Kekerasan di Keseharian

Kekerasan di Keseharian

- detikNews
Rabu, 13 Okt 2010 08:58 WIB
Kekerasan di Keseharian
Jakarta - Menyedihkan kalau kita memperhatikan kondisi masyarakat kita akhir-akhir ini berita "kekerasan" silih berganti terjadi di berbagai pelosok negeri ini. Seolah-olah sudah menjadi kelaziman menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Seolah-olah masyarakat sudah lupa dengan budaya-budaya luhur kita.

Budaya nenek moyang kita, musyawarah mufakat untuk menyelesaikan semua permasalahan, budaya saling menghormati, budaya mengutamakan kepentingan bersama, nilai-nilai luhur ini seolah-olah telah lenyap dari keseharian kita. Ada apa dengan kita?

Tidak Adanya Keadilan
Keadilan sekarang menjadi barang yang langka. Masyarakat kita sudah terlalu banyak disuguhi "ketidakadilan" ini. Baik dari segi ekonomi, politik, hukum, maupun sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana beban hidup tiap hari bertambah berat di sisi lain para pejabat kita mendapat fasilitas yang "wah" untuk ukuran masyarakat kita. Anggota legislatif bisa dengan mudah mendapat dana yang begitu besar untuk studi banding ke negeri orang berbanding terbalik dengan pembagian BLT yang berdesak-desakkan dan memakan korban.

Ketidakpastian hukum yang sering menjadi konsumsi media menjadi hot topic bagi masyarakat sehingga kepercayaan terhadap hukum dan perangkatnya sudah mencapai titik nadir. Jadi, masyarakat lebih suka bermain sebagai hakim. Ini sebagian kecil saja dari banyak ketidakadilan lainnya.

Budaya Kekerasan di Keseharian
Secara tidak sadar sehari-hari masyarakat disuguhi adegan-adegan "kekerasan". Baik kekerasan fisik maupun non fisik. "Kekerasan" yang ditunjukan oleh pejabat-pejabat kita dengan melontarkan kata makian dan hinaan terhadap lawan bicara ketika bersidang. Mempermaikan hukum sehingga terjadinya ketidakadilan ini juga merupakan "kekerasan" secara tidak langsung.

Kita pun begitu. Coba kita lihat tiap hari di jalanan. Pengguna kendaraan saling serobot, ugal-ugalan, sehingga jamak saling umpat sampai adu fisik pun sering kita jumpai. Mengapa terjadi demikian? Karena. kita merasa lebih dari orang lain. Budaya menghargai orang lain pun sudah kalah dengan egoisme.

Yang pejabat merasa lebih terhomat dari rakyat. Padahal kalau tidak ada rakyat tidak ada pejabat. Yang bermobil merasa lebih dari yang bermotor sehingga merasa harus didulukan di jalan. Yang bermotor merasa lebih dari yang berjalan. Maka trotoar pun menjadi arena balap. Yang berdemo merasa lebih baik dari yang didemo sehingga merasa pantas mengeluarkan kata-kata hinaan, cacian.

Anak-anak kita pun akrab dengan budaya kekerasan. Di sekolah ada pengajar yang memperlihatkan kekuatan otot dengan dalih disiplin, mendidik, dan lain-lain. Maka kita saksikan murid pulang ke rumah dengan luka memar.

Di rumah anak kita disuguhi budaya otoriter orang tua. Tontonan kekerasan yang tiap hari disaksikan secara berulang.

Untuk menyebarkan kebaikan pun kita banyak menggunakan "kekerasan" dengan dalih mendidik seolah-olah sah-sah saja kekerasan fisik kepada siswa pun digunakan. Dengan dalih memberantas terorisme, memberantas kemaksiatan pun, seolah-olah sah saja kekerasan fisik digunakan. Atau ketika kelompok tertentu merasa keyakinannya paling benar pun bisa "memaksakan" keyakinannya. Seolah-olah pintu dialog musyawarah ditinggalkan dan sudah bukan zamannya lagi. Ironis.

Maka tidak ada jalan lain budaya "kekerasan" ini harus diminimalisir dengan menggali lagi nilai-nilai luhur bangsa kita. Pejabat harus memberikat contoh yang baik dan bekerja keras untuk melayani dan mensejahterakan rakyat. Hukum harus ditegakkan. Masyarakat pun harus sabar dalam menaati peraturan. wallahualam.

Abi Zuhdi
Perumahan Pamulang 2 Blok D 40/19 Tangerang Selatan
masary74@yahoo.com
081585443886



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads