Perjuangan Menuju Bangsa Baik

Perjuangan Menuju Bangsa Baik

- detikNews
Senin, 20 Sep 2010 08:40 WIB
Perjuangan Menuju Bangsa Baik
Jakarta - "Hidup adalah keyakinan dan perjuangan." Tanpa keyakinan hidup ini akan hampa karena keyakinan merupakan motivator penggerak seseorang untuk melakukan sesuatu. Namun, keyakinan saja rasanya tidak cukup. Ia membutuhkan sesuatu yang lain yaitu perjuangan. Sinerginya keyakinan dan perjuangan merupakan kekuatan yang tidak akan terbendung. Ia bagaikan gelombang yang akan menyapu apa saja yang ada di hadapannya.

Perjuangan, kapan dan di mana pun akan selalu membutuhkan banyak pengorbanan. Ini merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan. Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya. Tanpa pengorbanan yang besar mustahil sebuah perjuangan akan berhasil dengan gilang-gemilang.

Perjuangan para nabi, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Perjuangan Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya selama 23 tahun merupakan perpaduan antara keyakinan, perjuangan, dan pengorbanan. Selama dalam masa perjuangan yang dilalui oleh beliau sSAW adalah cobaan. Baik itu bersifat fisik maupun non-fisik. Kehilangan sahabat-sahabat yang dicintai, keluarga dan sanak famili, orang-orang dekat, harta benda, bahkan Rasulullah SAW harus berani menghadapi tantangan dari kelompok-kelompok yang sengaja ingin menghantam dan menghalau perjuangannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akan tetapi, perjuangan yang dilandasi dengan keyakinan untuk berkorban di jalan Allah secara benar telah mengantarkan beliau dan para sahabatnya kepada kesuksesan. Bukan hanya di dunia. Namun, juga di akhirat kelak. Bbukan hanya dinikmati oleh segelintir orang tapi juga bisa dirasakan oleh seluruh penghuni bumi waktu itu --yang memang sedang merindukan seorang mesiah.

Perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW lalu dilanjutkan oleh generasi sesudahnya menjadikan bangsa ini berada pada posisi yang mulia. Mereka diorbitkan oleh Allah SWT sebagai bangsa terbaik (Khairu-Ummah). Allah menghendaki supaya kepemimpinan di muka bumi ini untuk kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Dunia, ketika ada di bawah kepemimpinan orang-orang terbaik tentu saja akan mengarah kepada segala bentuk kebaikan pula.

Di dalamnya tidak akan terjadi kekacauan, pemaksaan, agitasi, sikap agresor, dan keburukan-keburukan lainnya. Karena bangsa terbaik adalah sekelompok manusia yang selalu ingin memperjuangkan kebaikan karena bagi mereka melakukan kebaikan merupakan perjuangan yang harus ditegakkan serta merupakan upaya untuk mencapai cita-cita tertinggi untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Memperjuangkan kebaikan merupakan salah satu karakteristik manusia sehat. Sekali pun dia harus kehilangan nyawa.Β  Socrates rela meminum racun. Gie pernah berkata "lebih baik diasingkan daripada harus mengabdi pada kemunafikan". Karena tidak sedikit fakta dan bukti yang memberikan informasi kepada kita, ketika dunia berada di bawah kekuasaan manusia-manusia serakah, tampak berbagai kerusakan dan kehancuran.

Perbaikan-perbaikan yang mereka katakan sebagai reformasi atau pun apa saja bentuk dan namanya kenyataannya hanya merupakan perbaikan bagi mereka semata tanpa memperhatikan orang lain. Maka benarlah. Bahwa, perjuangan untuk menegakkan kebaikan ini merupakan salah satu karakteristik manusia sehat, manusia pejuang. Bukan manusia pencari peluang semata.

Sebuah bangsa merupakan kumpulan individu. Ketika individu-individu yang menempati sebuah negara memiliki hasrat yang kuat untuk menegakkan kebaikan, bangsa tersebut adalah bangsa yang memiliki cita-cita mulia, cita-cita tertinggi, karena nilai kehidupan manusia ditentukan oleh perjuangan demi terwujudnya ideal-ideal yang luhur dan bermanfaat. Orang harus bertekad mencapai kedudukan tanpa pamrih kepada masyarakat.

Perjuangan mulia dan luhur harus dilandasi oleh niat yang tulus. Tanpa diembel-embeli pretense politis. Para pahlawanΒ  berjuang untuk memerdekakan Republik ini telah berjuang tanpa embel-embel untuk mendapatkan ini-itu. Maka alangkah naifnya jika kita yang hidup di alam kemerdekaan mau berjuang ketika ada embel-embel di belakangnya. Karena, sebuah bangsa yang berjuang dengan didasari oleh pamrih, atau ada maunya, akan menyambut kegagalan.

Bisa jadi segala bentuk upaya yang telah kita lakukan ini selalu mengalami kegagalan karena motivasi kita terlalu pragmatis alias tidak tulus dalam melakukan perjuangan tersebut. Kita harus yakin sepenuhnya. Perjuangan yang dilandasi oleh ketulusan akan berbuah keberhasilan.

Orang-orang tulus yang mencari keridhaan Allah SWT dengan amalnya senantiasa melepaskan diri dari keuntungan dan kepentingan pribadi. Merekalah yang akan menyelamatkan Republik ini dan mendapat kemenangan sekalipun mereka tidak berharta, tidak berkedudukan, dan tidak terpandang di tengah-tengah masyarakat manusia.

Perjuangan yang dilandasi oleh niat yang tulus merupakan pemberian dari Allah yang tidak boleh dibiarkan tersia-sia atau digunakan untuk maksud-maksud yang kotor dan tujuan yang tidak manusiawi. Karena, ada kalanya kita khilaf, lalu perjuangan dalam kebaikan mengarah kepada hal yang tidak diharapkan. Tentu saja kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari salah sasaran itu. Perjuangan suci jangan digunakan untuk maksud-maksud yang tidak manusiawi karena Islam melarang bangsanya untuk melakukan tindakan animalisasi atau pun dehumanisasi.

Peperangan dalam bentuk perlawanan dibolehkan ketika seseorang dirampas hak-haknya. Tetapi, tidak layak bagi seorang pejuang melegalkan cara-cara yang tidak terpuji. Seperti membunuh anak-anak, membunuh wanita, atau merusak tanaman, melakukan pengrusakan rumah ibadah agama lain, memburu manusia, melakukan pengeboman hanya karena alasan untuk berjihad. Selain dari itu, apa pun bentuknya, pembunuhan atau pun pemaksaan kehendak, perbudakan, diktatorisme, dan kolonialisasi sangat ditentang.

Perjuangan untuk menegakkan kebenaran, sejak sejarah manusia terbit adalah merupakan tujuan misi dari kenabian. Para nabi revolusioner seperti Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Nabi Muhammad SAW adalah para pejuang kebaikan, yang rela dan berani berkonfrontasi dengan para penguasa tertinggi di zamannya. Musa AS berjuang menegakkan kebaikan melawan tirani dan kesewenang-wenangan Firaun.

Raison de etre dari wahyu ketuhanan dan misi sosial yang dibawa oleh para nabi sebagai ututsan Allah, pemimpin kaum lemah dan miskin, secara umum ada tiga. Pertama, menyerukan kebenaran. Ke dua, berjuang melawan kebathilan dan kezaliman. Ke tiga, membangun masyarakat atas dasar persaudaraan, kebajikan, persamaan sosial, keadilan, dan cinta kasih.

Lingkup perjuangan yang harus dilakukan oleh kita harus meliputi segala aspek kehidupan, menyeluruh, dan tidak berat sebelah. ini sesuai dengan salah satu karakteristik bangsa yang mencintai kebenaran seimbang, menyeluruh, dan paripurna. Yaitu:

1. Di bidang Kemanusiaan
Obyek dan subyek perjuangan dalam menegakkan kebaikan adalah manusia. Maka menjadi kewajiban bagi kita untuk terus mengupayakan terciptanya tatanan kemanusiaan yang seusai dengan nilai-nilai manusia itu. Bukan malah sebaliknya.

Tidak terbantahkan beberapa kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa ini telah memposisikan manusia sebagai subjek sentral dalam kehidupan dan telah melahirkan humanisme yang antroposentrik. Jelas sekali ini merupakan keberhasilan. Akan tetapi manusia yang dilahirkan dari rahim kemajuan seperti ini adalah jenis manusia sekuler, setengah manusia, dan tidak mencerminkan manusia itu sendiri.

Jenis manusia baru yang lahir dari peradaban seperti ini merupakan manusia-manusia lama yang telah diformulasikan sedemikian hingga, sehingga menghasilkan manusia baru dalam penampilan namun hakikatnya tetap sama, yaitu manusia yang gemar berperang, gemar berbuat curang, licik, dan siap berbuat apa saja dengan menghalalkan berbagai macam cara ntuk mencapai tujuan. Peradaban semakin maju namun perang tetap tidak bisa dihentikan. Kemanusiaan dan nilai-nilainya jatuh sedemikian dalamnya ke derajat hewan. Ini tak terbantahkan.

Celakanya yang dirugikan adalah kita. Bangsa dunia ketiga. Bahkan, sampai sekarang. Bangsa-bangsa di Negara ketiga selalu menderita dalam kegelapan akibat perlakuan sekelompok manusia yang tercabut darinya sebagala potensi kebaikan.Β Β  Perjuangan dalam menegakkan kebaikan adalah perjuangan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

2. Di Bidang Sosial dan budaya
Arus budaya mengalir begitu deras celakanya yang terbawa arus adalah generasi-generasi muda bangsa ini. Mereka terbawa hanyut oleh arus budaya orang lain. Budaya syahwati yang cenderung mendahulukan kepuasan syahwat dan hawa nafsu daripada harus mendahulukan nurani dan akal sehat.

Kehidupan sosial di era sekarang tidak bisa dipisahkan dengan tujuan-tujuan kerdil manusia untuk mengejar kepuasan syahwat. Berbagai praktik kemaksiatan, kemesuman, dan praktik-praktik lainnya seakan-akan seperti sudah menjadi perbuatan yang sah. Adegan-adegan kemesuman bisa ditonton dengan mudah oleh kita dan aksesnya begitu luas tak terhalang oleh tempat karena memang agen yang membawanya adalah media ajaib yang disebut televisi.

Adalah tugas kita untuk memperjuangkan kebaikan di bidang budaya dan sosial ini. Kita, sebagai bangsa baik harus mewarnai kehidupan sosial dan budaya dengan kebaikan pula. Tentu saja dimulai dari diri kita sendiri. Tampilkan dalam perilaku sikap-sikap mulia supaya kita disaksikan oleh orang lain sebagai bangsa terbaik dan dapat dicontoh oleh mereka. Memang sangat sulit untuk mewujudkannya ketika bangsa kita sendiri nyatanya jatuh dalam lembah nista. Namun, dengan takad yang kuat kita pasti bisa menjadi pelopor kebaikan. Yakinlah!

3. Di Bidang Pendidikan
Perjuangan di bidang pendidikan adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembalikan pendidikan kepada posisi yang sebenarnya. Meluruskan tujuan akhir pendidikan dan mejadikan pendidikan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan harus menciptakan manusia paripurna.

Membentuk manusia yang bebas yaitu pembebasan manusia dari belenggu tradisi magis, mitologos, animistis, dan kultur kebangsaan yang bertentangan dengan akal sehat. Pembebasan manusia dari pemikiran sekuler atau pembebasan manusia dari dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil pada fitrah atau hakikat kemanusiaannya yang benar.

4. Di Bidang Politik
Politik merupakan upaya untuk mencapai sesuatu. Diri kita, sadar maupun tidak sadar tidak bisa dipisahkan dengannya. Untuk itu perjuangan dalam menegakkan kebaikan harus menyoroti juga masalah politik ini. Politik yang selanjutnya ada kaitannya dengan kekuasaan yang kita harapkan adalah politik yang bersih dan sesuai dengan cita-cita tertinggi dan martabat bangsa kita.

Bukan politik kotor yang dipenuhi dengan intrik, hasutan, fitnah, dan cara-cara Machiavelis. Penguasa yang harus tampil adalah penguasa yang sehat, adil, tidak memihak, dan siap meneriakan dan memberi teladan dalam melakukan akhlak-akhlak mulia.

Bukan seperti yang diungkapkan oleh Niccolo Machiavelli, "since a prience, than, is required to know how assume a beast like nature. He must addopt that of fox and that of the lion. For a lion is defenseless against snares, and a fox is defenseless against wolves. Hence a prience ought to be a fox in recognizing snares and lion in driving off wolves. Thise who assume the bearing of the lion alone lack understanding (jadi, karena seorang penguasa perlu mengetahui bagaimana memanfaatkan sifat-sifat seperti binatang. Ia harus mengambil sifat-sifat rubah dan singa. Karena singa tidak berdaya terhadap perangkap dan rubah tidak berdaya menghadapi serigala. Oleh sebab itu, seorang penguasa harus menjadi rubah agar mengenal perangkap dan menjadi singa untuk menghalau serigala-serigala. Mereka hendak bersikap seperti singa saja tiada memiliki pengertian).

Demikianlah perjuangan kita. Perjuangan untuk menegakkan kebaikan sebagai jalan untuk mengambil kembali posisi kita sebagai bangsa yang baik yang selama ini terlempar jauh dari diri kita.

Warsa Suwarsa
Jl Widyakrama Balandongan Sukabumi
warsa_suwarsa@yahoo.com
0819877136



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads