Edukasi kebencanaan dapat diartikan sebagai segala upaya, metode, dan operasional untuk memberikan pengetahuan, pemahaman, dan sikap positif masyarakat terhadap situasi kebencanaan sehingga memunculkan rasa tahu dan sikap proporsional dalam menghadapi bahaya bencana.
Selama ini masyarakat hanya diberikan warning jika ada bencana datang tanpa ada edukasi memadai mengenai langkah-langkah kesiapan dan prosedur menghadapi bencana itu. Padahal, edukasi kebencanaan dinilai amat penting untuk penyiapan mental dan kesadaran publik dalam melakukan tindakan-tindakan cepat pada saat dan sesudah bencana terjadi. Edukasi juga dapat meminimalisir korban jiwa karena masyarakat akan memperoleh pemahaman tentang penyelamatan jiwa saat bencana itu terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap masa bodoh dan tidak peduli yang lahir dari kurangnya pemahaman akan arti kebencanaan dan mitigasinya, berisiko besar terhadap jatuhnya korban bencana. Sehingga, edukasi ini seharusnya menjadi program yang terus-menerus dilakukan agar menjadi habits (kebiasaan positif) masyarakat yang dilakukan secara sadar dan massif.
Urgensi Edukasi
Setidaknya ada empat hal mengapa edukasi kebencanaan menjadi amat krusial khususnya bagi masyarakat kota yang rawan bencana. Pertama, memberikan pengetahuan dasar tentang kebencanaan. Kurangnya pemahaman tentang arti kebencanaan menyebabkan sebagian masayarakat tidak siap dan tidak siaga terhadap kemungkinan bencana yang datang.
Mereka hanya mengikuti takdir alam dan tidak mau ambil pusing terhadap perkara bencana. Sikap apatis ini jelas akan merugikan masyarakat itu sendiri karena mereka yang akan menanggung risiko bencana. Oleh karenanya edukasi bencana amat perlu dilakukan agar masyarakat memiliki mindset terbuka terhadap informasi dan data kebencanaan yang diperolehnya. Sehingga, secara perlahan, masyarakat mulai menyadari arti penting dari kesiapsiagaan bencana ini.
Kedua, edukasi kebencanaan dapat memberikan motivasi dan semangat responsif kepada masyarakat dalam menghadapi situasi kebencanaan. Ketika masyarakat mulai memahami dan ikut ambil bagian dalam kesiagaan bencana mereka akan termotivasi secara kolegial untuk bersama-sama siaga dan melakukan langkah-langkah antisipasi bencana. Mereka melakukan gerakan posdaya (pos pemberdayaan) dan memunculkan RW-RW siaga misalnya, guna mengantisipasi setiap kejadian bencana di wilayahnya.
Ketiga, edukasi kebencanaan mampu merekatkan solidaritas sosial yang selama ini menjadi 'barang mahal'. Terutama di masyarakat kota yang individualistik. Dengan edukasi kebencanaan dimunculkan rasa tanggung jawab sosial bersama tanpa pembedaan strata sosial sehingga mampu bertahan lama dan bersifat tulus.
Dalam situasi bencana, tentu saja setiap individu masyarakat memikul tanggung jawab terhadap keselamatannya masing-masing. Namun, dengan edukasi bencana, rasa tanggung jawab sosial juga dikuatkan agar tidak timbul sikap acuh tak acuh terhadap problem yang dialami oleh anggota masyarakat lainnya. Tanpa ada edukasi bencana yang mengajarkan rasa kebersamaan tentu akan sulit rasanya kita membangun empati terhadap orang lain.
Keempat, edukasi bencana diharapkan mampu mengurangi dampak dan meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Pemahaman dan simulasi bencana yang diberikan saat edukasi kebencanaan diharapkan menambah knowledge dan sikap responsif saat bencana betul-betul terjadi sehingga mengurangi jatuhnya korban jiwa yang lebih besar.
Tanpa dibekali pengetahuan dan simulasi yang memadai, dampak dan korban jiwa akibat bencana gempa bumi misalnya, amat sulit ditekan. Oleh karena itu edukasi kebencanaan menjadi hal yang conditio sine qou non khususnya bagi masyarakat agar mereka memiliki bekal dan pemahaman yang menyeluruh dalam mengantisipasi datangnya bencana.
Kurikulum Lokal
Mengingat urgensi edukasi kebencanaan yang demikian besar pemerintah hendaknya segera melakukan program edukasi ini secara simultan dan massif. Salah satu cara efektif dapat dilakukan melalui sosialisasi melalui wadah-wadah masyarakat seperti perkumpulan PKK, Karang Taruna, Majelis Taklim, dan sebagainya.
Edukasi ini juga akan menjadi lebih efektif manakala pemerintah memberikan training khusus tentang kebencanaan kepada fasilitator-fasilitator masyarakat (FM) yang nantinya akan mengedukasi kebencanaan di wilayahnya masing-masing. Keberadaan FM ini menjadi penting untuk melakukan mobilisasi dan evaluasi terhadap edukasi kebencanaan yang
telah dilaksanakan di suatu wilayah.
Pemerintah juga dapat memasukkan program edukasi kebencanaan ke dalam kurikulum lokal mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMU sehingga pemahaman tentang mitigasi bencana ini dipahami lebih dini. Bagaimana pun salah satu korban terbesar bencana alam seperti gempa bumi adalah anak-anak usia sekolah sehingga edukasi bencana menjadi penting bagi mereka.
Tentu saja edukasi yang diberikan kepada anak-anak sekolah harus diajarkan dengan cara penuh kesabaran mengingat mereka belum memiliki kepribadian yang stabil. Metode permainan (games) dan simulasi ringan dapat merangsang anak-anak usia sekolah untuk memahami lebih jauh tentang pentingnya mitigasi kebencanaan ini.
Akhirnya kita semua berharap edukasi kebencanaan ini menjadi program nasional yang dijalankan pemerintah khususnya bagi masyarakat kota yang rawan bencana. Ini mengingat masih minimnya edukasi kebencanaan yang selama ini diterima oleh masyarakat. Padahal, ancaman bencana alam seperti gempa bumi sering terjadi.
Oleh karena itu langkah-langkah darurat dalam menyiapkan edukasi kebencanaan ini harusnya segera dilakukan pemerintah sehingga masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan bencana yang terjadi. Edukasi kebencanaan adalah hak masyarakat yang harus dilaksanakan pemerintah.
Darma Wijaya SIP
Jl Malaka RT 04/06 No 38
Munjul Cipayung Jakarta Timur
darmawijaya78@gmail.com
0817142121
Relawan Kemanusiaan, Penerima Satya Lencana Kebaktian Sosial 2005.
(msh/msh)











































