Atas dasar fakta tersebut pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan Swasembada Dagang 2014. Program Swasembada Daging 2014 merupakan kelanjutan dari kegagalan Program Swasembada Daging 2010. Hal ini menarik untuk kita kaji lebih lanjut agar program yang mulia ini terwujud tidak hanya menjadi nilai tawar dalam peraduan politik tanah air.
Perlu kita ketahui beberapa kendala yang menyebabkan gagalnya swasembada daging 2010. Perhatikan saja dua program besar Departemen Pertanian (Deptan) atau Kementan untuk menggenjot swasembada daging. Pertama, akselerasi program perbaikan teknologi IB (inseminasi buatan) dan teknologi pakan. Kedua, pengembangan sentra produksi sapi potong lokal dan pembangunan sentra produksi sapi potong baru.
Program yang pertama ditujukan meningkatkan angka kelahiran, mengurangi tingkat kematian, meningkatkan berat pedet lahir, berat karkas per ekor, mutu daging, dan efisiensi produksi untuk meningkatkan daya saing daging dalam negeri. Pendekatan program di atas masih memposisikan peternak sebagai objek.
Peternak dijadikan sebagai "mesin produksi" untuk pencapaian tujuan program. Padahal, kita ketahui lebih dari 90 persen ternak sapi dipelihara oleh sekitar 6,5 juta rumah tangga di pedesaan dengan pengetahuan peternakan yang minim. Banyak dari peternak sapi potong itu juga telah berusia tua. Dengan tingkat pendidikan lulusan sekolah dasar sehingga pengetahuan mereka pun terbatas. Kondisi ini tentu akan melemahkan sistem organisasi dalam program Swasembada Daging.
Selain itu hal yang penting diperhatikan adalah kurangnya pemanfaatan lahan. Saat ini lahan telantar di Indonesia mencapai 7,13 juta hektar. Salah satu masalah dalam peternakan adalah terbatasnya pemanfaatan lahan potensial sebagai basis budi daya sapi potong. Selain itu kegiatan pembibitan sapi pun belum berkembang karena keterbatasan permodalan di kalangan peternak.
Hambatan-hambatan di atas tentu harus terlebih dahulu menjadi perhatian pemerintah untuk diatasi sebelum masuk dalam tataran teknis program Swasembada Daging.
Beberapa hal penting adalah penguatan organisasi hingga tataran teknis terendah yaitu peternak serta pemanfaatan lahan 7,13 juta hektar sebagai areal peternakan sapi potong. Jika hal penting itu mampu diatasi maka Swasembada Daging adalah keniscayaan bukan hanya angan-angan.
Andi Yekti Widodo
Grugu Wonosobo
andiyektiwidodo@yahoo.com
085219042345
Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Hewan IPB.
(msh/msh)











































