Dari sekian calon pemain yang akan dinaturalisasi sudah tercatat beberapa nama seperti Serginho Van Dijk (Belanda), Jhonny Rudolf van Beukering (Belanda), Rafael Guillermo Eduardo Maitimo (Belanda), Jeffry de Vischer (Belanda), Kim Jeffrey Kurniawan (Jerman), Alessandro Trabucco (Italia), Irfan Bachim (Belanda), dan Christian Gonzales (Uruguay).
Langkah menaturalisasi pemain ini beberapa waktu yang lampau hampir pernah dilakukan oleh Nurdin Halid. Ia ingin mendatangkan tujuh pemain asal Brasil ke Indonesia untuk dinaturalisasi.
Langkah naturalisasi ini tentu mendapat banyak pertanyaan. Ada yang pro. Banyak pula yang kontra. Yang pro mengatakan keberhasilan Singapura menjadi macan sepak bola di Asia Tenggara karena naturalisasi. Dan, banyak negara seperti Jerman, Inggris, Perancis, Portugal juga melakukan naturalisasi pemain. Sementara yang kontra menyebut naturalisasi cara pintas untuk meraih prestasi dan sebuah bentuk dari gagalnya pembinaan persepakbolaan yang dilakukan PSSI. Naturalisasi juga dikhawatirkan akan membunuh bibit-bibit muda pemain Indonesia yang sebenarnya cukup banyak.
Naturalisasi memang penting. Namun, negara-negara Eropa melakukannya bukan dengan sebuah langkah yang gegabah. Bukan dilandasi yang penting 'bule'. Namun, merupakan seleksi yang cukup kuat. Menunjukan bakatnya. Serta, sudah lama tinggal di negara itu dan melawan kebijakan antiimigrant. Sementara naturalisasi di Indonesia hanya mengacu yang penting 'bule' tanpa melihat jejak rekam di mana mereka bermain, dan mereka diajak bergabung dengan iming-iming uang.
Jerman melakukan naturalisasi terhadap Samir Khadira, Mezut Oezil, dan Jerome Boateng bukan sebuah langkah yang gampang. Sentimen antiimigrant di negara itu masih kuat. Dulu di Timnas Jerman ada pemain berdarah Ghana, Afrika, yang bernama Gerald Asamoah. Ketika Jerman di bawah pelatih Jurgen Klinsman banyak suporter timnas dan pengurus DFB yang tidak setuju dengan langkah Jurgen Klinsmann memasukan Asamoah ke dalam tim yang dijuluki Panzer itu. Mereka belum bisa menerima pemain dari kaum imigran dan kulit hitam.
Namun, naturalisasi ketiga pemain, Khadira yang berdarah Tunizia, Oezil berdarah Turki, dan Boateng berdarah Ghana, tidak menjadi masalah. Sebab, ketiga pemain itu menunjukan prestasinya saat di Timnas Junior Jerman. Dan, selanjutnya ketiga pemain itu mampu menjadi tulang punggung Timnas Jerman dalam Piala Dunia 2010.
Naturalisasi itu akan menjadi masalah bila pemain itu lebih banyak menjadi pemain cadangan atau tidak menunjukan performance yang hebat saat turun di lapangan. Hal demikian dialami oleh Asamoah.
Demikian pula di Perancis. Sentimen antiimigrant bisa menyebabkan banyak orang keturunan Aljazair, Maroko, dan negara-negara Afrika bekas koloni Perancis tidak bisa menjadi bagian dari nasionalisme Perancis. Namun, karena kelihaian Zidene Zidane, Nasri Samir, Karim Benzema, Eric Abidal, Hatem Ben Arfa, dan pemain lainnya dalam bermain bola maka mereka menjadi bagian dari nasionalisme Perancis dengan menjadi pemain timnas sepak bola negara yang berjuluk Pangeran Biru itu.
Demikian pula Deco. Pemain berdarah Brasil dinaturalisasi oleh Portugal sebab Deco sudah lama menetap di negara itu. Pemain-pemain yang dinaturalisasi itu juga bukan dari klub sembarangan. Semua bermain di liga premier negara masing-masing.
Nurdin Halid beberapa waktu yang lalu memilih naturalisasi pemain dari Brasil mungkin dilandasi Brasil mempunyai kultur sepak bola yang tinggi. Rakyat Brasil dengan sepak bola ibarat seperti ikan dan air. Tidak bisa dipisahkan. Tidak heran bila sepak bola bisa memberi penghidupan bagi kebanyakan kaum laki-laki di Brasil.
Banyak orang Brasil menjadi kaya karena menjadi pemain bola profesional. Menjadi pertanyaan mengapa pemain asing mau dinaturalisasi di Indonesia? Jawaban esktrimnya adalah karena mereka kalah bersaing di negaranya. Ingin bermain di kancah internasional dengan masuk timnas (negara mana pun) dan ingin mencari duit atau pekerjaan.
