Konflik Indonesia - Malaysia bukanlah perkara baru. Sudah timbul sejak era Bung Karno dan ternyata belum tampak ujungnya sehingga membekas dan terbawa hingga saat ini.
Entah siapa yang patut dipersalahkan terkait merebaknya permasalahan akhir-akhir ini karena keduanya bersikukuh akan kebenaran serta bersitegang untuk tidak menerima kesalahan yang ditimpakan. Tampaknya memang kedua negara sangat rentan dan rawan akan banyak digoyang berbagai macam konflik di masa-masa mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat fenomena konflik yang tiada berujung dan tuntas bahkan semakin meruncing menyibak suatu opini publik bahwa kekuatan lobi dan negoisasi Pemerintah Indonesia sangatlah lemah dalam berbagai sengketa dan penyelesaian suatu konflik. Kunjungan bilateral yang intensif selama ini ternyata kurang berdampak signifikan dalam membangun kesadaran yang mengakar hingga ke lapisan masyarakat Indonesia.
Hubungan G to G tidak lebih hanyalah formalitas pererat silaturahmi kalangan elit. Sedangkan hubungan person to person rakyat tidaklah demikian adanya. Oleh karenanya sedikit singgungan saja akan menyulut amarah dan emosi rakyat yang memang sejak awal telah tersimpan dan menyimpan kemarahan di mana siap diledakkan setiap saat dan di mana saja.
Lalu Bagaimana?
Menyikapi kekeruhan yang telah dan akan terjadi tidak bisa kita melulu menyandarkan pada gerakan dan kebijakan pemerintah. Hal ini karena proses penyelesaian belum sampai pada tataran berupa penyelesaian permasalahan akar rumput. Dengan demikian pendekatan kulturallah yang dimungkinkan untuk dilakukan.
Dalam konteks ini berupa pengembangan budaya dan semangat saling menghargai berlandaskan asas kebersamaan dan saling membantu. Apalagi dengan budaya dan adat yang tidak begitu berbeda. Penggalakan semangat satu keluarga serumpun dapat menjadi pengikat dan penghilang sekat-sekat kebencian dan permusuhan rakyat di kedua negara.
Β
Sekedar berbagi cerita bahwa pendekatan kultural dan pembauran antara rakyat Indonesia dan Malaysia telah dibuktikan dan dipraktikkan di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Antara Bangsa (PPI-UIA). Dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan serta tidak memperhatikan masalah yang terjadi para mahasiswa dengan semangat 45 dan tanggung renteng mengundang Anak-anak Yatim Piatu "Titian Kasih" yang berjumlah sekitar 40 orang. Mereka notabene adalah anak-anak Melayu bekewarganegaraan Malaysia.
Kedatangan mereka ke kampus kami dan sambutan kami yang hangat serta penuh persaudaraan seakan menyibak dan memupus suatu anggapan bahwa permasalahan kedua negara telah merenggangkan hubungan rakyat Indonesia - Malaysia. Justeru, kami para Mahasiswa UIA menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami semua adalah duta bangsa serta agen negara yang bertugas menormalisasi serta merekatkan kembali silaturahmi-silaturahmi antar kelas masyarakat kedua bangsa yang sempat renggang, bukan malah sebaliknya.
Acara PPI-UIA bersama anak-anak yatim Panti Asuhan "Titian Kasih" ini sekaligus merupakan suatu ekspresi bahwa tidak semua warga Indonesia larut dan turut dalam aksi pemboikotan dan meregang permusuhan dengan Malaysia. Sebaliknya kami mencoba aktif daalam aksi-aksi dan amal yang berisikan pesan perdamaian melalui aksi sosial ini.
Selain itu tak lupa sebagai wujud simpati dan syukur kami atas nikmat yang dianugerahkan oleh Tuhan maka PPI-UIA yang mewakili mahasiswa Indonesia yang bersekolah di UIA dengan didukung pula oleh pihak KBRI Kuala Lumpur, UPZ-BAZNAS, serta berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus bersama-sama juga secara resmi menyerahkan bantuan materi serta perlengkapan sekolah kepada segenap anak-anak yatim piatu yang notabene berkewarganegaraan Malaysia tersebut.
Β
Kesimpulan
Konflik akhir-akhir ini antara Indonesia - Malaysia tidak perlu disikapi terlalu berlebihan dan serius hingga merebak pada kerengangan hubungan rakyat kedua negara. Disadari atau tidak setiap konflik yang terjadi justeru merugikan. Baik dalam perspektif ekonomi maupun politik.
Dengan demikian setiap penyikapan yang dilakukan tetap dalam kerangka semangat saling menghormati dan menghargai. Berdasar pada prinsip-prinsip serta nilai-nilai luhur.
Salah satu bentuk penyikapan yang dapat dilakukan oleh rakyat kedua negara adalah berupa penggalakan aktivitas sosial untuk berbagi dalam bingkai silaturahmi dan semangat saling tolong menolong. Dalam konteks mahasiswa Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Islam Antara Bangsa (PPI-UIA) telah memulai aksi simpatik bernuansa spiritual dan kekeluargaan dengan menggelar Buka Puasa bersama Seluruh Mahasiswa Indonesia di UIA beserta Anak-anak Yatim Piatu "Titian Kasih" di Malaysia.
Aksi tersebut selain merepresentasikan baiknya hubungan rakyat kedua negara. Juga memperlihatkan jiwa dan semangat mahasiswa UIA sebagai duta bangsa yang mengemban amanah serta tanggung jawab untuk menjaga, memelihara, serta
mempertahankan harga diri serta martabat Bangsa dan Negara Indonesia tercinta pada berbagai situasi dan kondisi apa pun.
Akhirnya semoga usaha kecil yang telah kami lakukan dapat memberikan secercah cahaya dan harapan akan kembali normalnya serta harmonisnya hubungan antara Indonesia-Malaysia. Baik saat ini dan di masa mendatang.
Β
Dimas Bagus Wiranata Kusuma
Kandidat Master of Economics Universiti Islam Antarabangsa (UIA) Kuala Lumpur
Pengamat Ekonomi dan The Founder Institute of Economic and Political Studies for New Indonesia Development (INSTEAD)
dimas_economist@yahoo.com
(msh/msh)











































