Siapa Bilang Ekonomi Indonesia Lesu

Siapa Bilang Ekonomi Indonesia Lesu

- detikNews
Selasa, 05 Okt 2010 17:50 WIB
Siapa Bilang Ekonomi Indonesia Lesu
Jakarta - Sejumlah pengamat ekonomi di televisi kerap menyatakan bahwa ekonomi Indonesia belum juga membaik. Mereka mengapungkan pesimisme bahwa negeri ini tak bisa lebih baik dalam mengelola ekonomi.

Sebagai sebuah masukan dan kritik hal semacam itu boleh-boleh saja. Namun, seharusnya para pengamat lebih fair melihat realitas yang ada sehingga tidak bias dalam menyimpulkan capaian kita. Dugaan ada suatu desain yang terus membentuk opini bahwa ekonomi Indonesia tak akan bisa bangkit.

Kalau ini benar-benar nyata maka nasionalisme kita patut dipertanyakan. Di bawah kendali Menko Perekonomian Hatta Rajasa ekonomi kita makin hari kian kuat dan bertumbuh. Ini bukan asumsi makro melainkan indikator-indikator riil dari sejumlah kegiatan ekonomi di lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti yang tercermin dari hasil riset HSBC Trade Confidence Monitor bahwa volume perdagangan dan permintaan pembiayaan perdagangan di Indonesia kini meningkat atau setidaknya akan berada pada level yang sama untuk satu semester ke depan. Temuan riset menerangkan sebanyak 83% dari responden di Indonesia mempunyai pandangan volume perdagangan akan stabil atau meningkat. Sementara 51% responden berpandangan volume perdagangan akan meningkat.

Indonesia Terbaik Ketiga di Dunia

Terkait kebutuhan pembiayaan perdagangan lebih dari 60% responden di Indonesia berpandangan kebutuhan pembiayaan perdagangan akan meningkat. Hal sama juga akan terjadi untuk akses pembiayaan perdagangan internasional yang dinyatakan oleh hampir 50% responden.

HSBC Trade Confidential Index dilakukan terhadap 5.124 eksportir dan importir di 17 negara di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika Latin, Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Dari 5.124 responden tersebut 300 di antaranya merupakan responden di Indonesia yang berlokasi di Jakarta dan Surabaya.

Dalam survei itu Indonesia tercatat sebagai negara ketiga yang memiliki tingkat kepercayaan tertinggi secara global setelah India dan Uni Emirat Arab. Emerging market cenderung memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi dibandingkan negara maju. Tingkat kepercayaan pengusaha di China dan Vietnam tercatat merosot jika dibandingkan dengan semester I/2010.

Secara umum hasil riset tersebut menunjukkan pandangan global mengenai perdagangan internasional akan tetap berada dalam zona positif. Meskipun ketidakpastian ekonomi di negara maju tetap berlanjut dan ekonomi negara berkembang yang masih fluktuatif.

Paradigma baru dalam perdagangan menunjukkan bahwa negara berkembang akan bertransaksi dengan satu sama lainnya. Perdagangan antar kawasan akan menjadi penanda momentum perdagangan global yang baru.

Ekspor Mobil Meningkat

Selain dari volume perdagangan indikator riil dari bergeraknya ekonomi kita dapat dilihat dari melejitnya volume ekspor otomotif dan manufaktur. Realisasi ekspor mobil dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) pada Agustus 2010 melonjak 122% menjadi 7.279 unit dibanding bulan sama 2009 sebesar 3.269 unit.

Ini terlihat dari lonjakan order dari beberapa wilayah seperti Timur Tengah dan Asean. Bulan September misalnya. Toyota Indonesia mengalami peningkatan order mobil Fortuner sebanyak 1.000 unit ke beberapa negara Timur Tengah. Peningkatan ini dipicu langkah prinsipal, Toyota Motor Corp, yang menghentikan ekspor kendaraan sport utility vehicle (SUV) dari Thailand. Pasalnya daya saing produksi di Indonesia kini lebih baik.

Data lain dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan ekspor mobil hingga Agustus 2010 meningkat 60% menjadi 49.427 unit, dibanding periode sama tahun lalu sebesar 30.858 unit. Sedangkan ekspor mobil secara terurai (completely knock down/ CKD) mencapai 38.238 unit.

Tujuan Investasi
Begitu pun kinerja iklim investasi di tanah air yang ternyata kini justru menjadi tujuan investor global. Sejumlah konglomerat Taiwan baru-baru ini mengunjungi Indonesia dalam rangka membangun tempat produksi di sini.

Menurut mereka Indonesia mempunyai peluang ekonomi besar dan menjadi salah satu dari tiga negara yang paling diminati para pengusaha Taiwan. Saat ini Taiwan tercatat sebagai investor ke delapan terbesar di Indonesia dengan nilai investasi di Indonesia sudah mencapai US$ 13,95 miliar per Maret 2010.

Menteri Ekonomi Taiwan Yen-Shiang Shih mengatakan bahwa Indonesia unggul dalam perdagangan minyak, gas alam, kayu lapis, dan tekstilnya. Bahkan, pertumbuhan PDB Indonesia 2008 - 2009 berada di urutan kedua di Asia Tenggara mengingat tingkat inflasi Indonesia yang rendah sehingga tingkat kepercayaan konsumen dunia meningkat.

Target investasi Taiwan ke depannya untuk menanamkan investasi di sektor otomotif, sepeda, tekstil, peralatan rumah tangga, dan peralatan listrik. Banyak perusahaan di Taiwan yang mulai mengalihkan target lokasi investasinya karena meningkatnya biaya buruh dan hubungan antara buruh dan perusahaan yang sangat ketat di Cina. Shih juga membawa 107 anggota delegasi perdagangan dan investasi untuk mencari dan mengembangkan kerjasama antar kedua negara.

Berbeda dengan perekonomian negara-negara maju di dunia yang diterpa krisis perekonomian Indonesia terus berkembang pesat. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,2 persen di kuartal kedua tahun 2010. Angka pertumbuhan tersebut merupakan yang tercepat sejak krisis ekonomi global dua tahun lalu.

Pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mengubah fokus kebijakan ke arah pertumbuhan jangka panjang. Yakni lewat kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung investasi dengan lebih baik serta mencapai hasil sosial yang lebih kuat bagi seluruh warga Indonesia.

Masuknya arus modal yang kuat dari luar negeri menandai pulihnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia. Selama Juni dan Agustus 2010, arus modal terhitung 7,3 miliar Dolar AS masuk ke Indonesia.

Rika Kartika
Jl Lenteng Agung 32 Jakarta Selatan
rikaarifin@yahoo.com
08176655988

Penulis adalah Alumni Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia (UI).


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads