Kekerasan, Hukum yang Lumpuh, dan Pancasila

Kekerasan, Hukum yang Lumpuh, dan Pancasila

- detikNews
Senin, 13 Sep 2010 10:51 WIB
Kekerasan, Hukum yang Lumpuh, dan Pancasila
Jakarta - Tingginya angka intimidasi dan penyerbuan rumah ibadah di Indonesia memang sangat mencengangkan. Setara Institute baru saja merilis laporan penelitian enam bulanan mereka pada 26 Juli lalu. Dalam tahun 2010 saja setidaknya ada 28 rumah ibadah umat Kristen yang disegel, dibakar, dilempari, dan dipaksa untuk berhenti beribadah.

Ada beberapa gereja yang jemaatnya harus duduk di atas tikar. Atau berdiri di trotoar di luar halaman gereja mereka untuk beribadah. Gereja Kristen Indonesia Taman Yasmin Bogor sudah lebih 6 (enam) kali melakukannya dan sesekali mereka beribadah dari rumah ke rumah jemaat yang akhirnya mengurangi jumlah jemaatnya menjadi 30 orang dari yang dulunya ratusan.Β 

Pendeta Luspida Simanjuntak, salah seorang pendeta di HKBP Pondok Timur Bekasi, adalah salah seorang pendeta di negara ini yang setiap minggu harus harap-harap cemas kalau saja gerejanya akan diserbu oleh masyarakat terorganisir setiap
kebaktian dimulai. Tidak ada yang lebih memprihatinkan dan di luar batas kemanusiaan, ketika sekelompok manusia dilarang berkumpul beribadah di negaranya sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jemaat HKBP ini, dan beberapa gereja lainnya harus ketakutan menyembah Tuhan dan pemerintah hanya diam saja. Walaupun mereka memiliki IMB dan tidak mendapatkan keluhan dari masyarakat tetangga mereka tetap harus menutup ibadahnya. Bahkan, pemerintah daerah dan Satpol PP tunduk kepada tekanan kelompok radikal menyegel gedung gereja mereka.

Penyerangan gereja belakangan ini bukan hanya menunjukkan bahwasanya intoleransi dan tak berdayanya hukum sudah semakin mengkhawatirkan di negeri kita. Tetapi, juga memperlihatkan bahwa saluran-saluran penyelesaian konflik sosial tidak lagi berjalan. Lumpuh, tak punya nadi.

Kita bukan lagi bangsa yang ramah dan gandrung akan kekeluargaan. Masyarakat tidak lagi bisa menyerahkan permasalahan di antara mereka ke dalam diskusi atau lambang-lambang sosial yang sejak lama dihormati. Hampir tidak ada ulama, tokoh budaya, atau guru yang bisa dianggap netral, bijaksana, sanggup menyelesaikan masalah dengan adil. Bahkan, pemerintahnya, yang seharusnya melindungi, justru melanggar hak-hak dasar masyarakat.

Ada persoalan besar, yang tak kelihatan, di negeri kita ini, dan kerusakannya sudah menyangkut dasar filosofis kehidupan berbangsa bernegara. Bukan sekadar persoalan sosial Kota Bekasi, Bogor, atau Jakarta.

Pancasila Bukan Lagi "Darah" Indonesia?
Pancasila adalah "ide" luhur pendiri bangsa kita. Demikian juga "Indonesia". Keduanya muncul berdekatan sekali. Ibarat kembar identik yang satu keluar tidak lama setelah yang lain. Keduanya dibentuk dari "perut" yang sama. Orang-orang yang sama dalam ide negara yang sama.

Indonesia bisa berdiri karena Pancasila, dan Pancasila hanya bisa berjalan bila Indonesia masih ada. Di dalam Pancasila, bagi bangsa Indonesia, ide tentang Tuhan hanya bisa diwujudkan bila keadilan benar-benar sampai kepada seluruh rakyat Indonesia.

Semangat ber-keTuhanan kita hanya bisa terwujud sempurna dalam kerangka berpikir keadilan bagi sesama, dan mempersatukan bangsa. Begitu juga kemanusiaan yang berkadilan tidak akan pernah ada, jika "Tuhan" hanya jadi komoditas. Sejatinya, ketika Pancasila pelan-pelan lenyap dari semua sendi berkebangsaan dan berkehidupan di negeri ini, Indonesia sebentar lagi juga lenyap dengannya.

Tidak ada ideologi negara di mana pun yang begitu erat hubungannya dengan suatu bangsa dan suatu negara. Seperti di negeri kita ini. Intinya tidak ada Indonesia tanpa Pancasila.

Berbicara Pancasila juga berbicara Bhinneka Tunggal Ika, dan oleh karenanya berhubungan langsung dengan seluruh ide tentang negara Indonesia. Semboyan itu bukan hanya aksesoris Burung Garuda berdada Pancasila yang kita sepakati sebagai lambang negara.

Bila Bicara Pancasila Harus Bicara Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika, atau ke-esaan dari kebhinekaan bangsa kita bukan hanya berbicara bahwa kita sepakat menjadi satu bangsa walaupun berbeda suku dan agama, bahwa kita mendahulukan kepentingan kebangsaan daripada kesukuan kita. Tetapi, juga kita sepakat bahwa ada ke-esaan perspektif tentang tujuan negara, tentang ideologi kita dan kebersediaan semua elemen bangsa, apa pun agamanya, untuk sama-sama berjuang bagi kemanusiaan dan memelihara keragaman kita ini.

Bhinneka Tunggal Ika Pancasila bukan tujuan, tetapi batu pijakan, juga rambu-rambu berkebangsaan. Ketika semua ide tentang Pancasila dan hilang, negara ini otomatis sudah tidak lagi ada. Pancasila adalah darah dari semua kehidupan di negara ini.

Belakangan ini kita melihat keadaan di mana musyawarah dan persatuan bangsa tidak lebih penting dari tujuan kita ?melindungi Tuhan? Intoleransi yang meningkat secara sporadis diikuti diamnya hukum dan negara yang tidak bisa memberikan keadilan, menunjukkan ideologi ini sudah tidak lagi berpengaruh, pelan-pelan sebentar lagi hanya menjadi sejarah.

Pemerintah Membiarkan Teror
Pemerintah, baik di pusat atau di daerah, baik polisi berpistol atau Satpol PP, bukan hanya alat negara untuk menekan dan memaksa hukum. Tetapi, juga harus bisa merasakan apakah keadilan sedang berjalan di negeri kita, di bawah kekuasaan dan pengawasan mereka. Pemerintah dan tangan-tangannya adalah alat negara yang bisa menghukum dengan adil, dan lebih penting bisa merasakan penderitaan yang diderita rakyatnya. Tetapi, sayangnya dalam peristiwa ini, semua gagal total.

Bukan hanya mereka tidak bisa merasakan penderitaan rakyat. Tetapi, ikut serta menindas mereka, dan menutup-nutupi kejahatan dan kekerasan kepada masyarakat minoritas. Walau semua syarat hukum terpenuhi, dan semua tahapan pengadilan memihak kepada jemaat, hak-hak mereka tidak bisa diberikan.

Negara membiarkan teror terjadi, dan bahkan sukses menjadi kaki tangan pembuat teror bagi masyarakatnya. Apakah kita masih di negeri Pancasila? Apakah kita masih bisa percaya pada nilai-nilainya yang mempersatukan kita selama ini?

Kembalikan IndonesiaΒ 
Negara Indonesia telah memasuki usia 65 tahun. Umur yang cukup tua dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Bahkan, dibandingkan negara Asia pada umumnya. Negara kita bukan hanya kampiun demokrasi di antara negara
berkembang tetapi juga menjadi negara yang masyarakatnya paling religius di dunia.

Kita memiliki satu provinsi yang menjalankan norma yang diinspirasi agama tertentu. Kita juga memiliki hukum anti pornografi. Pun kita berjuang bagi penindasan Israel atas Palestina. Bahkan, rela mati. Hanya di Indonesia di mana satu pulau "diam" ikut berdoa ketika hari suci masyarakatnya dilangsungkan.

Kitalah negara yang memiliki satu kota yang berani mendeklarasikan dirinya "Kota Injil", dan kota lainnya, Serambi Mekkah. Kitalah bangsa yang ritual agamanya demikian menyentuh semua kehidupan masyarakat kita. Kita memiliki candi-candi yang dikuduskan oleh agama masyarakat kita. Yang menjadi tempat bangsa-bangsa dunia datang berdoa.

Kitalah bangsa yang membawa Tuhan dan menyebut namaNya ketika membuka acara apa pun. Kitalah bangsa di mana tak ada satu pun orang takut memakai salib, mengenakan jilbab dan turban di kepala, menyapa dengan salam damai Tuhan, dan hampir semua hari besar agama masyarakatnya disahkan menjadi hari libur nasional.

Tak banyak yang melakukan ini di dunia. Kitalah salah satunya. Agama, dan keagamaan bukanlah hanya bagian dari "saya" dan "keluarga saya" di negara kita. Tetapi, juga bagian dari "kita". Kita bukan hanya menghormati agama saudara-saudara kita tetapi bersedia melanggar pantangan agama kita sendiri, untuk sementara waktu, demi menolong sesama kita.

Memiliki agama, suku, atau bahasa yang berbeda adalah kekayaan yang mempersatukan kita, yang membuat kita unik, dan membuat kita bisa bertahan sampai 64 tahun bersatu. Sehingga, muncul pertanyaan, dari mana intoleransi ini mulai datang? Mengapa bangsa kita tiba-tiba pemarah dan suka meneror orang lain?

Apakah karena memang kita sudah lupa sejarah dan kebhinnekaan kita? Atau memang yang melakukan teror itu bukanlah orang Indonesia? Bukan orang-orang yang kita pernah kenal di atas? Mereka hanya kebetulan tinggal di Indonesia dan memiliki KTP yang sama dengan kita, tinggal, dan berteriak dengan bahasa yang sama dengan kita? Seolah-olah berjuang demi kita? Walau tingkah lakunya sama sekali bukan asli bangsakita?

Kalau benar demikian, kita semua harus melawan mereka, karena hanya jiwa Indonesia yang bisa menolong bangsa kita, yang bisa mengembalikan Indonesia yang kita kenal selama ini. Karena, hanya orang Indonesia yang percaya akan Pancasila dan pentingnya Ke-esaan dalam ke-Bhinnekaan yang mau berjuang bagi negara ini.

Pemerintah dan rakyat biasa, tak peduli apakah kita umat agama A, B, C, tak peduli apakah kita di pusat atau di daerah, tak peduli apakah kita orang kecil atau penguasa, apakah kita hanya memiliki kamera dan bukan pentungan. Masa depan bangsa kita ditentukan hari ini. Sekecil apa pun kita sudah saatnya berteriak: Kembalikan Indonesia.Β 

JF Sinaga
Jalan Kwitang Senen Jakarta
reduaaganis@gmail.com
34359000



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads