Hakikat civitas academica dalam suatu negeri adalah sebagai laboratorium besar perubahan bangsanya. Kita bisa lihat berapa banyak paten Internasional yang dipegang oleh anak bangsa kita, berapa banyak jurnal ilmiah internasional yang dihasilkan oleh pelajar-pelajar Indonesia, dan seberapa besar pengaruh kehidupan akademis perguruan tinggi Indonesia terhadap pemberdayaan masyarakat.
Pemegang juara utama PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional Tingkat Universitas) beberapaΒ tahun ini adalah IPB. Sebuah institut berbasis pertanian yang berasaskan entrepreneurship dan kreatifitas kelas atas mahasiswanya. Bagaimana suatu institut pertanian bisa menjuarai PIMNAS beberapa tahun belakangan ini? Padahal di sana ada universitas-universitas unggulan yang jelas mempunyai keragaman ilmu dalam fakultas-fakultas yan berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IPB mencetak mahasiswanya untuk selalu berinovatif dan berjiwa wirausaha kemasyarakatan. Lomba-lomba entrepreneurship dan acara-acara pemantik kreatifitas civitas academica banyak dilakukan IPB. Baru-baru ini sebuah CSR Perusahaan Minyak terkemuka di Indonesia memberikan seminar tentang social entrepreneurship kepada ribuan mahasiswa IPB.
Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa betapa banyak potensi pertanian dan kehutanan Indonesia apabila diolah dengan baik, berteknologi tinggi, dan berasaskan kemasyarakatan. Di awal, individu-individu civitas academica IPB diberikan pemahaman secara komprehensif apa itu hakikat pertanian dan betapa soko guru perekonomian Indonesia adalah berlandaskan pertanian.
Seorang mahasiswa IPB diharapkan menjadi corong masa depan Indonesia Emas 2025. Dengan segala kapasitas mumpuni sebagai seorang akademisi yang berfikiran visioner dan berbasis pengembangan sumber daya masyarakat pedesaan.
Goris Mustaqim, perwakilan entrepreneur muda yang diundang Presiden AS Barack Obama dalam acara Presidential Summit on Entrepreneurship pada tanggal 26-27 April 2010 di Washington DC Amerika Serikat, merupakan seorang pengusaha muda yang memajukan Garut dengan program ASGAR yang berbasis pertanian. Ini merupakan bukti kuat. Betapa potensi kaum muda dalam dunia pertanian patut diacungin jempol.
Sejatinya Indonesia membutuhkan konsep-konsep pembaharu dan SDM-SDM strategis untuk mengentaskan masalah besar pertanian Indonesia. Di tengah ancaman globalisasi yang terus maju pesat pertanian Indonesia pun layak untuk berlari bersama globalisasi dunia tersebut.
Brasil, dengan konsep pertanian modern terintegrasinya, mampu menjadi pengekspor bahan makanan dunia, seperti gula, beras, dan tepung. Dengan konsep social entrepreneurship yang mengedepankan kemajuan produksi pertanian atas kerja sama pihak swasta, civitas academica, dan masyarakat diharapkan pertanian Indonesia melaju pesat dengan kokohnya tanpa takut terancam gejala-gejala penurunan ekonomi dunia.
Pemerintah juga diharapkan turut andil dalam menyukseskan goal besar ini dengan mempermudah birokrasi dan menjadi jembatan penghubung yang baik antara pihak swasta, akademis, dan masyarakat. Selain itu peran strategis yang perlu diambil oleh Kementerian Pedidikan Nasional agar terus memajukan pendidikan Indonesia yang berasaskan pembangunan masyarakat.
Negeri yang besar ini telah membuktikan kokohnya sistem ekonomi mikro yang berlandaskan pertanian di pedesaan di tengah anjloknya perekonomian dunia. Sudah saatnya kita membuktikan "lebih" kepada dunia bahwa Indonesia tetaplah negeri agraris yang berdikari atas kemajuan modernisasi pertanian dan SDM-SDM strategis yang dihasilkan oleh perguruan-perguruan tinggi terbaik negeri ini.
Fikri Aulia
Komplek DKI B1/20 Sunter Jakarta
fikri_tekkim@yahoo.com
08568894494
PPSDMS NF Jakarta
(msh/msh)











































