manusianya" (Anies Baswedan).
Thomas L Friedman dalam bukunya yang berjudul World is Flat pun mengatakan bahwa saat ini seluruh dunia mengalami globalisasi tahap 3.0. Globalisasi ini dapat dikatakan adalah sebuah era mengglobalnya individu. Mengglobalnya individu ini mengharuskan setiap warga di negara manapun menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari warga dunia.
Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah seolah terlena. Terlena dengan paradigma yang menyatakan bahwa sumber daya alam adalah kunci determinan majunya suatu negara. Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah seolah memiliki semacam masa status quo: rakyat merasa puas dan cukup dengan apa yang didapat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia yang memiliki penduduk sekitar 234,2 juta jiwa memiliki potensi yang besar untuk bangkit menuju bangsa yang unggul dan maju. Maka untuk mengembangkan SDM Indonesia ini ada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Dari Aspek intelektual ini mencakup penguasaan bahasa asing (Inggris), penanaman skill multi-disiplin yang spesifik, dan kemampuan bekerja dalam tim.
Penguasaan bahasa asing menjadi sangat mutlak setelah semua individu mengglobal karena kemajuan teknologi informasi. Maka sudah semestinya generasi muda Indonesia, pelajar, dan mahasiswa dibiasakan membaca jurnal ilmiah, buku teks berbahasa asing, disertai kemampuan menganalisisnya.
Kemudian penanaman bahasa tidak hanya dilakukan dengan system pasif tetapi harus dibiasakan setiap peserta didik mampu mengkomunikasikan ide-idenya lewat bahasa Inggris. 5-10 tahun ke depan Bahasa Inggris bukan lagi sebagai skill penunjang yang memiliki nilai tambah tetapi juga skill wajib yang harus dikuasai Indonesia untuk bersaing di tingkat global.
Sementara ke depannya akan semakin banyak bahasa yang harus dikuasai seperti Mandarin, Jepang, Perancis, Jerman, dan bahasa internasional lainnya. Selain bahasa SDM Indonesia juga harus memiliki multi-disiplin ilmu untuk dikuasai. Semakin banyak skill yang dikuasai, maka SDM tersebut semakin bernilai. Sistem pendidikan harus mulai dirancang untuk menanamkan skill multi-disiplin dalam mengembangkan keahlian SDM Indonesia.
Terakhir kemampuan bekerja sama juga tidak kalah penting. Mengglobalnya individu tidak selalu membuat orang individualis unggul. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan justru membuat setiap orang tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kebiasaan bekerja dalam tim harus dibuat dalam kurikulum agar SDM Indonesia senantiasa adaptif dan mampu bekerja sama dengan siapa pun dalam bersaing di tingkat global.
Tidak hanya aspek intelektualitas tetapi aspek mentalitas dan spiritual juga harus ditanamkan. SDM Indonesia sudah harus diberikan kesadaran bahwa kita semua harus berpikir jauh ke depan karena kita semua adalah bagian dari warga dunia.
Kalau Singapura memiliki visi 2015 di mana kehidupan serba digital Indonesia juga harus membuat visi negara yang jelas, terukur, dan spesifik untuk mendayagunakan SDM mencapai Indonesia yang lebih baik untuk ke depannya.
Aspek spiritualitas juga harus diperhatikan dalam pembinaan SDM Indonesia. Mengglobalnya individu membuat batas-batas negara dan budaya semakin tipis. Bahkan, tidak ada. Indonesia boleh mengadaptasi segala kemajuan budaya negara dan bangsa lain. Tetapi, Indonesia tidak boleh melupakan darimana kita berasal dan apa yang diperjuangkan oleh para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya.
SDM Indonesia harus selalu ingat bahwa Indonesia berideologi Pancasila yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga, semangat Ketuhanan selalu menghiasi aktivitas dari setiap rakyatnya. Agama tidak lagi hanya digunakan dalam ibadah-ibadah khusus tetapi nilai dan semangatnya sudah ditularkan secara aplikatif ketika bersaing dengan dunia global.
Maka benar adanya bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya sekali. Selain sumber daya alam yang melimpah, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang banyak jumlahnya. Banyaknya sumber daya manusia ini harus diiringi dengan tingginya kualitas daya saing global.
Apabila hanya kuantitas dan tidak diiringi dengan kualitas Indonesia terancam akan kembali kalah bersaing dengan SDM-SDM asing yang sudah siap menghadapi era globalisasi ini. Haruskah Indonesia terhambat kebangkitannya hanya karena tidak menyadari bahwa SDM nya harus memiliki daya saing global?
Arry Rahmawan Destyanto
Penulis adalah Staf Bidang Penelitian dan Pengembangan BEM Fakultas Teknik UI 2010 dan Peserta PPSDMS Regional I Jakarta Angkatan V.
(msh/msh)










































