Dalam cerita nyata kita mengenal provinsi Catalan yang terletak di negara Spanyol. Provinsi ini secara hukum dan geografis masuk wilayah Spanyol. Tapi, jangan ditanyakan kepada mereka tentang kewarnegaraan. Meski masuk wilayah Spanyol mereka dengan gagah akan berkata, " ... kami orang Catalan, bukan orang Spanyol ... "
Sebagai sebuah provinsi mereka tetap mengikuti pemerintahan Spanyol. Tetapi, di hati mereka tetap akan mengatakan sebagai orang Catalan sebagai sebuah simbol jati diri dan harga diri. Bagi mereka nasionalisme sebagai orang Catalan tidak terusik oleh kenyataan bahwa mereka berdiam di wilayah Spanyol.
Beralih ke Indonesia di mana ungkapan nasionalisme akhir-akhir menjadi perdebatan sengit terkait perseteruan Indonesia dengan Malaysia yang diakibatkan oleh sikap pemerintah Malaysia yang dianggap sebagian pihak sangat merendahkan harga diri bangsa Indonesia. Sudah terjadi berkali-kali dan sikap pemerintah Indonesia dalam hal ini sudah jelas bahwa Indonesia akan menempuh jalan diplomasi untuk menyelesaikannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum kita mempertanyakan kadar nasionalisme bangsa ini. Dalam hal ini pemerintah terkait perseteruan Indonesia - Malaysia. Sebenarnya sudah sejak jauh hari negara ini memang perlu ditanyakan kadar nasionalisme para pemimpinnya. Tak perlu jauh-jauh. Coba saja kita lihat kebijakan-kebijakan ekonomi yang selama ini yang diambil pemerintah yang seperti menjual bangsa ini di atas surat perjanjian dengan pihak asing. Menjadikan bangsa ini berada di bawah penjajahan bangsa asing yang berkedok investasi.
Sekarang bank-bank asing tumbuh subur di Indonesia. Menjadi hal yang aneh ketika pihak luar ikut campur dalam sistem moneter kita. Bukankah hal ini bisa menjadi bom waktu seperti halnya Bank Century. Beberapa persen sahamnya dimiliki oleh pihak asing seperti Clearsterm Banking SA, Fist Gulf Asia Holding Limited.
Ketika terjadi masalah dalam tubuh bank maka para pemilik saham ramai-ramai cuci tangan dan meninggalkan nasabahnya yang sampai sekarang tidak pernah tahu ke mana mencari uang mereka yang hilang. Terlepas ada tidaknya unsur politis dalam kasus Bank Century kita bisa melihat akibat yang ditimbulkan dari adanya campur tangan yang berlebihan dari pihak asing.
Belum lagi pengelolaan sumber daya alam negara kita yang juga banyak dikuasai pihak asing. Dengan dalih alih teknologi maka perusahaan-perusahaan asing beramai-ramai mengunjungi Indonesia untuk mengeruk kekayaan alamnya. Tapi, setelah sekian lama alih teknologi sepertinya tidak pernah terjadi. Sebagai bukti sampai sekarang masih banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak pernah memberikan kontribusi signifikan. Jangankan terhadap negara. Terhadap daerah mereka beroperasi saja masih sering kita lihat kesenjangan yang terjadi.
Bayangkan. Di Kalimantan Timur (Kaltim) tempat saya tinggal sangat kaya akan gas dan batubara. Tapi, apa yang dirasakan masyarakat Kaltim dari kekayaan alam mereka? Masih sangat sedikit. Sekali pun ada otonomi daerah tapi hal itu tidak menjadikan daerah kaya menjadi lebih baik keadaannya.
Semisal di daerah Tanjung Santan Kutai Kertanegara. Sebuah perusahaan penambangan batu bara dari Thailand beroperasi sekian lama. Tapi, sepelemparan batu dari gunungan batu bara hasil eksplorasi perusahaan tersebut terdapat sebuah desa yang masih belum beraspal. Masih berupa tanah. Listrik pun belum mengalir. Lantas ke mana semua hasil alam mereka? Padahal, conveyor yang mengangkut batu bara dari perut bumi rakyat setempat melintas tepat di atas pintu masuk daerah tersebut. Ironis.
Alih-alih memperbaiki keadaan dalam UU Penanaman Modal Asing yang sudah direvisi disebutkan bahwa pihak asing diizinkan beroperasi di Indonesia selama 90 - 100 tahun lebih lama dari UU sebelumnya yang hanya 30 tahun. Alamak. Meskipun mungkin dalam UU tersebut disertai perjanjian rehabilitasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi, atau keharusan penyertaan dana comdev (community devolepment) tapi pada kenyataannya sering kali hal tersebut diingkari.
Dari sedikit contoh di atas kita paham bahwa sebenarnya selama ini, bukan hanya di atas bumi, sampai perut bumi pun kita terjajah oleh pihak asing dengan kedok investasi, alih tekhnologi, dan kata-kata lain yang terasa manis didengar. Inilah nasionalisme yang selama ini tidak pernah kita perhatikan walaupun lalu lalang di depan mata kita setiap hari, karena merupakan pengkhianatan terhadap konstitusi tertinggi di negeri ini yaitu UUD 1945 pasal 33.
Di mata kaum Kapitalis dunia kita seperti menjadi sapi perahan yang susunya terlalu lezat untuk dilewatkan. Dengan dalih apa pun mereka berusaha menginvasi kekayaan alam kita. Sementara para pemimpin yang seharusnya melindungi malah dengan duduk manis merestui invasi besar-besaran tersebut yang semakin membuat harga diri bangsa kita terpuruk.
Kembali ke konflik RI - Malaysia menjadi sesuatu yang tragis ketika ketua DPR Marzuki Alie yang notabene merupakan representasi suara rakyat di parlemen malah mengatakan bahwa sebenarnya rakyat Indonesialah yang semakin memicu ketegangan dengan Malaysia terkait demo dengan pelemparan kotoran ke kedubes Malaysia, tanpa melihat sebab akibatnya.
Bahkan, dalam pernyataan-pernyataannya beliau terkesan membenarkan sikap pemerintah Malaysia sehubungan dengan konflik yang terjadi. Seharusnya sebagai pejabat negara beliau mengeluarkan statement yang bisa mendinginkan panas di kepala rakyat Indonesia yang sudah terlalu mendidih. Bukan malah memojokkan rakyat sendiri.
Setelah pidato Presiden yang terkesan defensif terhadap sikap pemerintah Malaysia, kemudian ucapan pejabat yang seolah membelakangi rakyatnya, ditambah selama ini sudah terlalu banyak kekecewaan publik atas perilaku para pemimpin bangsa ini dalam mengelola negara yang semau gue maka bisa saya katakan bahwa nasionalisme para pemimpin sudah berada di titik nadir.
Rakyat Galia secara heroik sering kali bergesekan dengan pihak Kerajaan Romawi demi mempertahankan tiap jengkal tanah dan harga diri mereka. Kita mungkin tidak perlu berperang seperi rakyat Galia. Tapi, paling tidak seperti halnya orang Catalan. Seharusnya kita berani mengatakan "inilah kami orang Indonesia" sebagai wujud eksistensi, harga diri, dan kehormatan sebagai sebuah bangsa.
Hanif Rifa'i
Bontang
paiaja66@yahoo.co.id
081253682959
(msh/msh)











































