Ongkos Macet

Ongkos Macet

- detikNews
Jumat, 13 Agu 2010 18:42 WIB
Ongkos Macet
Jakarta - Macet. Itulah satu kata yang menjadi makanan sehari-hari warga kota besar. Seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan banyak kota besar di Indonesia dan juga di negara-negara lain. Setiap keluarga mesti memulai aktivitas mereka lebih awal di pagi hari, dan tiba kembali di rumah ketika matahari sudah jauh meninggalkan sore hari. Waktu sebagian besar dihabiskan di jalan, berdesakan, menguras tenaga, dan pikiran, menguji kesabaran, dan tentu, menambah biaya pengeluaran setiap keluarga.

Secara hitungan sederhana berapakah biaya kemacetan yang mesti dikeluarkan oleh warga Jakarta akibat kemacetan yang sudah membabi buta itu? Mari kita hitung.

Menurut data yang di keluarkan oleh Komisi Kepolisian Indonesia di dalam website-nya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta hingga bulan Juni 2009 adalah lebih dari 9,9 juta kendaraan, yang terdiri dari 2,05 juta mobil penumpang, 308 ribu mobil bus, 500 ribu mobil barang, 7 jutaan sepeda motor, dan sisanya kendaraan khusus (seperti mobil pemadam kebakaran dan ambulan).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menyederhanakan perhitungan mari kita asumsikan bahwa yang mengalami kemacetan tiap hari itu adalah mobil penumpang, mobil bus, dan mobil barang. Total semuanya adalah 2,8 juta kendaraan. Walaupun, jumlah sepeda motor dan kendaraan khusus yang mengalami kerugian akibat kemacetan tidak sedikit.

Kemudian, kita asumsikan lagi bahwa dari 2,8 juta kendaraan, masing-masing kendaraan terpaksa menambah konsumsi bahan bakar dalam kondisi kendaraan tidak bergerak akibat macet 2 (dua) liter per hari (satu liter waktu berangkat dan 1 liter ketika pulang ke rumah). Artinya, jika sehari kendaraan memerlukan 10 liter bahan bakar untuk pergi pulang, akibat kemacetan kendaraan tersebut termasuk 'minum' 12 liter per hari. Walaupun sebenarnya angka ini akan semakin besar untuk tingkat kemacetan yang sudah masuk dalam kategori amburadul.

Nah, jika dalam satu tahun semua kendaraan itu beraktivitas selama 300 hari, maka biaya yang mesti dibayar akibat bahan bakar yang dibakar percuma akibat kemacetan adalah 2,8 juta kendaraan x 2 liter premium x Rp 5,000 per liter x 300 hari aktivitas = Rp 8,4 triliun.

Saya tidak tahu apakah uang Rp 8,4 triliun itu besar atau tidak. Tapi, dengan uang sebesar itu, kita bisa membangun sekolah dasar dengan anggaran Rp 1 miliar sebanyak 8.400 sekolah. Kalau untuk menghasilkan seorang doktor diperlukan dana sebesar Rp 1 miliar, maka uang Rp 8,4 triliun itu cukup untuk menghasilkan 8.400 doktor baru.

Berapa banyak jalan rusak yang bisa diperbaiki dengan uang sebesar Rp 8,4 triliun, yang lebih besar dari dana kasus Bank Century. Berapa banyak Puskesmas bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang jauh lebih baik dengan uang sebanyak itu?

Angka di atas tentu saja akan semakin meningkat tajam jika kita memperhitungkan kemacetan yang juga dialami oleh sepeda motor yang jumlahnya sekitar 7 jutaan itu. Belum lagi kalau kita memperhitungkan biaya stres dari penumpang akibat kemacetan, terjadinya penurunan produktifitas kerja, berkurangnya waktu bersama keluarga, dan lain-lain.

Jadi, secara nasional, berapa bahan bakar yang dibakar percuma dan ongkos kemacetan yang mesti ditanggung oleh rakyat Indonesia? Saya tidak berani membayangkan berapa triliun rupiah uang rakyat yang kita bakar percuma setiap tahun akibat kemacetan itu. Tapi, saya yakin, seandainya kita bisa mengurangi setengahnya saja dari kerugian kemacetan itu, kita tidak akan pernah melihat lagi ada anak jalanan yang meminta-minta atau mengamen di perempatan jalan. Dan, tidak akan ada lagi cerita ada sekolah-sekolah yang mau tutup gara-gara bangunannya ambruk. Semoga.

Dr Eng Turnad Lenggo Ginta
Dosen, Pemerhati masalah teknologi dan sosial
Tinggal di Kota Damansara, Kuala Lumpur
Email: turnad@gmail.com



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads