Jelas sekali kemunduran ini merupakan faktor penting yang akan dan harus menyadarkan diri kita serta para pelaku kebaikan untuk melakukan pembenahan, perbaikan, pembaharuan, dan pemolesan lebih baru terhadap setiap gerakan bangsa. Intinya ingin mengembalikan kembali bangsa ini kepada posisi yang telah mereka letakkan secara benar yaitu kemerdekaan serta kemajuan.
Setiap pelaku kebaikan sejak negara ini merdeka hingga dekade 90-an telah berusaha melakukan upaya-upaya cerdas untuk meneliti lebih jelas apa sebenarnya pangkal utama kelemahan serta kemunduran bangsa ini? Mengapa sampai sebagian besar bangsa lebih percaya kepada pemikiran dan budaya yang berasal dari orang lain daripada harus meyakini kebudayaan sendiri yang sejatinya lebih kaya akan makna dan lebih mampu diandalkan dalam rangka menghadapi setiap gerakan dan tantangan baik dari luar. Terlebih dari dalam?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangsa ini telah jatuh ke dalam jurang kemerosotan dan kehancuran dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa wilayah negara harus bertekuk lutut di bawah kekuasaan dan hegemoni bisnis negara-negara lain. Sudah pasti kepedihan dan kesedihan merupakan imbas dari hegemoni bisnis tersebut.
Kehilangan sumber daya alam dalam jumlah yang cukup besar, kehilangan kekuatan, otoritas ekonomi, melonjaknya angkatan kerja tanpa skill, pengalaman teknikalisasi tersendat dan bangsa ini harus kehilangan unsur-unsur kemandirian lainnya adalah sebagai akibat dari hegemoni bisnis yang dilakukan oleh negara-negara lain hingga saat ini.
Kemunduran bangsa ini bisa dilihat dengan memandang kembali akar sejarah beberapa tahun ke belakang yang selalu menyertai bangsa ini. Meskipun tidak semua faktor yang telah menyebabkan kemunduran bangsa ini bisa kita lihat dengan jelas. Akan tetapi, tentu saja semua faktor kemunduran tersebut akan terus membawa bangsa ini pada hilangnya kesejahteraan dan kemunduran jika tidak ditemukan.
Kenyataan sejarah dan masa lalu telah membuktikan bangsa ini pernah mengalami kejayaan dan masa-masa keemasan. Pernah menjadi pusat perdagangan dan peradaban serta kegiatan kemanusiaan lainnya. Para sejarawan mencatat awal kemunduran bangsa ini adalah ketika mulai meluasnya kekuasaan yang dikendalikan oleh orang-orang politik individualis. Yang pada gilirannya telah menciptakan para pemegang kekuasaan dan para pegawai negara dari mulai nasional sampai ke daerah yang korup, merebaknya manipulasi, menjamurnya korupsi, dan berlebih-lebihan dalam memamerkan kemewahan.
Mereka harus rela melepaskan beberapa asset negara, beberapa pulau, dan beberapa daerah dengan kandungan sumber daya alam yang cukup besar serta tempat-tempat strategis lainnya. Karena munculnya sikap pengecut dari sebagian pegawai negara mereka lebih baik bertahan terhadap "rongrongan hegemoni bisnis" sambil menikmati debunya daripada harus melakukan perlawanan apalagi harus mengorbankan harta, jabatan, demi kejayaan dan kehormatan bangsa. Mengapa?
Karena kecintaan terhadap dunia, harta, jabatan telah menjadi standar pijakan mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki sifat-sifat yang telah diwariskan oleh para pendahulunya yaitu sikap berani, "Merdeka atau Mati".
Tentu juga menjadi faktor terpenting bagi kita dan para pelaku kebaikan untuk memahami dengan benar apa sebenarnya penyebab dari kemerosotan ini? Selain faktor tadi beberapa tahun terakhir ini kita dikejutkan dengan munculnya beberapa kasus terorisme, peledakan, dan bom bunuh diri, munculnya gerakan-gerakan separatis, anti persatuan, yang sudah tentu dan dipastikan merupakan penyebab melemahnya kekuatan dan kesatuan bangsa.
Muncul dan berkembangnya berbagai gerakan separatis ini menjadi komplikasi yang memperparah kemunduran bangsa. Walaupun pada kenyataannya perpecahan sendiri sudah terjadi di awal kepemimpinan Presiden Soeharto namun dampaknya dapat dirasakan di era reformasi ini.
Sebagian anak bangsa telah jatuh ke dalam doktrin-doktrin yang sebelumnya sama sekali begitu asing di dalam kehidupan bernegara dan ajaran murni agama. Tidak sedikit dari mereka mengadopsi faham-faham sesat hingga kepada keyakinan sempit dan meniadakan Tuhan dalam kehidupan sekali pun. Jika pun ada Tuhan dan agama hanya dijadikan bedak dan kedok saja.
Semakin banyaknya pihak-pihak yang tidak percaya kepada kekuasaan negara ini dan merebaknya anti simpatisan dati kelompok-kelompok yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan. Mereka adalah kelompok-kelompok yang tersakiti oleh perlakukan penguasa. Sementara sebagian besar para pemegang kebijakan dikuasai oleh mereka para penganut chauvinism akut, lebih senang memamerkan kejayaan partainya, lebih peduli terhadap kelompoknya saja.
Sejak beberapa tahun terakhir ini Negara Kesatuan Republik Indonesia disesaki dan dikuasai oleh orang-orang dengan pemirian sempit chauvinis yang hanya melihat kepada kekuatan pribadi serta golongan semata. Sampai sekarang sifat seperti ini masih kerap diperlihatkan oleh elit-elit politik negeri ini. Mereka lebih konsern terhadap pemolesan bendera partai daripada harus bekerja sama untuk membawa bangsa ini kepada kemandirian dan kemerdekaan. Lahirlah asimilasi antara peradaban Bangsa Indonesia dengan kebiadaban chauvinis.
Ketika kemerosotan dirasakan oleh bangsa ini lalu memuncul beberapa pelaku kebaikan dan kaum reformer untuk menyelamatkan bangsa dari kemunduran dan penderitaan. Sungguh mulia. Namun, selain dari munculnya para pelaku kebaikan muncul juga para pelaku kebaikan gadungan dengan pemikiran-pemikiran dan konsep yang tidak ajeg sambil menyodorkan solusi dan gagasan tetapi kenyataannya gagasan mereka itu lebih tetap diberikan kepada orang yang ingin tetap hidup di dalam kubang penderitaan.
Para pelaku kebaikan gadungan ini lebih bangga mengkampanyekan pemikiran-pemikiran chauvinis daripada harus menyajikan gagasan pemikiran berlandaskan nilai-nilai kebangsaan. Mereka kadang lebih fasih membicarakan nilai-nilai orang lain daripada harus percaya pada kekuatan diri sendiri.
Muncul tiga kelompok yang ingin mengembalikan bangsa ini kepada kejayaan;
1. Solusi pemikiran gadungan. Mereka mengadopsi pemikiran-pemikiran yang tidak tepat diterapkan terhadap bangsa ini, pemikiran ini berdasarkan pada budaya materialism serta sekuler, meniadakan Tuhan dalam setiap pemikiran.
2. Solusi Apologi Sejarah, yaitu dengan meninabobokan diri sendiri kepada kejayaan masa lalu tanpa mau melihat perbedaaan ruang dan waktu, pembantahan terhadap pemikiran-pemikiran kekinian meskipun bersesuaian dengan budaya bangsa dan ajaran agama yang mereka anut.
3. Solusi kemandirian bangsa, yaitu ingin mensinergikan antara peranan wahyu, budaya bangsa, dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa ini.
Kehilangan visi dan kekosongannya dari bangsa ini telah membawa malapetakan baru. Selain harus menghadapi gempuran hegemoni bisnis dan politik juga mereka secara tidak sadar harus melawan pemikiran mereka sendiri yang tidak ajeg dan bersesuain dengan etika kebangsaan. Bahkan, harus mengimpor pemikiran-pemikiran orang lain yang akhirnya dengan sukses membawa bangsa ini pada tiang gilleotine.
Mereka cenderung memandang sebelah mata terhadap budaya bangsanya sendiri. Pemikiran yang berakar pada budaya bangsa dianggap sebagai pemikiran-pemikiran kuno sebagai konsep yang lapuk di makan zaman. Mereka sama sekali tidak memiliki pijakan orisinil untuk menempatkan diri mereka secara benar.
Gerakan-gerakan ini dilandasi oleh pengambilan dan pengadopsian pemikiran bangsa lain terus berkembang secara pesar dan menciptakan dimensi imitasi di wilayah Nusantara. Mereka semakin menjamur. Motif terpenting dari gerakan ini adalah mereka ingin menghapuskan secara sistematis budaya-budaya bangsa dengan alasan asimilasi. Menginginkan munculnya bangsa baru pada imitasi.