Tentu setiap pemain bola akan memilih bermain di klub elit dan negara yang elit dalam sepak bolanya. Namun, mereka mau dinaturalisasi di Indonesia ya karena faktor di atas tadi.
Lihat saja pemain yang hendak dinaturalisasi. Jejak rekamnya sangat 'mengecewakan'. Kim Jeffery misalnya. Di Eropa hanya tergabung di FC Heidelsheim. Sebuah klub yang berkompetisi di Verbandsliga Nordbaden Jerman (satu level di bawah divisi 3 Bundesliga). Demikian juga seperti Jhonny Rudolf van Beukering yang bermain di Go Ahead Eagels, Rafael Guillermo Eduardo Maitimo bermain di FC BIT China, serta Jeffry de Vischer di FC Emmen.
Klub-klub tersebut bagi penggemar sepak bola di Indonesia masih asing, tidak tenar, dan menimbulkan pertanyaan berada di divisi berapa dan di negara mana? Dan, kalau kita lihat Kim Jeffery dan Irfan Bachim merumput di Indonesia bukan bermain di klub elit, seperti Persija, Sriwijaya, Arema, Persipura, Persib, namun di Persema Malang.
Lalu, bagaimana kualitas pemain dari Brasil yang datang ke Indonesia? Walau kebanyakan rakyat Brasil mampu menjadi pemain profesional tetapi masing-masing ada kelasnya. Ada yang kelas liga utama, divisi 1, divisi 2, divisi 3, divisi 4, dan tanpa divisi.
Kita sering melihat sesuatu dengan cara gebyah uyah. Kita termakan citra kalau pemain dari Brasil pasti memiliki kemampuan yang bagus. Itu mungkin benar. Tetapi, itu belum tentu. Namun, yang jelas pemain dari Brasil yang memang benar-benar hebat tentu mereka akan bermain di liga-liga Eropa.
Kita tidak tahu dengan sesungguhnya pemain Brasil yang hendak dinaturalisasi apakah kelas divisi 1, divisi 2, atau hanya kelas kampung. Saya tidak negatif thingking. Bisa jadi pemain yang datang ke Indonesia adalah pemain tingkat divisi 2 atau tingkat kampung di Brasil. Alasannya secara geografis Brasil sangat jauh dari Indonesia. Orang-orang Brasil pun juga masih bertanya-tanya di mana Indonesia? Dan, kita pun susah melacak jejak rekamnya secara valid.
Tidak hanya soal kualitas yang kita pertanyakan. Sejauh mana nasionalisme mereka dalam Tim Merah Putih? Pasti nasionalismenya seukuran berapa uang yang akan diterima. Semakin besar uang yang diterima nasionalismenya semakin tinggi. Begitu sebaliknya.
Naturaliasi akan mendapat dukungan dari banyak pihak bila pemain itu berdarah Indonesia dan bermain di klub-klub elit seperti MU, Inter Milan, AC Milan, Bayern Munchen, Barcelona, Real Madrid, Chelsea, Liverpool, dan klub-klub elit lainnya. Adakah orang yang berdarah Indonesia bermain di klub-klub itu?
Diakui memang selama puluhan tahun PSSI tidak mempunyai prestasi yang menggembirakan. Sepak bola Indonesia lebih sering berada pada kondisi yang memprihatinkan. Hal inilah yang menyebabkan munculnya sebuah kerinduan akan prestasi. Untuk meraih prestasi itu maka PSSI kelihatan kalap dan putus asa. Naturalisasi seolah-olah menjadi solusi.
Naturalisasi sebenarnya sebuah fakta bahwa PSSI telah gagal melakukan pembinaan. Gagalnya pembinaan mengakibatkan prestasi sepak bola selalu tak berhasil dalam setiap events. Gagal pembinaan juga berakibat pemain Indonesia mutunya dari hari ke hari tidak pernah beranjak. Begitu-begitu saja. Kalah dengan pemain dari Jepang, Korea, dan Iran, yang pemainnya sudah banyak yang bermain di liga-liga Eropa.
Meski PSSI dan Nurdin Halid ngotot melakukan naturalisasi namun langkah yang demikian juga belum tentu mulus. Sebab, banyak pemain masih ragu-ragu ketika ditanya keseriusan soal naturalisasi. Buktinya, ketika Timnas Indonesia menjelang pertandingan melawan Uruguay dan Maladewa, Jhony Rudolf van Beukering, Tobias Waisapy, Rafael Guilermo Eduardo Maitimo, dan Sergio van Dijk, belum mempunyai paspor Indonesia.
Ardi Winangun
Matraman Jakarta
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503
Penulis adalah Juga Pengamat Sepak Bola.
(msh/msh)











































