Revolusi Pangan

Revolusi Pangan

- detikNews
Selasa, 14 Sep 2010 08:55 WIB
Revolusi Pangan
Jakarta - Indonesia adalah negeri yang "gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (kaya sumber daya alam dan subur, aman tentram, dan sejahtera)". Sepenggal tanah dari surga yang dikaruniakan Tuhan kepada Bangsa Indonesia.

Koes Plus menyebut pada bait syair lagunya " ... tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman". Lagu ini bukan sekadar karya seni tak bermakna. Ia mewakili seting sosial masyarakat pada masa itu. Benarkah bangsa Indonesia lebih sejahtera di masa lalu dibanding saat ini?

Satu pertanyaan sensitif. Mengusik urat nadi pembangunan kesejahteraan Bangsa Indonesia. Lantas, mau apa dengan sepenggal tanah surga di bumi katulistiwa Indonesia? Mengapa negeri yang kaya meninggalkan sejuta cerita nestapa? Apa yang salah dengan negeri Indonesia?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia yang kaya menyumbang jumlah kemiskinan dan kelaparan yang menjadi masalah dunia. Suatu realitas yang pahit tetapi sekaligus melalaikan.

***

Tiap tiga detik ada seorang di jagat ini yang mati karena kelaparan. Dari enam miliar lebih penduduk dunia sekitar 2,8 milIar orang hidup dengan penghasilan di bawah US $ 2 per hari. Atau 1,2 miliar yang hidup dengan penghasilan di bawah 1 US $ per hari. Itu artinya seperlima penduduk dunia dalam kemiskinan total.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 229 juta jiwa. Sebanyak 73,7 persen (168,9 juta jiwa) adalah penduduk usia kerja. Dari jumlah penduduk usia kerja itu sekitar 69 persennya siap menyerbu pasar kerja.

Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RIKESDA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007 menyebutkan bahwa prevalensi gizi buruk pada Balita di Indonesia yang mencapai 5,4 persen, dan gizi kurang pada Balita adalah 13 persen. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) untuk pencapaian program perbaikan gizi (20 persen) maupun target Millenium Development Goals belum tercapai.

Sebanyak sembilan belas provinsi mempunyai prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas prevalensi nasional (18,5 persen) yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Provinsi-provinsi tersebut adalah yang memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Mengapa bisa terjadi di negeri yang kaya, kondisi gizi buruk dan gizi kurang pada balita, yang ditandai dengan bentuk fisik stunted atau tinggi badan tidak sesuai dengan umur. Sebanyak 1,8 juta yang kurang gizi tersebut bersifat irreversible.

Salah satu gejala dari kekurangan gizi yang irreversible itu adalah perkembangan otak Balita yang lambat. Akhirnya jangan heran kalau banyak anak-anak yang imbisil dan debil (bodoh) di negeri ini.

Data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik Maret 2010 menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia mencapai 31,02 Juta (13,33 persen). Komoditi makanan adalah yang memberikan sumbangan dan memberi pengaruh terbesar terhadap garis kemiskinan. Jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2010 sumbangan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 73,5 persen.

Apa yang salah dengan pembangunan kesejahteraan di Indonesia? Gembar-gembor pembangunan, deru mesin industri, traktor, buldoser, dan alat berat hingga ke pelosok tanah air ternyata belum mampu mensejahterakan rakyat Indonesia. Orde pemerintahan berganti, presiden sudah berkali-kali berganti, ratusan bahkan ribuan triliun rupiah uang dibenamkan untuk membangun negeri dan membiayai pemilu dan pilkada di Indonesia. Tetapi, apa hasilnya?

Rakyat masih sulit mencari pekerjaan, pengangguran terus bertambah, dan orang miskin ada di mana-mana.

***

Semua keluh dan protes tak menghasilkan apa-apa, ketika masyarakat Bangsa Indonesia tidak segera mengubah paradigma dari pola konsumtif membeli seluruh bahan makanan dari kantongnya-- yang semakin tidak bernilai, kepada paradigma untuk memetik dan memanen hasil dari tanamannya. Kinerja untuk menjadi penghasil dan memproduksi bahan pangan menjadi sesuatu yang niscaya di saat krisis pangan selalu mengancam penduduk dunia.

Masyarakat Indonesia memerlukan reformasi agraria, memerlukan revolusi pangan, mengkonsolidasikan relawan-relawan pangan yang kinerjanya tidak untuk membagi-bagikan bahan makanan, tetapi relawan yang siap menanam di lahan-lahan bumi
Nusantara yang terbengkalaikan, sambil menghidupkan luasnya wilayah daratan dan lautan di perbatasan yang luput untuk diperhatikan.

Setiap saat wilayah itu menjadi incaran negara-negara tetangga yang tak lagi mengindahkan kedaulatan Indonesia. Masyarakat Indonesia membutuhkan bukan hanya kebijaksanaan seorang Presiden tetapi memerlukan keputusan dan atau instruksi presiden terhadap petani dan nelayan serta seluruh masyarakat Indonesia menjadi relawan-relawan pangan melalui suatu regulasi yang mendorong pemanfaatan lahan bagi setiap rakyat Indonesia yang bersedia menjadi relawan pangan.

Relawan-relawan yang kinerjanya menghidupkan kesejahteraan. Kita memerlukan regulasi yang memacu kredit bagi relawan pangan yang agunan dan jaminannya adalah masa depan kedaulatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Wahyu Triono KS
Bhayangkara No 9A PGS Cimanggis Depok
wahyu_triono2004@yahoo.com
87717007/081219921609

Penulis adalah Direktur CINTA Indonesia (Central Informasi Networking Transformasi dan Aspirasi Indonesia).



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads