Fenomena mudik menjelang berakhirnya bulan Ramadhan yang terjadi pada masyarakat khususnya umat Islam di negeri ini diliputi kesibukan yang luar biasa bila dibandingkan hari sebelumnya. Pemandangan sibuk terjadi di terminal bis, stasiun kereta api, pelabuhan laut, dan biro-biro perjalanan.
Masyarakat yang ingin mudik membanjiri loket-loket tempat pemesanan dan penjualan tiket. Untuk memesan dan membeli tiket sebagian mereka berdesak-desakan. Saling dorong bahkan ada yang pingsan. Demikian pula dalam menggunakan jasa transportasi. Mereka juga tak luput menghadapi perjuangan serupa. Bahkan lebih keras.
Mudik: Saatnya Kokohkan Silaturahmi
Mudik (pulang kampung) tahunan ini sudah mendarah daging di tengah kita. Terlebih bagi sebagian besar umat Islam di kota-kota besar. Merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar di kampung halaman menjadi sebuah keharusan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersilaturahmi kepada orang tua, kerabat, teman lama, atau guru ngaji saat mudik merupakan tradisi yang sangat baik. Bahkan, tradisi ini sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW kepada kaum Muslim untuk mengokohkan ikatan persaudaraan.
Melaksanakan silaturahmi baik dilakukan pada bulan Ramadhan atau bulan-bulan lainnya dan akan bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar. Oleh sebab itu agar aktivitas silaturahmi itu bernilai ibadah sebaiknya kita melakukannya dengan cara berbuat baik. Seperti dengan membantu, menolong, membahagiakan, dan menyantuni kaum kerabat.
Berkaitan dengan anjuran silaturahmi pada bulan Ramadhan Rasulullah SAW telah menegaskan dalam khutbahnya saat menyambut bulan suci Ramadhan, "Barang siapa menyambungkan silaturahmi pada bulan ini (Ramadhan), Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan pada bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya".
Dalam khutbah Rasulullah SAW ini terkandung sebuah pesan betapa pentingnya silaturahmi. Betapa tidak, karena rahmat dan kasih sayang Allah sangat dipengaruhi oleh sikap kita terhadap silaturahmi. Bila kita menyambungkan tali silaturahmi itu sama artinya kita menyambungkan diri kita dengan rahmat Allah. Demikian pula, bila kita memutuskan tali silaturahmi, itu sama artinya dengan memutuskan diri kita dengan rahmat Allah.
Sungguh dahsyat dampak silaturahmi. Tidak hanya berdampak bagi kita di dunia. Tetapi, juga saat di akhirat kelak. Dalam hal ini silaturahmi dalam Islam tidak hanya menjaga hubungan baik dengan orang-orang dekat. Namun, juga termasuk perbuatan wajib yang berlimpah pahala.
Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang percaya pada Allah dan hari kemudian hendaknya menghormati tamu. Dan, siapa yang percaya pada Allah dan hari kemudian harus menghubungi sanak saudara (menjaga hubungan persaudaraan). Dan, siapa yang percaya pada Allah dan hari kemudian harus berkata baik atau diam" (HR Bukhari dan Muslim).
Silaturahmi tidak hanya mendekatkan hati kita dengan saudara atau tetangga. Tapi, juga semakin mendekatkan kita dengan yang Mahakuasa atas rizki, ajal, jodoh, dan kehidupan kita. Anas ra berkata: Bersabda Rasululah SAW: "Siapa ingin dilapangkan rizqinya, dan ditunda umurnya (ajalnya) hendaknya menghubungi famili" (HR Bukhari dan Muslim). Ditunda ajal ialah diberi berkat dalam umurnya sehingga berkahnya sangat besar dan luas sekali.
Bahkan, silaturahmi juga memberikan kita peluang untuk meraih kesuksesan di akhirat kelak. Seseorang bertanya: "Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku amal yang dapat memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan dari api neraka?" Jawab Nabi: "menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan denganNya sesuatu apa pun, dan mendirikan sholat, dan mengeluarkan zakat, dan menghubungi famili kerabat (silaturahim)" (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian bila tujuan mudik bukan untuk bersilaturahmi maka kita perlu mengingat sabda Rasulullah SAW ini: "Tiada akan masuk surga orang yang memutus hubungan famili" (HR Bukhari dan Muslim).
Kembali Ke Fitrah: Kembali ke Ketaatan kepada Allah SWT
Bersamaan dengan tradisi mudik untuk silaturahmi dan saling memaafkan, sebentar lagi kita pun akan menyambut satu hari yang indah, Idul Fitri. Namun, kita pun sepatutnya banyak beristigfar, karena boleh jadi meski ini jelas tidak kita harapkan ibadah shaum pada hari-hari Ramadhan yang kita lewati itu tidak mengantarkan kita untuk meraih derajat takwa sebagai hikmah dari kewajiban puasa yang telah Allah perintahkan kepada kita.
Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, dan Idul Fitri hadir di tengah-tengah kita, sejatinya kita banyak bertafakur dan melakukan muhasabah (instrospeksi diri): layakkah kita bergembira merayakan Idul Fitri, yang sering dimaknai sebagai "kembali ke fitrah" dan juga sebagai "hari kemenangan". Pertanyaan ini penting kita jawab dengan jujur agar kita meninggalkan bulan Ramadhan ini tanpa kesia-siaan serta merayakan Idul Fitri nanti tanpa kehampaan.
Andi Perdana Gumilang, S.Pi
Direktur Andi Pustaka 2010 dan alumni FPIK IPB
Email: andi.sangpenakluk@gmail.com
(msh/msh)











































