Sebuah keragaman yang tersusun indah. Tak ada satu pun negeri yang seperti ini. Tidak negeri jauh, tidak pula negeri tetangga. Tuhan menyusun Indonesia terlalu sempurna.
Mungkin kita terlalu terbiasa dengan perbedaan. Bahkan, perbedaan-perbedaan yang ekstrim sekali pun, karena memang atas dasar itulah negeri kita disusun. Konon namanya adalah kemajemukan. Bhinneka Tunggal Ika. Walau saudagar dan sudra, tapi tetap merasa sebagai saudara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sampai setengah jam jalan kaki saya menemukan banyak sekali orang-orang yang senasib dengan laki-laki pemeluk tas tadi. Sungguh, trotoar adalah tempat tidur terpanjang di dunia.
Namun, menurut saya ada jalanan yang lebih bisa mewakili Bhinneka Tunggal Ika dengan lebih pas daripada jalanan di Jember, yaitu Jalan Dhoho Kediri, yang merupakan salah satu ruas jalan utama di Kediri.
Kalau malam-malam kita jalan menyusuri Jalan Doho, dengan mata telanjang kita akan lihat betapa di sepanjang jalanan ini begitu banyak jenis makanan tersedia. Mulai pecel tumpang, urap-urap, ayam goreng, sate, roti, hingga berbagai jenis makanan lainnya. Yang tentu lebih banyak adalah pengunjungnya. Tertawa canda menikmati malam sepanjang Doho.
Saya gembira melihatnya. Inilah pesta ala rakyat. Tak ada dana triliunan ala Century. Tak ada penggelapan senilai miliaran ala markus pajak. Ya, inilah pesta rakyat. Namun, kawan, jangan lupa. Ini adalah negeri yang berslogan Bhinneka Tunggal Ika. Semua yang berbeda hidup di alam yang sama.
Di Jalan Doho yang menyenangkan ini, jika hari semakin malam maka akan semakin banyak orang-orang dengan tampilan menyedihkan terbaring begitu saja sepanjang jalan. Di sela-sela penjual makanan. Adu banyak dengan mereka yang berpesta menikmati malam terbaring tanpa masa depan. Sambil menatap bintang-bintang.
Di sekolah, selamanya kisah tentang bintang-bintang adalah kisah tentang keindahan. Di jalanan, selamanya kisah tentang bintang-bintang bersaudara dengan kelaparan. Tentu saja, saya bukan orang yang taat beribadah. Namun, malam itu gemetar hati saya saat ingat sabda Muhammad yang mengatakan bahwa "Tidaklah disebut orang mukmin, yang kenyang, sementara tetangganya kelaparan".
Fajar Subchan
fajar_ms@yahoo.comΒ
08111983424
Penulis, Anak Bangsa
(msh/msh)











































