Pertama, momentum yang terkemas khusus bagi kaum muslimin, berupa kedatangan tamu agung yang senantiasa dinanti dan dirindukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, yaitu bulan Ramadan. Kedua, peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang pada tahun ini tengah menapaki usianya yang ke-65.
Kedua momen sakral yang datang hampir secara berbarengan ini merupakan sebongkah anugerah yang patut disyukuri. Betapa tidak. Hingga detik ini bangsa Indonesia masih bisa menghirup dengan bebas hawa kemerdekaan dari kepungan dan dominasi imperialisme, imperialisme dalam definisi tersempit berupa hegemoni sepihak kaum penjajah yang mengangkangi sebuah wilayah berdaulat. Padahal, di saat yang sama, di belahan dunia sana jutaan entitas Muslim masih saja tertindas di bawah bendera angkuh zionisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari tahun ke tahun, perbincangan seputar tajuk kemerdekaan dalam cakupan peringatan proklamasi pada dasarnya tak begitu banyak berubah. Setidak-tidaknya hanya berkisar pada apa dan bagaimana perjuangan para pahlawan dahulunya dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan.
Di titik ini, nuansa yang cukup kental biasanya berupa kontemplasi, refleksi, dan reaktualisasi nilai-nilai kemerdekaan dalam konteks kekinian. Pun pembacaan atau wacana yang kemudian kerap diketengahkan ke permukaan adalah bagaimana agar spirit perjuangan para pahlawan mampu teradopsi dan terserap oleh generasi muda khususnya dalam membangun Indonesia ke depan.
Hanya saja, semangat menggebu-gebu semacam ini acap kali terhenti pada tataran wacana saja. Alias tanpa ada upaya tindak lanjut. Celakanya lagi, penggelindingan opini-opini konstruktif tersebut terkesan sedikit "dipaksakan" lantaran momennya "bertepatan" dengan peringatan proklamasi kemerdekaan RI.
Sebagai sampel sederhana, ketika momentum tahunan ini diperingati, biasanya akan terdengar selentingan wacana seputar bagaimana meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan yang sudah mulai terkikis di kalangan anak negeri. Namun, betapa pun, poin ini hanyalah satu dari sederet aura sesaat yang menyemburat saat peringatan ulang tahun negeri ini digelar.
Hal yang lebih menonjol tentu bukan wacana-wacana dialogis seputar refleksi kemerdekaan itu. Melainkan perayaan-perayaan masif yang diselenggarakan oleh publik guna menyemarakkan even tahunan tersebut. Semisal lomba panjat pinang, balap karung, lomba makan kerupuk, dan pelbagai perlombaan sejenisnya yang begitu identik dan familiar dengan momen skala nasional ini.Β
Lebih jauh, menyoal tentang Ramadan, jamak diketahui bahwa bulan ini merupakan masa-masa diwajibkannya berpuasa bagi umat Islam selama sebulan penuh. Berpuasa dalam artian sebenar-benarnya tidaklah melulu menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia sesungguhnya juga bermakna mempuasakan diri dari beragam perilaku dan tindak-tanduk yang bisa mencederai nilai-nilai spiritual puasa.
Ketika seseorang berada dalam kondisi berpuasa pada bulan Ramadan, maka pada hakikatnya ia tengah memerdekakan dirinya dari kesemua bentuk belenggu dan tirani yang mampu menghegemoni ke arah negatif dan keburukan. Jika dianalogikan, maka Ramadan bisa diumpamakan sebagai sebuah instrumen paket pelatihan guna melepaskan setiap individu Muslim dari kungkungan nafsu dan egoisme diri yang boleh jadi menggurita selama sebelas bulan.
Pada gilirannya, capaian yang diharapkan adalah terciptanya insan-insan Muslim yang betul-betul merdeka dari sikap dan perilaku-perilaku negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai normatif moral dan Islam. Dengan kata lain, terlahir kembali seumpama sosok-sosok baru yang bersih dari dosa. Sebab, selama sebulan penuh mereka telah "dikebiri" dan dikarantina dengan sedemikian rupa untuk memerangi segala bentuk nafsu tatkala berpuasa.
Hanya saja, realita di lapangan agaknya masih sangat bertolak belakang dengan teori ideal puasa. Buktinya, betapa kerap terlihat bahwa puasa seakan-akan hanyalah rutinitas tahunan bagi sebagian orang. Puasa jalan, maksiat dan tindak kejahatan pun lanjut terus. Pada akhirnya, Ramadan tinggal Ramadan, tanpa membuahkan hasil dan pencapaian apa pun.
Euforia Kemerdekaan Tanpa Hura-hura
Kembali ke perbincangan tentang tema kemerdekaan. Pada perhelatan proklamasi kemerdekaan tahun ini agaknya ada yang sedikit berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya. Apa pasal? Jika pada tahun-tahun yang lampau momen peringatan proklamasi digelar beberapa pekan sebelum Ramadan, maka pada tahun ini jika menilik hitung-hitungan penanggalan kalender Masehi dan Hijriyah, ulang tahun Republik Indonesia yang ke-65 jatuh pada saat umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Dalam pembacaan sederhana, kedatangan Ramadan yang berpapasan dengan momentum peringatan proklamasi ini akan melahirkan banyak berkah dan hikmah positif. Salah satunya, spirit kemerdekaan jelas sangat berkait-kelindan dengan visi Ramadan, yaitu melahirkan pribadi-pribadi bertakwa yang bebas dan merdeka secara menyeluruh, sehingga pada diri mereka terbentuk kematangan yang sempurna guna melaksanakan segala tuntutan ajaran Islam.
Oleh karena itu, publik negeri ini baik itu Muslim maupun non-Muslim diharapkan benar untuk menghormati kesucian bulan Ramadan dengan tidak menggelar acara dan kegiatan yang mengandung unsur hura-hura atau bahkan yang rentan menyinggung perasaan orang-orang yang tengah berpuasa. Hal itu bukan berarti jika tak ada momen proklamasi maka dengan serta-merta juga tidak akan ada acara hura-hura.
Akan tetapi, sebagaimana lazim diketahui, even perhelatan kemerdekaan adalah saat-saat yang begitu "potensial" dan krusial untuk menyelenggarakan acara yang berorientasi dan berembel-embel apa pun. Di titik ini, kesakralan nilai-nilai Ramadan sudah barang tentu tidak perlu diperdebatkan lagi. Namun, terkait dengan nuansa peringatan proklamasi, sepertinya hanya butuh penyesuaian dengan kondisi yang ada, tanpa harus mereduksi hal tersebut secara utuh.
Sekitar dua pekan yang lalu, di situs jejaring sosial facebook sejumlah teman di Indonesia menulis coretan status seperti ini:
"Demi menghormati kedatangan bulan Ramadan, dihimbau kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak menggelar acara lomba makan kerupuk pada momen 17 Agustus yang akan datang." Tentu pada prinsipnya bukan sekadar lomba makan kerupuk yang berkemungkinan besar cukup mengganggu kaum muslimin yang sedang berpuasa, namun juga acara-acara sejenis yang barangkali tidak sejalan dengan spirit dan nuansa Ramadan. Sebagai alternatif, barangkali formula kegiatan yang diadakan bisa sedikit dimodifikasi menjadi kegiatan-kegiatan sosial atau yang bertema religius. Ketimbang menggelar acara-acara yang kontra produktif, bukankah akan lebih positif dan bermanfaat ketika misalnya even ulang tahun kemerdekaan nanti diisi dengan berlomba-lomba menyantuni anak yatim dan fakir miskin? Atau paling tidak dalam ruang lingkup yang lebih kecil dengan saling berpacu memperbanyak amalan yang mampu mendulang pundi-pundi pahala yang berlimpah-limpah di bulan Ramadan?"
Sesungguhnya, cukup banyak celah hikmah yang bisa ditangkap dari kedua momentum berharga ini. Terlebih lagi dengan meresapi benar-benar makna kemerdekaan dan nilai-nilai Ramadan secara luas dan makro. Dalam konteks kenegaraan misalnya, kebijakan yang ditempuh oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring untuk memerdekakan generasi muda dengan cara memblokir situs-situs porno menjelang Ramadan patut diacungi jempol.
Bagaimanapun, tentu tak bijak jika kita hanya berpuas diri pada level tersebut. Sebab, kemerdekaan yang dicita-citakan bersama adalah kemerdekaan yang menyeluruh dan komprehensif di berbagai lini. Baik dalam skala kecil maupun besar.Β Β Β
Jemmy Hendiko
Mahasiswa Al-Azhar University, Cairo, Egypt
Faculty of Sharia And Jurisprudence
Aktivis Studi Informasi Alam Islami (SINAI) Cairo
Mobile: +20167986718
Email: ibnsyams5_jem@yahoo.com
(msh/msh)











