Negara yang disesaki oleh pelaku kebaikan gadungan ini sama sekali tidak akan bisa membangun kekuatan baru. Tidak akan membangun kekuasaan baru. Ini hanya akan menjadi kepanjangan tangan dari bangsa yang pernah menjajah Negara ini. Status bangsa tetap akan menjadi kodomain bangsa terjajah.
Bangsa ini akan memasuki wilayah tirani kekuasaan walaupun berpoleskan demokrasi. Premanisme masuk ke parlemen bukan semata konotasi. Namun, memang para preman bisa memasuki parlemen-parlemen mulai dari nasional hingga daerah. Bangsa kita akan menjadi bangsa sakit padahal kenyataannya lebih parah daripada orang yang sedang sakit.
Bangsa ini merupakan tempat bertemunya dan berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat tentu saja komposisinya lebih kompleks dan rumit dari sekedar individu. Akan tetapi sebuah bangsa tentu saja memiliki pandangan, nilai, dan keyakinan yang sama. Adalah mustahil jika kita memaksakan pandangan dan sebuah nilai kepada sebuah bangsa jika nilai tersebut tidak sejalan dengan bangsa itu.
Akar budaya begitu berbeda. Bagaimana mungkin budaya yang bersebrangan dengan nilai-nilai bangsa bisa diterapkan di dalam bangsa ini? Bangsa akan tetap berada di dalam kehampaan dan kelemahan ketika pengadopsian pemikiran yang berasal dari bangsa lain tanpa difahami secara benar.
Solusi tepat adalah solusi kemandirian bangsa. Solusi ini berasal dari pemikiran dan kemurnian budaya bangsa, keyakinan, nilai, dan ide-ide bersumber pada budaya bangsa ini. Bangsa ini lebih membutuhkan tindakan-tindakan nyata, pertumbuhan, dan kematangan intelektual serta kesadaran untuk memotivasi diri menyambut kemajuan dan kebangkitan. Potensi-potensi yang tersembunyi secara nyata harus direalisasikan. Baik oleh individu terlebih oleh bangsa ini.
Lebih jelasnya tidak cukup bagi kita menganggap bahwa bangsa ini hanya terbatas pada pergolakan sejarah semata tanpa mau memikirkan kekinian. Menempatkan budaya bangsa hanya merupakan bagian dari sejarah hanya akan membawa kita kepada pemahaman yang sempit tentang budaya bangsa sendiri.
Adanya anggapan penerapan budaya bangsa hanya pada esensi pun adalah sebuah kekeliruan, karena menurut hemat saya, nilai-nilai harus direalisasikan dalam tindakan nyata, bukan sekedar teori tanpa praktik. Pendekatan kemandirian bangsa akan membawa bangsa ini pada kehidupan real dan harus berhadapan dengan permasalahan nyata yang sedang dihadapinya. Kita pun diharapkan memberi pengertian yang jelas tentang keniscayaan untuk menghormati tenpat, ruang, dan waktu yang senantiasa akan berhubungan dengan bangsa ini.
Adalah penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas perubahan manusia di dalam pendekatan kemandirian bangsa ini. Karena, dia sangat berbeda dengan pendekatan terdahulu.
Pendekatan kemandirian bangsa terfokus pada pemenuhan kebutuhan bangsa dan akan memberiikan jawaban yang nyata tentang nilai dan konsep secara utuh dan obyektif. Dalam arti, posisi bangsa ditempatkan di garis depan sebagai pemimpin dan agen untuk menjemput masa depan kemanusiaan.
Pemahaman ini sebanding dengan kondisi zaman. Sebanding pula dengan karakter dan watak bangsa. Artinya segala sesuatu harus dipandang secara utuh. Ini bisa difahami sebagai penggabungan teori-teori budaya bangsa yang diaplikasikan di dalam kehidupan, perkembangan, dan kemajuan zaman. Pemahaman terhadap kemandirian bangsa akan mebawa bangsa ini kepada perubahan baru, struktur baru, dan metodologi baru dalam menyikapi masalah-masalah social, budaya, politik, dan perundang-undangan. Kemajuan akan terlahir.
Warsa Suwarsa
Jl Widyakrama Balandongan Sukabumi
warsa_suwarsa@yahoo.com
0819877136
(msh/msh)











































