Adanya isu perselingkuhan ini tentu menimbulkan beragam pendapat. Ada yang mengatakan anggota DPR juga manusia sehingga wajar kalau melakukan yang demikian. Ada pula yang mengatakan karena anggota DPR punya kuasa dan harta sehingga diincar oleh banyak wanita. Usulan poligami sebagai solusi pun mengemuka. Bahkan, ada yang esktrim. Salah satu fraksi akan memecat anggotanya bila melakukan selingkuh.
Perselingkuhan itu terjadi biasanya dilakukan secara tidak sadar. Lain dengan melacur yang dilakukan secara tiba-tiba. Dengan demikian perselingkuhan itu pastinya dilakukan dengan orang-orang terdekat yang setiap hari mendamping selama bekerja. Nah, berangkat dari asumsi ini maka yang menjadi "tertuduh" adalah sekretaris, tenaga ahli, dan bisa jadi rekan di partainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DPR sendiri yang juga cantik-cantik. Suasana yang demikian tentu menciptakan sebuah aroma lain. Aroma itulah yang mempercepat proses perselingkuhan.
Tuduhan banyaknya anggota DPR yang selingkuh sebenarnya juga kurang pas. Sebab, banyak anggota DPR yang sekretaris dan tenaga ahlinya adalah laki-laki, dan ada pula yang perempuan namun tidak cantik dan seksi.
Untuk mencegah perselingkuhan mungkin ada beberapa hal yang demikian bisa dilakukan. Pertama, diterapkanya etika pergaulan di lingkungan DPR yang sesuai dengan norma kepatutan. Etika ini bisa diambil dari pelajaran anggota DPR yang
melakukan studi banding ke Yunani yang belajar soal etika.
Wakil Ketia BK Nudirman Munir mengatakan tujuan studi banding untuk mempelajari bagaimana tata acara dalam persidangan, kode etik, dan perilaku seperti merokok di dalam ruangan, izin keluar sidang, berbicara saat rapat, dan sebagainya. Lebih lanjut dikatakan Yunani adalah negara demokrasi tertua. Memiliki badan Kehormatan tertua. Serta, memilika aturan dan tata tertib yang mengatur tata cara dalam persidangan, kode etik, dan perilaku anggota dewan.
Nah, bila studi banding itu benar-benar studi banding dan apa yang diperoleh dari Yunani itu cocok dengan norma dan budaya kita. Ya, kita adopsi tata cara etika parlemen Yunani di DPR.
Kedua, ada salah satu partai Islam, yang sangat ketat menerapkan siapa yang berhak mendampingi anggota DPR. Partai itu juga menerapkan aturan bahwa anggota DPR laki-laki harus memiliki sekretaris dan tenaga ahli laki-laki pula. Nah, yang
demikian bisa dijadikan contoh bagi anggota DPR lain yang berkeinginan kariernya selamat dunia dan akhirat.
Mencegah perselingkuhan tentu suatu hal yang penting. Sebelum menjadi arang atau penyesalan anggota DPR bisa belajar dari kasus Yahya Zaini dan Max Moein. Perselingkuhan yang aibnya terbuka itu mengakhiri karier mereka sebagai seorang
politisi.
Ketika aib itu terbuka yang paling dirugikan anggota DPR. Selain kariernya habis ia juga akan dikucilkan. Dampak perselingkuhan lebih menyangkitkan daripada korupsi. Banyak koruptor selepas dari penjara mereka tidak malu tampil di hadapan masyarakat umum. Namun, mereka yang berselingkuh seumur hidupnya akan tetap mengasingkan diri.
Lihat saja Yahya Zaini sampai saat ini tidak ketahuan rimbanya. Bila anggota DPR berada pada pihak yang rugi ketika aib selingkuhnya dibuka lain halnya dengan pihak yang diselingkuhi. Perselingkuhan itu justru bisa menjadi modal popularitas mereka. Lihat saja Marie Eva. Dirinya menjadi popular bahkan sempat digadang-gadang menjadi calon Wakil Bupati Sidoarjo Jawa Timur.
Demikian pula kalau kita menyimak kasus yang terjadi antara Aida Saskia dengan Zainuddin MZ. Setelah Aida Saskia mengatakan apa yang dialaminya popularitasnya melompat. Ia banyak ditawari main film dan sering muncul di berbagai media massa.
Sementara bagi dai sejuta ummat apa yang dikatakan Aida itu membuat dirinya tercoreng dan menenggelamkan dirinya dalam pergaulan masyarakat. Dari sini sebenarnya ada pihak-pihak yang dijebak untuk berselingkuh. Jebakan ini digunakan untuk menaikan popularitasnya atau adanya kepentingan politik. Baik untuk dirinya sendiri atau orang lain. Sehingga, menahan hawa nafsu melakukan perselingkuhan merupakan sebuah kewaspadaan bagi pihak-pihak yang diincar yang
hendak dijadikan batu loncatan.
Dari semuanya bisa disimpulkan bahwa sebenarnya perselingkuhan bisa dilakukan oleh siapa saja. Mulai dari masyarakat biasa, pejabat pemerintah, kepala daerah, anggota DPRD, anggota DPR, tentara, polisi, menteri, bahkan presiden sekali pun. Mereka melakukan perselingkuhan dilandasi oleh banyak hal. Mungkin merasa dirinya hebat menjadi anggota DPR yang mempunyai harta dan kuasa sehingga mampu membeli apa saja termasuk wanita. Namun, perselingkuhan biasanya lebih dipicu mengumbar hawa nafsunya.
Permasalahannya perselingkuhan itu akan menimbulkan dampak yang buruk bila yang melakukan adalah para pejabat atau orang yang ditokohkan. Oleh sebab itu apabila menjadi pejabat atau tokoh masyarakat sebaiknya harus menampilkan citra yang baik dan bisa menjadi tauladan bagi semua. Para pejabat harus bisa menahan diri dari keinginan melakukan perbuatan di luar nilai-nilai yang sudah disakralkan.
Ardi Winangun
Matraman Jakarta Timur
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503
(msh/msh)











































