. Dia sudah ditetapkan untuknya.

Kehilangan Mbah Maridjan seperti kehilangan library. Kehilangan literature, di mana manusia bisa membangun protokol komunikasi yang fair dengan Merapi. Dia adalah sebenarnya 'kuncen'. Pembuka komunikasi, interface, dan mediasi.

Apakah Mbah Maridjan bisa salah dan angkuh? Walaupun itu bagian yang tidak terpisahkan dari sisi manusia, tetapi jika itu begitu menguasainya, pulung 'kuncen' itu tidak akan berlangsung lama menyertainya. Penduduk sekitar merapi juga tidak sebodoh yang kita bayangkan. Tidak mungkin hanya sekedar percaya hanya karena memegang sertifikasi Sultan sebagai Kuncen Merapi.

Dia dimonitor 7 kali 24 jam oleh umatnya dan ini sungguh amanah berat sepanjang hidupnya. Bisakah salah prediksinya tentang Merapi? Bisa jadi. Karena, dia tidak lebih baik dari Faraday yang butuh manusia-manusia lain untuk membenarkan intrepetasinya. Tetapi, kesalahan apa pun yang Mbah Maridjan lakukan, sebenarnya hanya karena serta-merta dia hanya bisa 'sujud' pada 'Keagungan Yang Sebenarnya' yang di luar kendalinya dan lebih besar atas yang diketahuinya.

Saptadi Nurfarid
Villa Mutiara Gading C9/04 Bekasi
saptadi@yahoo.com
08551000727



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads