Momen yang selalu dinanti bagi umat Islam yang merindukan datanganya bulan ampunan dan berkah bagi yang menjalankan ibadah di dalamnya. Namun, di tengah hiruk pikuk kondisi bangsa yang masih terombang ambing oleh berbagai masalah yang tak kunjung usai apakah kita sudah siap untuk menyambutnya.
Memaknai puasa sebagai bagian dari ritual spiritualitas umat Muslim tidak hanya terfokus pada kepentingan individu. Puasa tidak hanya sebagai momen memperkuat hubungan transendensi namun di balik hadirnya bulan puasa adalah terkandungnya nilai-nilai sosial terhadap sesama yang harus kita tumbuhkan dan dipelihara untuk terwujudnya social justice atau keadilan sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika mengkontekstualisasikan dengan kehidupan kontemporer maka kita akan melihat realitas yang berbanding tebalik dengan kehidupan yang diharapkan. Agama belum mampu menopang kehidupan negara dari hadirnya bermacam chaos yang senantiasa menyelimuti kehidupan kita.
Puasa dapat menjadi instrumen untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Saatnya puasa menjadi refleksi bagi kita untuk mengorek lebih dalam akan keberagaman kita. Baik secara transendesi maupun kehidupan sosial kita. Puasa dapat menjadi tempat aktualisasi diri dalam menjalankan kehidupan beragama dan bernegara secara balance.
Pertama, memahami hakikat berpuasa. Puasa tidaklah sebagai kegiatan formalitas namun di dalamnya mempunyai nilai substansial untuk memperkuat diri. Umat Muslim harus mewaspadai gelombang arus formalis yang banyak dijumpai dalam kehidupan faktual.
Jurang ketidakberdayaan selalu mengintai aktifitas berpuasa kita. Godaan dan gangguan akan mudah dijumpai di tengah-tengah kehidupan kita. Sehingga, mentalitas harus dipersiapkan lebih dini guna menghadapi situasi yang tak terduga melihat kehidupan modernis saat ini yang bergelimang hedonis dan chaos menjadi tantangan bagi umat Muslim untuk tetap menjaga konsistensi dalam kebaikan.
Kedua, memahami keberagamaan kita. Pada dasarnya agama Islam sebagai sense of life memiliki tanggung jawab moral dalam memberikan pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yaitu sebagai sacred canopy atau naungan suci untuk kebaikan bersama.
Dalam kasus yang berkembang saat ini umat Muslim belum mampu memberikan kontribusi secara optimal terhadap kehidupan beragama dan bernegara. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia umat Muslim di Indonesia masih belum mampu mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan nyata. Maka perlunya sikap tegas dari umat Muslim untuk menjaga konsistensi dalam menjalankan keberagamaan dalam bernegara sesuai dengan tuntunan.
Momen bulan puasa menjadi waktu yang tepat untuk kembali menginterseksikan kehidupan beragama dan bernegara dengan menjalankan puasa secara substansi. Bukan sekedar mengikuti arus formalis. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya memperkuat kedudukan kita di hadapan Tuhan dan sekaligus misi kemanusiaan kita.
Puasa mengandung nilai-nilai sosial harus mampu diimplementasikan sebagai agen sacred canopy dalam kehidupan bernegara untuk mewujudkan keadilan sosial masyarakat. Keadilan sosial dapat melalui pengembangan sikap emansipatif kepada orang yang lebih lemah.
Puasa memberikan pelajaran penting pada kita agar mengetahui bagaimana kehidupan orang-orang yang lemah (mustad-afin). Memupuk sikap empati terhadap oarng yang miskin dan lemah agar kita mengetahui dan ikut merasakan kondisi tekanan hidup mereka.
Puasa mengajarkan akan rasa syukur atas kelebihan yang kita miliki untuk berbagi dengan mereka. Maka dalam Islam juga dikenal dengan mekanisme shodaqoh, zakat, infaq yang bertujuan untuk berbagi dan melatih kepekaan kita dalam memahami realitas kehidupan sekitar kita.
Keadilan sosial juga berarti sikap toleransi kepada sesama. Puasa bukan menjadi alasan untuk memasung umat untuk kepentingan tertentu yang justru akan mendiskreditkan hak-hak sesama. Puasa menjadi tempat untuk merefleksikan diri akan kehidupan bersama yang penuh keanekaragaman. Menjalin sikap toleransi antar sesama dan memperkuat solidaritas sesama menjadi salah satu kunci pengembangan nilai-nilai puasa.
Maka puasa merupakan waktu yang tepat untuk kembali merefeleksikan diri dengan memahami hakikat puasa dengan menginterseksikan antara kehidupan beragama dan kehidupan bernegara. Dan, merintis kembali tujuan mulia dari puasa yaitu melatih kita untuk melihat realitas kehidupan bersama dengan saling berbagi demi terciptanya keadilan sosial yang sesungguhya. Sehingga, datangnya bulan suci Ramadhan dapat kita sambut secara konstributif untuk memberikan warna lain dalam kehidupan bersama.
Muhammad Amiruddin
Sleman Yogyakarta
admire_din@yahoo.com
085730465800
(msh/msh)











































