TNI Tak Lebih dari Sebagai Tukang Jaga dan Dekorasi Negara

TNI Tak Lebih dari Sebagai Tukang Jaga dan Dekorasi Negara

- detikNews
Selasa, 05 Okt 2010 08:49 WIB
TNI Tak Lebih dari Sebagai Tukang Jaga dan Dekorasi Negara
Jakarta - Di jajaran tubuh TNI terjadi pergantian Panglima TNI. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso yang sudah memasuki masa pensiun pada 8 September 2010 telah diganti oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana (KSAL) Agus Suhartono. Agus Suhartono berpeluang besar menjadi Panglima TNI sebab selain rotasi Panglima TNI yang sekarang jatuh pada TNI AL.

Presiden SBY juga mengajukan Agus Suhartono sebagai calon tunggal. Sesuai UU TNI Presiden memang berhak mengajukan calon tunggal Panglima TNI kepada DPR untuk kemudian diuji kelayakan dan kepatutan. Agus Suhartono pada 23 September 2010 pun sudah menjalani uji kepatutan dan kelayakan di Komisi I DPR. Banyak tugas yang harus diemban dan diselesaikannya seperti masalah alutsista dan profesionalisme TNI.

Harus diakui keberadaan TNI selama ini baik dari alutsista maupun profesionalismenya sangat mengecewakan. Kondisi demikian bisa terjadi karena kebijakan politik dalam dan luar negeri yang tidak mendukung sehingga membuat TNI semakin jauh dari profesionalisme dan menjadi tertinggal dari negara lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suatu ketika dalam rapat dengar pendapat antara Panglima TNI Djoko Santoso, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Komisi I DPR RI dinyatakan bahwa dalam anggaran Departemen Pertahanan dan TNI pada tahun 2010 yang totalnya Rp 42,3 triliun. Untuk alutsista hanya 15 sampai 20%. Dengan demikian kalah dengan belanja pegawai yang mencapai 50 - 60% dan belanja barang 20 - 30%.

Dengan anggaran tersebut membuat pupus keinginan untuk membentuk sebuah militer yang tangguh. Pupus sudah untuk membeli alutsista yang modern dan baru. Pupus sudah untuk membeli kapal selam.

Rendahnya belanja alutsista ini menunjukan bahwa sistem pertahanan Indonesia sangat lemah. Langkah ini juga menunjukkan semakin tertinggalnya Indonesia dari negara-negara tetangga yang semakin berlomba-lomba membeli alutsista untuk pertahanannya. Bahkan, negara semisal Korea Utara dan Iran, tak henti-hentinya melakukan uji coba rudalnya sebagai upaya untuk memperkuat sistem pertahanan bangsanya.

Rendahnya anggaran Departemen Pertahanan dan TNI itu mengakibatkan, pertama, menunjukkan Indonesia bukan sebuah negara yang sejahtera. Bila sebuah negara sejahtera otomatis anggaran untuk pertahanannya juga semakin tinggi.

Pada tahun 2004 tercatat perbandingan persentase anggaran pertahanan masing-masing negara di Asia Tenggara dan sekitarnya, terhadap PDB dan APBN: Australia: 2,3 dan 7,13, Brunei: 6,9 dan 17,96, Filipina: 2,2 dan 19,88, Malaysia: 4 dan 9,08, Thailand: 2,8 dan 15,04, Singapura: 5,2 dan 20,97, Indonesia: 1,07 dan 5,72.

Kedua, secara geopolitik kawasan Asia tenggara dikondisikan sebagai wilayah yang aman dan diciptakan untuk aman. Lihat saja SBY. Demi menciptakan rasa aman di wilayah Asia tenggara ia rela tidak menggertak Malaysia meski wilayah NKRI selalu dirongrongnya. Kesepakatan menciptakan aman dan menghindari peperangan dan lebih mendahulukan diplomasi dalam menyelesaikan masalah antar negara secara laten mengakibatkan tidak terlalu pentingnya ketangguhan tentaranya.

Akibatnya keberadaan tentara tak lebih dari sebagai tukang jaga dan dekorasi sebuah negara. Mereka bertugas hanya menjalani rutinitas belaka. Kalau negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki tentara yang tangguh itu hanya untuk jaga-jaga atau sekadar show force. Tidak lebih dari itu.

Meski demikian dalam majalah Time (sebelum edisi 4 Oktober 2010), secara terang-terangan di kawasan Asia Tenggara terjadi perlombaan senjata. Misalnya, Indonesia telah membeli beberapa pesawat Sukhoi dari Rusia, Vietnam menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat dalam bidang nuklir, Myanmar di-back up militernya oleh China, Thailand melalukan kerja sama militer dengan Ukraina.

Demikian pula Malaysia dan Singapura. Singapura memiliki kapal selam kelas Vastergotland dari Swedia. Malaysia pun tidak kalah canggihnya. Malaysia dengan bangganya menyambut datangnya alutsista mereka yang bisa dihandal dalam pertempuran yakni hadirnya kapal selam generasi mutakhir Scorpene.

Kapal selam dengan bobot 1.550 ton buatan galangan kapal DCNS Perancis dan Navantia Spanyol itu oleh Pemerintah Malaysia diberi nama KD Tunku Abdul Rahman. KD Tunku Abdul Rahman merupakan kapal selam pertama yang memperkuat Angkatan Laut Kerajaan Malaysia. Namun, pada akhir tahun ini kapal selam mereka bertambah satu lagi dan akan diberi nama KD PM Tun Razak.

Apakah hadirnya dua kapal selam di jajaran Angkatan Laut Kerajaan Malaysia itu membuat gemetaran negara-negara tetangga, seperti Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand, dan negara-negara Asia lainnya? Jelas. Sebab, kekuatan Tunku Abdul Rahman dan PM Tun Razak itu mampu menembakkan rudal jarak jauh ke sasaran di darat maupun laut.

Bila dibandingkan antara Tunku Abdul Rahman dan PM Tun Razak dengan dua kapal selam yang dimiliki AL Indonesia, KRI Cakra dan Nenggala dari Tipe 209 yang sudah beroperasi di laut Indonesia sejak tahun 1980-an, KRI Cakra dan Nenggala bukan tandingan Tunku Abdul Rahman dan PM. Tun Razak. Kapal-kapal selam Malaysia itu bersenjatakan torpedo berat Black Shark.

Di sebelah utara ada Malaysia, di selatan ada Australia. Negara yang di sebelah selatan itu memiliki 12 kapal selam dengan kelas Collins. Collins yang dirancang di Swedia ini mempunyai panjangnya 78 meter dengan bobot 3.000 ton.

Di sekitar kawasan Asia Tenggara pun juga demikian. Pakistan memiliki kapal selam jenis Agosta dan akan diikuti dengan program Scorpene dan U-214. Australia dengan kelas Collins-nya. Perlombaan senjata tersebut akibat dari persaingan antara China dan Amerika Serikat untuk berebut pengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Ketiga, akibat dari kondisi yang aman dan lebih mendahulukan diplomasi membuat menurunnya profesionalisme tentara. Menurunnya profesionalisme itu tampak dengan sikap tidak tegasnya militer dan digerogotinya kedaulatan negara. TNI AL pernah mencatat di tahun 2009 Malaysia melakukan 13 kali pelanggaran, tahun 2008 terjadi 23 kali pelanggaran, dan tahun 2007 terjadi 76 kali pelanggaran. Namun, Indonesia belum pernah melakukan tindakan tegas. Misalnya melakukan tembakan.

Kemudian Kasad George Toisutta mengatakan untuk menjaga garis perbatasan Indonesia - Malaysia di Pulau Kalimantan sepanjang 2.004 kilometer, hanya ditangani oleh satu kodam yakni Kodam VI/Tanjungpura. Penanganan hanya satu Kodam menyebabkan rawannya bergesernya garis batas yang dilakukan oleh Malaysia.

Terbukti Malaysia mengklaim 10 lokasi perbatasan darat di Kalimantan yang berada di wilayah Indonesia yakni di Tanjung Datu, D400, Gunung Raya, Sungai Buah, Batu Aum, C500-C600, B2700-B3100, Sungai Simantipal, Sungai Sinapad, dan Pulau Sebatik, diklaim milik Malaysia.

Keempat, minimnya anggaran pertahanan ini juga mengakibatkan tidak selarasnya antara jumlah personel militer dengan luas wilayah yang harus dijaganya. Berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2006 dan Jaffa Center of Strategic Studies (JCSS) menunjukkan bahwa negara dengan jumlah tentara aktif terbesar adalah China dengan 2.255.000 tentara aktif, 800.000 pasukan cadangan serta 3.969.000 paramiliter.

Pada posisi kedua, adalah Amerika dengan jumlah tentara sebanyak 1.473.900 tentara aktif, 1.458.500 pasukan cadangan serta 453.000 paramiliter. Sedangkan India dengan jumlah tentara aktif sebesar 1.325.000 berada di posisi ketiga dan diikuti Korea Utara (4), Rusia (5), dan Korea Selatan (6).

Sedangkan Indonesia berada di posisi 13 dengan 316.000 tentara aktif (0.14%), 400.000 pasukan cadangan, dan 207.000 paramiliter. Jumlah kekuatan militernya Indonesia berada di posisi ke-3 di kawasan ASEAN setelah Vietnam (10), Myanmar (12). Sedangkan Thailand tepat berada di bawah Indonesia. Sedang 3 negara yang persentase pasukan tentara aktifnya lebih dari 2% total penduduknya adalah, Korea Utara (Rank 4) - 4.6%, Eritrea - 4.2% (Rank 24), Israel - 2.4% (Rank 30).

Minimnya anggaran tersebut juga mengakibatkan kapal-kapal selam Indonesia terjepit di antara dua negara yang memiliki kekuatan kapal selam yang bisa dihandalkan. Sementara Indonesia hanya memiliki kapal selam KRI Cakra dan KRI Nenggala. Itu pun buatan Jerman Timur tahun 1970-an.

Suatu negara yang memiliki militer yang kuat biasanya terbentuk bila negara itu sering dilanda konflik antarnegara. Militer Korea Utara, Pakistan, dan negara-negara di kawasan Timur Tengah semacam Iran, Suriah, Israel, memiliki kekuatan militer yang tangguh karena di negara-negara itu sering melakukan dan di bawah ancaman konflik antarnegara. Di negara-negara rawan konflik itulah anggaran pertahanan dan militernya juga tinggi.

Sebenarnya rendah atau tingginya kesejahteraan suatu bangsa bukan alasan bangsa itu memiliki anggaran pertahanan dan TNI yang rendah atau tinggi. Namun, semuanya tergantung pada etikat dan kemauan pemimpinnya. Misalnya meski kondisi keuangan negara dalam keadaan krisis namun Bung Karno tetap membeli ratusan kapal tempur.

Hal itu diakui oleh Ali Sadikin. Saat itu, mantan Gubenur Jakarta, itu adalah Deputi II Menteri Kepala Staf Angkatan Laut. Dikatakan, oleh Bang Ali, sebutan akrabnya, pada tahun 1960, ia lima kali ke Rusia. Dan, akhirnya Indonesia membeli 150 kapal perang, 14 di antaranya kapal selam. Ada juga yang menyebut 24 buah kapal selam. Total harga semua kapal itu mencapai US$ 800 miliar. Para prajurit pun dididik di negara Beruang Merah itu.

Hadirnya kapal-kapal selam di dalam tubuh ALRI membuat sistem pertahanan dan keamanan Indonesia sangat ampuh. Saat Operasi Trikora kapal-kapal selam Indonesia sukses mengepung Irian Barat dalam rangka mengadakan operasi pengintaian dan menyusupkan pasukan komando ke daratan Irian.

Akibatnya Belanda takut dan mengurungkan niat berperang terbuka dengan Indonesia. Alhasil Irian Jaya pun berhasil direbut kembali. Kekuatan AL pada masa Bung Karno merupakan kekuatan yang disegani di kawasan Asia.

Ardi Winangun
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503

Pernah Bekerja di Civil-Miltery Relations Studies (Vilters). 



(msh/msh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini