Menjadi negara tuan rumah selain akan mendatangkan keuntungan finansial juga akan mendatangkan citra positif bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Dengan begitu investasi akan berjalan lancar dan kepercayaan di mata dunia akan meningkat.
Afrika Selatan sebagai tuan rumah piala dunia 2010 telah mengalihkan pandangan dunia ke benua Afrika. Benua Afrika yang memiliki citra kurang berkembang kini berubah menjadi suatu wilayah yang patut diperhitungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah Indonesia memilikinya? Sampai saat ini belum. Jangankan untuk memiliki stadion berkelas internasional. Meloloskan timnas ke Piala Dunia pun belum bisa. Oleh karena itu FIFA memutuskan bahwa Indonesia belum bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Lalu, apakah hanya syarat infrastruktur saja yang menjadi pertimbangan? Tidak. Jika kita melihat kepada Afrika Selatan walaupun sudah memiliki infrastruktur yang baik tetapi masih banyak terjadi kriminalitas dan pelayanan publik yang dirasa masih kurang baik.
Para pemain tim nasional (timnas) Inggris mengalami pencurian di Hotel Royal Marang hingga mencapai kerugian sekitar Rp 769 M. Pada 29 Juni pun markas FIFA di Johannesburg menjadi target operasi perampokan. Tujuh replika trofi dan dua kostum juga dicuri dari markas FIFA.
Peristiwa kursi stadion yang kosong juga menjadi salah satu catatan buruk atas penyelenggaraan Piala Dunia pertama di benua Afrika. Pada laga pembuka Afrika Selatan melawan Meksiko terdapat satu sektor stadion yang mengalami kekosongan penonton. Begitu juga pada pertandingan antara Belanda dan Denmark. Dari kapasitas 88 ribu tempat duduk hanya terisi sekitar 83 ribu penonton.
Dari peristiwa-peristiwa itu sebenarnya Indonesia bisa belajar banyak. Apakah Indonesia sudah layak untuk menjadi tuan rumah ajang bergengsi itu? Selain memerhatikan infrastruktur Indonesia pun perlu memerhatikan akomodasi dan teknis pelaksanaannya.
Bagaimana memanajemen tim peserta agar pertandingan dapat berjalan lancar dan sesuai jadwal di tengah kondisi geografis yang terdiri atas pulau-pulau dan laut. Bagaimana soal kemanannya? Bagaimana tentang citra dunia kepada Indonesia? Dan, masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan secara matang.
Selain itu faktor mentalitas bangsa pun turut menjadi pertimbangan. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa kini Indonesia marak dengan calo-calo tiket, pedagang kaki lima yang berdagang di sembarang tempat, suporter sepak bola yang kerap berbuat ricuh, hingga kemacetan yang terjadi di mana-mana akibat kurang baiknya manajemen transportasi di Indonesia. Faktor-faktor yang disebabkan mentalitas bangsa yang buruk pun harus dibenahi jika memang Indonesia ingin menjadi tuan rumah piala dunia.
Dan, yang menjadi pertanyaan besar adalah mampukah PSSI dan seluruh elemen bangsa membenahi segala permasalahan itu? Memiliki impian besar itu harus. Tetapi, impian-impian besar tidak akan terlaksana sebelum melakukan pijakan-pijakan kecil.
Sebelum terlalu jauh bermimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia karena mengejar prestisius tadi seharusnya PSSI lebih fokus pada pesepakbolaan nasional yang tengah lesu. Bagaimana mencari bibit muda baru yang lebih prestatif hingga pada nantinya akan tercipta suatu regenarasi yang baik dari dunia olah raga nasional. "Khususnya sepak bola" dan bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi bagian dari ajang Piala Dunia.
Rizal Dwi Prayogo
Mahasiswa Matematika ITB Bandung
rizal_dp@arc.itb.ac.id
http://rizaldp.wordpress.com
(msh/msh)











































