Politik (Global) Bola

Politik (Global) Bola

- detikNews
Rabu, 21 Jul 2010 08:35 WIB
Politik (Global) Bola
Jakarta - Franklin Foer mengatakan bahwa sepak bola bukan hanya sekedar pertandingan. Tetapi, bahkan a way of life. Sepak bola merupakan jendela untuk melihat simpang siur dunia sekarang ini. Baik suka dan dukanya. Begitulah Foer mengurai dunia sepak bola dalam buku laris (US bestseller), How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization (edisi 2010).

Buku Franklin Foer yang sehari-hari menjadi editor The New Republic dan menulis di berbagai media besar AS ini sebetulnya sudah dipasarkan sebelum Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Cetakan pertamanya bahkan di tahun 2005 diterbitkan lagi tahun 2006 sesuai dengan demam Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan. Lalu di awal tahun 2010 ini dicetak ulang lagi dengan revisi dan kata akhir. Saya bahkan telah membelinya sekitar satu atau dua bulan yang lalu tetapi baru teringat setelah gemuruh Piala Dunia tahun ini usai.

Yang pasti setelah membolak-balik dan membaca cepat buku Foer saya temukan bahwa Henry D Fetter yang menulis di The Atlantic sama sekali tidak original. Fetter yang di tulisan lain saya kutip argumen ringkasnya --yang mengaitkan antara negara pemenang Piala Dunia dengan sejarah otoriterisme, ternyata hanya mengetengahkan angle lain dari uraian Foer yang lebih ekstensif tentang Bagaimana Cara Memenangi Piala Dunia (How to Win the World Cup). Demikian tidak originalnya Fetter sampai-sampai judul artikelnya di The Atlantic dimuat sama persis. Padahal tanpa sepotong rujukan pun kepada Foer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya memang bukan pengamat dan penggemar sepak bola yang intens. Oleh sebab itu tidak banyak aspek historis sepak bola dunia yang saya ketahui secara mendalam. Yang menarik bagi saya adalah bahwa sepak bola --sebagaimana olah raga bertataran dunia lainnya, merupakan medium ekspresi untuk unggul menjadi pemenang. Termasuk sampai tingkat persaingan global. Secara ideal ia juga merupakan ajang bermain sportif, jujur, dan adil (fair play); mengakui yang menang dengan besar hati.

Itu pula sebabnya maka sepak bola merupakan medium kompetisi global dalam format yang lain. Walaupun bukan sebagai sebuah varian dari teori globalisasi seperti diharapkan Foer sepak bola yang sekali dalam empat tahun berhasil menyita perhatian penuh massa dari seluruh pelosok dunia melalui kompetisi Piala Dunia adalah suatu fenomena unik yang penuh suka dan duka.

Sepak bola memang membawa ragam aksi dan reaksi. Sepanjang sejarah pertandingan ini di tingkat internasional, paling tidak sejak diawalinya Piala Dunia 1930, berbagai sebab-akibat dari pertandingan sepak bola telah tercatat. Dalam buku Foer, ia menguraikan holiganisme para fanatik sepak bola. Termasuk keterlibatan Red Star Belgrade dalam Perang Balkan di tahun 1990-an. Tentu dunia telah mencatat panjang sejarah huliganisme penggemar sepak bola. Bahkan di negeri kita yang timnya masih berpayah-payah walaupun hanya melawan negara tetangga.

Faktanya memang sepak bola dan kekerasan bisa saling berpaut. Bukan hanya antar pendukung tim kesebelasan lokal tetapi juga antar negara. Simaklah sebagai contoh perang empat hari yang pecah antara Honduras dan El Salvador di tahun 1969 gara-gara kualifikasi Piala Dunia 1970.

Dalam buku Foer, salah satu bahasannya yang menarik barangkali yang terkait dengan Iran sebagai contoh untuk harapan dunia Islam. Benar bahwa contoh yang diambil Foer sangat sempit. Namun, tetap menarik dimaklumi sesuai konteksnya. Ia menyebutkan bagaimana sepak bola di Iran lebih jaya perkembangannya di era rezim sekuler Reza Pahlevi, sebelum para Ayatollah memegang tampuk politik.

Perempuan, kata Foer, menyamar dalam pakaian laki-laki hanya agar dapat menyaksikan pertandingan sepak bola di Azadi, stadion terbesar di Teheran yang berkapasitas 120 ribu tempat duduk. Ia juga menuliskan bahwa ketertutupan Iran pasa Shah mengakibatkan pertandingan Piala Dunia yang disiarkan di televisi sekaligus menjadi jendela melihat kemajuan dunia barat melalui papan iklan yang ditampilkan di sekitar lapangan: PlayStation, Doritos, Nike. Film Abbas Kiarostami, Life Goes On, juga dikutip, khususnya scene ketika di saat akan terjadinya gempa besar di Iran orang masih asyik mengutak-atik antena untuk mendapatkan gambar pertandingan yang lebih jernih antara Austria dan Skotlandia.

Benar bahwa sepak bola dapat lebih dari sekedar sebuah pertandingan. Ia lebih dari sekedar taruhan kecil-kecilan (petty gambling) para pendukung dari sebuah klub versus klub lainnya. Para penggemar sepak bola pun dapat menunjukkan karakter kasar, tidak sopan, dan berlebih-lebihan sebagai efek dari kalah menangnya tim yang didukung. Di tingkat internasional pertandingan sepak bola bahkan dapat terpaut dengan identitas kebangsaan dan nasionalisme, faktor yang memperbesar perpecahan, bahkan perang, namun juga medium diplomasi yang membanggakan.

Lantas, apa saja yang dapat dicatat dari sejarah pertandingan Piala Dunia selama ini? Kalau menurut Franklin Foer, dengan mengumpulkan data yang tersedia sejak tahun 1930, cukup banyak dimensi politik dan ekonomi yang ada pengaruhnya terhadap prestasi bertanding dalam Piala Dunia. Negara komunis, misalnya, dicatat mampu menampilkan pemain dan tim yang kuat. Namun, sekalipun kuat, tidak pernah ada tim negara komunis yang berhasil menjadi juara Piala Dunia.

Melangkapi data Foer sampai dengan hasil Piala Dunia 2010 bulan Juli ini, data sejak 1930 sampai sekarang menunjukkan bahwa negara bersistem demokrasi lebih dominan menjadi pemenang daripada negara militer maupun fasisme. Juara dunia sejak 1930 dipegang 2 kali oleh negara militer, 2 kali negara fasis, dan 15 kali negara demokrasi. Kendati demikian, kualifikasi demokrasi di sini bisa lebih dipersempit, apakah demokrasi baru, populis, sosial, agama, neolibera, dan lainnya.

Beberapa temun Foer lainnya adalah bahwa tim sepak bola negara yang baru lepas dari komunisme atau rezim otoriter cenderung punya semangat lebih keras dan tidak terkalahkan. Suka atau tidak, pertandingan antara negara penjajah dan bekas jajahan umumnya dimenangkan oleh penjajah, kecuali dalam kasus Perancis vs Senegal di tahun 2002 yang dimenangkan Senegal.

Yang agak lucu adalah temuan bahwa negara-negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor minyak bumi dinilai cenderung tidak berprestasi unggul. Paradox of plenty disebut mempengaruhi mentalitas untuk menang yang rendah pada tim negara demikian, yang sampai sekarang tidak satu pun pernah mencapai tingkat semifinal.

Masih banyak faktor politik yang dapat dikaji dari sepak bola apalagi pada tataran global. Meminjam cara pandang Pascal Boniface, Footbal as a Factor (and Reflection) in International Politics, kita mungkin dapat mengatakan bahwa Piala Dunia sepak bola adalah tataran global lain dalam hal mana distribusi kekuatan (power distribution) lebih cair dan mudah berubah. Senegal atau Puerto Rico pun bisa saja jaya menjadi adikuasa. Sementara AS hanya menjadi pemain kecil. Paling tidak ini dapat menjadi ajang lain mengangkat moral sebuah bangsa memperkuat identitas nasionalnya.Β 

Agusti Anwar
Ingraham St Los Angeles, USA
anwar.agusti@gmail.com
12134483449



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads