Masih dalam kondisi ngos-ngosan karena lelah si Atlet Palestina ini menjawab: "ah, gampang. Ketika start dimulai, saya membayangkan ada tentara Israel yang dengan senjata terhunus mengejar saya dari belakang!"
Rumus Humor
Nah, petikan humor politik ini dinukil dari buku Melawan dengan Lelucon terbitan Majalah Tempo edisi Tahun 2000. Dalam buku yang bisa membuat terpingkal-pingkal itu Gus Dur memberikan pelajaran berharga. Bahwa humor politik tak cuma alat yang efektif untuk melawan. Tetapi, sekaligus bisa menjadi wahana guna mengejek dan mengolok-olok (pihak yang dianggap lawan atau tak disukai).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukankah kita sudah sedemikian lelah beradu wacana dengan aktivitas politik para legislator kita? Dan, mengapa tidak memilih untuk merawat akal sehat. Misalnya dengan melontarkan lelucon? Seperti kata Gus Dur, bahwa lelucon politik bisa efektif menjadi alat untuk "melawan-mengejek" pihak di seberang.
Meralat Judul
Misalnya melalui ejekan yang sudah agak basi ini: Seorang redaktur koran nasional gemetaran setengah mampus, lantaran mendapat telepon ancaman dari penguasa, atas berita yang berjudul: Setengah Anggota DPR Melakukan Korupsi.
Segera ia membuat ralat, untuk edisi besok --sebelumnya berdoa secara khusyuk, agar tak terjadi lagi kesalahan penjudulan yang berisiko mendapatkan "telepon ancaman". Inilah judul yang terbit berikutnya: Setengah Anggota DPR Tidak Korup!
Inti pesan dari humor politik tadi sederhana saja. Berisi ejekan tentang perilaku korupsi di Gedung Senayan Jakarta. Lalu bagaimana dengan humor yang berisi olok-olok?
Demi Bangsa dan Negara
Barangkali yang satu ini patut disebut: Seorang anggota DPR dari daerah luar Jawa selalu punya jawaban yang sama untuk semua pertanyaan. Ia, menghadapi situasi apa pun selalu berkata: "Demi bangsa dan negara, saya pasti akan lakukan!"Β Β
Begitu terus, dalam rapat Komisi, Rapat Fraksi, atau bahkan cuma sekedar kongkow-kongkow dengan sesama politisi. Istilah "demi bangsa dan negara" itu berulang-ulang dikatakan.
Terjadilah peristiwa berikut: datang sebuah SMS dari Ketua Fraksi, yang meminta sumbangan untuk donasi bencana alam di Papua. Sigap, si Anggota dewan ini me-replay SMS, dengan kalimat yang ditutup bunyi: demi bangsa dan negara, pasti saya turut menyumbang!
Tak dinyana. Datang lagi SMS Pak Ketua Fraksi, kalimatnya: "Tetapi jumlah sumbangan anda terlalu sedikit, tambah dong!"
Kali ini si Anggota Dewan rada mangkel. Seingatnya ia mentransfer cukup besar yaitu Rp 20 juta, dan itu cukup untuk turut membantu korban bencana. Dengan agak penasaran, ia SMS Ketua Fraksi, sembari bertanya: "Pak, mohon maaf, bukankah sumbangan saya sudah cukup?"
Setengah jam kemudian, datang SMS balasan. "Transfer anda kurang, baru setengahnya. Yang Rp 20 juta itu hanya cukup untuk bangsa, dan yang untuk negara, Anda harus kirim tambahan lagi Rp 20 juta. Si Anggota dewan kontak semaput.
Sudah jelas isi humor baru saja mengarah pada olok-olok. Atas bahasa Anggota Dewan yang terlalu kering. Jauh dari gagasan cerdas, miskin konsep, dan buruk dalam argumentasi. Perdebatan politik di DPR seperti hasil tesis Doktoral Idrus Marham (Sekjen Partai Golkar) adalah perdebatan yang non konseptual.
Angka Studi Banding
Sayang sekali aktivis LSM yang kritis berteriak anti studi banding agak malas berhubungan dengan orang-orang dalam di DPR. Jika mereka gaul sudah tentu akan tahu lebih banyak hal. Misalnya apa saja isi dokumen studi banding yang dibuat oleh para Staf Ahli. Salah satunya tentang daftar pertanyaan selama studi banding dilakukan, agenda kunjungan, dan yang paling penting adalah "berapa banyak duit yang bisa diperoleh".
Nah, daripada sibuk-sibuk mempelajari segala sesuatu tentang negara yang akan dikunjungi Anggota Dewan jauh lebih tertarik pada urusan yang terakhir itu. Jumlah rupiah atau dolar yang segera beralih tempat (dari rekening negara ke rekening pribadi anggota).
Terjadilah dialog, antara Anggota Dewan dan Staf Ahlinya.
Anggota Dewan: "Coba kamu hitung, mana lebih banyak, angka untuk kunjungan kerja ke daerah atau ikut studi banding?"
Staf Ahli: "Sudah saya pelajari, Pak. Kalau angka pasti lebih banyak untuk kunjungan kerja ke daerah".
Anggota Dewan: "Bagus, kalau gitu, kamu agendakan saya hanya ikut kunjungan kerja saja, studi banding ke luar negeri dibatalkan. Jangan lupa, bikin press release, bilang saya lebih mengabdi untuk daerah, daripada ikutan studi banding ke negara orang?"
Besoknya, si Anggota kalap. Ia mendapat kabar dari koleganya, bahwa jauh lebih menguntungkan ikut studi banding ke luar negeri, daripada berlelah-lelah ikut rombongan ke daerah. Sontak dengan murka si Anggota ini menelepon Staf Ahlinya:
Anggota Dewan: "Kamu bagaimana sih, kok bilang ke saya lebih banyak angka untuk kunjungan kerja ke daerah, padahal kawan aku bilang lebih enak ikut ke luar negeri. Coba hitung lagi dengan rinci".
Staf Ahli: "Sudah benar kok, Pak. Memang kalau kunjungan ke daerah angkanya banyak, tapi dalam bentuk rupiah. Sementara kalau ke luar negeri angkanya jauh lebih sedikit, tapi nilainya dollar?"
Anggota Dewan: !#$%@!#$!@
Endi Biaro
Balaraja Tangerang Banten
rendi_biaro@yahoo.co.id
082111425279
(msh/msh)











































