Mudik Nasional

Mudik Nasional

- detikNews
Selasa, 07 Sep 2010 17:51 WIB
Mudik Nasional
Jakarta - Setiap kali Idul Fitri datang fenomena mudik datang menghinggapi warga bangsa Indonesia. Sederet antrian panjang para pemudik memenuhi terminal pemberangkatan, di Bandar Udara, Stasiun Kereta Api, Terminal Bis antar kota dan antar provinsi. Di jalanan, deretan kendaraan sepeda motor menyemut berjejer menuju satu tujuan yang sama ke kampung halaman, tanah kelahiran.

Anton M Moelyono dkk (1988) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka menyebut mudik adalah pulang ke kampung halaman: seminggu menjelang hari lebaran sudah banyak orang yang mudik. Entah kapan kebiasaan mudik di setiap menjelang lebaran menjadi kebiasaan para pemudik. Yang pasti mudik telah menjadi suatu budaya nasional warga bangsa Indonesia. Ia menjadi sesuatu yang sakral bagi umat muslim Indonesia.

Setelah setahun berada di tanah perantauan Idul Fitri atau Lebaran adalah momentum yang paling tepat bagi warga perantauan untuk kembali ke kampung halaman, bersilaturahmi dengan keluarga, saudara, dan kerabat untuk saling bermaaf-maafan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak peduli berbagai rintangan dan kesulitan harus dihadapi di dalam perjalanan. Para pemudik rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket bis atau Kereta Api atau bahkan menyewa mobil. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum, berpanas dan berhujan di jalanan di atas sepeda motor, dan macet berjam-jam di jalanan menjadi pemandangan yang biasa. Tanpa henti dan tak pernah bosan para juru warta menginformasikan arus mudik melalui stasiun televisi, radio, dan surat kabar.

Mudik sebagai suatu budaya nasional telah melibatkan semua perangkat pemerintahan, kementerian perhubungan, aparat keamanan, pihak pengelola angkutan umum dan biro jasa perjalanan. Bagaimana kita dapat memahami budaya mudik nasional sebagai suatu gerakan nasional untuk kebangsaan dan kesejahteraan? Bagaimana pula budaya mudik nasional dapat menjadi pengikat solidaritas dan semangat kebersamaan bangsa Indonesia untuk mudik yang sesungguhnya.

Homeland
Ketertarikan terhadap kampung halaman pada homeland atau pada tanah air kelahiran tampaknya menjadi suatu kebutuhan rohaniah bagi bangsa Indonesia. Budaya mudik nasional menjadi contoh yang paling aktual dan akurat bagaimana warga bangsa Indonesia rindu terhadap suatu bagian di muka bumi ini yang dipandang sebagai bagian dari dirinya.

Dunia telah mencatatkan dalam sejarahnya betapa kuatnya kerinduan terhadap tanah air ini dalam sejarah bangsa Yahudi, atau pada perjuangan suku bangsa Kurdi, atau dalam sengketa perbatasan dari negara-negara nasional, kebangsaan. Terutama jika taraf kohesi kebangsaannya sudah cukup andal.

Tampaknya tidak cukup banyak indikasi di Indonesia akan berakhirnya negara kebangsaan sebagaimana di era globalisasi Kenichi Ohmae membayangkan akan datangnya the end of nation state. Ia membayangkan suatu negara tanpa tapal batas, the borderless state, di mana akan semakin banyak munculnya manusia kosmopolitan yang merasa bahwa seluruh dunia ini adalah tanah airnya.

Bagaimana warga bangsa Indonesia mengekspresikan terjadinya konflik Indonesia dan Malaysia serta budaya mudik nasional dapat mengkonfirmasi kepada kita atas bantahan akan berakhirnya suatu negara bangsa. Warga bangsa Indonesia masih memiliki kerinduan dan kecintaan terhadap kampung halaman.

Mudik sebagai budaya nasional tampaknya dapat menjadi pengikat rasa kebangsaan dan nasionalisme. Ia mampu menjadi solidaritas dan pengikat perjuangan terhadap suatu kedaulatan bangsa Indonesia. Ia mampu menjadi penyemangat persaudaraan, kebersamaan, budaya ramah tamah, sopan santun, lemah lembut, guyub, rukun, bersatu, dan kekeluargaan, serta lebih bersifat sosial dan berlaku adil terhadap sesama dan keluarga adalah suatu ritual yang mestinya dapat kita temukan pada setiap mudik lebaran. Cerminan budaya dan jati diri bangsa yang adi luhung semacam itu hendaknya yang mewarnai setiap kehidupan kebangsaan Indonesia, bukan malah sebaliknya.

Lebih dari itu, mudik tampaknya dapat pula menunjukkan tingkat kesejahteraan warga bangsa Indonesia. Kesadaran yang penuh atas kesiapan fisik, mental, dan kesiapan secara finansial harus dimiliki oleh setiap pemudik. Tidaklah mungkin para pemudik berani kembali ke kampung halaman tanpa memiliki tingkat kesejahteraan yang makin meningkat. Dapatlah dipastikan bahwa para pemudik akan memiliki etos dan kinerja yang baik dalam peningkatan kesejahteraan hidupnya bila setiap tahun harus mengikuti budaya mudik nasional.

Pertanyaan yang paling krusial yang mesti kita kemukakan agaknya sangatlah ironis bila fakta yang dapat kita saksikan di setiap mudik nasional tidak memiliki relevansi yang signifikan terhadap semangat kebangsaan dan peningkatan kesejahteraan para pemudik. Kebiasaan dan budaya mudik nasional hampa dari semangat pengikatan solidaritas kebangsaan dan perjuangan untuk peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan.

Ia hanya sekedar ritual tahunan yang mau tidak mau terpaksa harus dengan berbagai cara dilakukan untuk pulang ke kampung halaman. Meski setelah kembali dari kampung halaman tak berdampak apa-apa selain hanya melepas rasa kangen dan kerinduan.
Β 
Mudik yang Paling Hakiki
Tidak ada yang salah dari budaya mudik nasional yang dengan kesadaran dan keriang-gembiraan dilakukan oleh warga bangsa Indonesia. Ia menjadi kebutuhan yang sifatnya rohani dan spritual. Ia pada kondisi dan orang per orang tertentu menjadi pengikat solidaritas kekeluargaan dan kebangsaan. Namun, secara hakiki mudik nasional mesti menjadi suatu momentum bagi bangsa Indonesia untuk benar-benar melakukan mudik nasional yang sesungguhnya.

Mudik nasional yang paling hakiki bagi bangsa Indonesia adalah kembalinya jiwa-jiwa warga bangsa Indonesia dan umat Muslim Indonesia kepada fitrah kesuciannya (hanif). Pada fitrah kesucian itulah hakekat pulang ke kampung halaman yang sebenarnya. Ia adalah fitrah bagi setiap manusia dilahirkan.

Selama Ramadan setiap jiwa warga bangsa Indonesia melakukan pembersihan diri, mensucikan hati. Idul Fitri tempat kembali kepada fitrah kesucian (hanif), membangun silaturahmi, dan berbenah membangun negeri. Dengan jiwa kesucian setiap warga bangsa Indonesia setiap masalah-masalah kebangsaan, nasional dan lokal dapat diatasi.

Setiap warga bangsa Indonesia tidak boleh melupakan asal kesucian negeri ini didirikan. Setiap saat harus kembali kepada kesucian dan cita-cita mulia untuk:

" ... melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial."


Dengan jiwa-jiwa kesucian pula setiap warga bangsa Indonesia dapat berpartisipasi membangun negeri, menjadikan para pemimpin bangsanya memiliki amanah, selalu melayani, melindungi, dan dapat diteladani.

Acap kali mudik menjadi persoalan bagi pemudik, keluarga, orang lain, dan pemerintah. Kini saatnya setiap warga bangsa Indonesia harus segera melakukan mudik yang paling hakiki. Menapaki setiap perjalanan sejarah negeri ini. Selamat Mudik Nasional.

Wahyu Triono KS
Bhayangkara 9A PGS Cimanggis Depok
wahyu_triono2004@yahoo.com
87717007/081219921609

Penulis adalah Direktur CINTA Indonesia (Central Informasi Networking Transformasi dan Aspirasi Indonesia).



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads