Pesan di Balik Dua Jempol Presiden

Pesan di Balik Dua Jempol Presiden

- detikNews
Sabtu, 18 Sep 2010 09:15 WIB
Pesan di Balik Dua Jempol Presiden
Jakarta - Kita tidak sedang berusaha mengkultuskan ancungan dua jempol Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada dua calon Ketua Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK). Tapi, kita mencoba tafsirkan keberpihakan SBY terhadap cita-cita Indonesia bersih dari laku korupsi. Begitulah kira-kira. Entahlah.

Apakah hal yang sama dilakukan SBY terhadap pimpinan KPK sebelumnya? Namun, kali ini, suara batin rakyat beriringan penuh harap dengan ancungan dua jempol SBY.

Harapan pertama, pemerintah memberikan sokongan bagi upaya menciptakan sistim birokrasi yang terbebas, Sebebas-bebasnya dari tindak-tanduk korupsi. Harapan yang kedua, dengan kekuasaannya, pemerintah tidak lagi menjadi batu pengganjal pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebagaimana yang terjadi sudah-sudah. Harapan ketiga, pemerintahlah menjadi lokomotif yang mensponsori gerakan Indonesia bebas korupsi. Inilah pesan yang kita tangkap dari "political body" seorang SBY.
Β 
Pesan Simbol
Sepanjang pengetahuan SBY selalu memberikan pesan lewat bahasa tubuhnya. Pesan tersebut menjadi penguat setiap kata, kalimat, dan makna yang keluar dari mulutnya. Hal tersebut dilakukan dalam setiap peristiwa-peristiwa penting di
Indonesia.Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ibarat film-film hollywood yang menjadikan musikalisasi sebagai pendalaman makna narasi sebua cerita, maka demikian pun bahasa tubuh SBY. Lewat gerakan fisiknya, terutama bagian tangan, selalu memberikan pesan simbol mendalam atas tema yang disampaikan. Dan, kali ini, pesan simbol lewat ancungan dua jempol itu memberikan harapan baru bagi terwujudnya Indonesia yang bersih dari perilaku korup. Paling tidak, orang takut berkorupsi karena ketegasan dan konsistensi pimpinan KPK kelak.

Mungkin ancungan jempol SBY itu bermakna. Mengapresiasi integritas kedua calon ketua KPK itu. Ancungan dua jempol SBY itu, tidak saja bermakna harapan kepada pemimpin KPK kelak, tapi meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa dengan terpilihnya salah satu di antara calon pimpinan KPK ini (Busyro Muqoddas dan Bambang Widjajanto) impian kita untuk mewujudkan Indonesia bebas korupsi dapat terwujud.

Beban Sejarah
Konon menurut berbagai sumber, dua putra terbaik bangsa ini, memiliki keunggulan terkait kualifikasi dan kapabilitas dalam wilayah kerja hukum. Terlepas dari aspek subyektifitas keduanya, harapan kelak mereka dapat memberantas berbagai kasus korupsi yang sempat tertunda-tunda bakal terlaksana.

Hal ini dapat diukur-ukur lewat kredibilitas dan integritas keduanya di ranah hukum. Maka banyak kalangan menilai tidak salah juga SBY menaruh harapan dengan pesan simbol melalui bahasa tubuhnya itu.

Terlepas dari bahasa tubuh SBY itu, bagi Busyro dan Bambang, harapan dan kepercayaan itu adalah beban sejarah bagi mereka jika salah satunya terpilih. Mengapa beban sejarah?

Karena, apa yang dilakukan dalam pemberantasan korupsi akan menjadi suatu nilai teladan yang tertinggalkan. Jika prestasi kerja mereka baik maka di kemudian hari orang akan berceritra bahwa Indonesia pernah bersih dari korupsi karena memiliki pimpinan KPK yang tegas dan tidak neko-neko dalam memberantas korupsi.

Kira-kira, cita-cita semacam itulah yang dapat kita maknai dari ancungan dua jempol SBY.Β Β Β Β 

Abdul Munir Sara
Jln Kayu Manis Baru 2 Matraman Jakarta Timur
abdulmunir_sara@yahoo.co.id
081318004078

Koordinator Lingkar Studi Pemuda Mahasiswa Tapal Batas RI-Timor Timur.


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads