Penjinak Tabung Gas

Penjinak Tabung Gas

- detikNews
Selasa, 06 Jul 2010 08:16 WIB
Penjinak Tabung Gas
Jakarta - Berawal dari konversi pengunaan bahan bakar dari minyak tanah ke gas yang dicanangkan pemerintah melalui ESDM pada 2007, tragedi kalau bisa dikatakan namanya, kini menjadi potret suram di masyarakat. Masyarakat pun enggan ketika pertama kali program ini dikemas menjadi satu tawaran dengan alasan lebih hemat dan efektif. Selain itu dikatakan pemerintah bahwa kandungan LPG di Indonesia masih banyak ketimbang menggunakan minyak tanah yang diimpor dan mengeluarkan subsidi.

Kita tidak merasakan itu suatu tekanan ketika program konversi berjalan. Namun, justru program itu yang seperti dipaksakan berjalan.

Dalam hitungan bulan diiringi hilangnya miyak tanah di tengah masyarakat ribuan tabung gas beredar ukuran 3 kg dan berpasangan dengan kompor untuk dibagikan ke berbagai bagian kelas di masyarakat. Jakarta sebagai pusat perhatian daerah lainnya manjadi starter pembagian gratis diikuti daerah lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara tidak sadar ternyata masyarakat pengguna tabung gas saat tidak hanya ukuran 3 kg tetapi sudah merambah ke 12 kg sedang menanti detonator yang menghitung waktu. Dahulu di tahun 2007 Ketua Asosiasi Baja Indonesia mengatakan kalau kebocoran itu mungkin saja dan hanya satu atau dua dari sekian produksi tabung atau dua persen. Pertanyaannya satu atau dua tabung yang bocor itu ada di mana saat ini? Jangan-jangan ada di rumah anda atau saya. Akhirnya permasalahan terlempar ke tabung selang, kompor. dan posisi kompor.

Hingga saat ini korban berjatuhan tak bisa dihindari sudah banyak. Sungguh mengerikan jika melihat hasil survei BSN yang menyatakan 66 persen dari 44 juta tabung gas yang beredar adalah palsu. Lebih mirisnya lagi untuk selang 100 persen bermasalah. LantasΒ  harus melakukan apa jika sudah seperti ini kejadiannya.

Jadi sangat pantas jika kita menepis ungkapan James Dussenberry (1994) bahwa orang yang berpendapatan lebih rendah akan meniru pola konsumsi orang yang berpendapatan lebih tinggi. Ya, jika ditempatkan ungkapan itu ke dalam terjemahan konversi energi dari dari minyak tanah ke LPG, sama dengan pengguna minyak tanah akan serta merta mengikuti pengguna gas.

Kalau hasilnya seperti yang selama ini terjadi, seperti ledakan, akan lebih baik kembali ke minyak tanah. Tarik segera tabung yang sudah beredar serta lakukan pemetaan energi yang layak dan ramah untuk masyarakat. Hentikan rentetan korban yang diam-diam terus merangkak. Sebut saja pada awal paket kompor dan gas ini dibagikan tahun 2007 dua korban jiwa. Dilanjutkan tahun 2008, 12 korban jiwa kemabali melayang. Ditambah lagi 2010 yang habis setahun telah mencapai angka 8 orang korban jiwa. Dari rangkaian tahun tersebut korban luka melebihi ratusan korban luka.

Mekanisme hulu ke hilir tentang distribusi gas seharusnya sudah menjadi pemikiran yang kuat sebelum menjalankan program ini. Kalau memang tabung yang kebanyakan telah beredar adalah bagian sindikasi pemalsu seharusnya hal itu telah menjadi bagian dari sosialisasi tahap awal.

Selama ini yang gencar adalah sosialisasi penggunaan kompor gas yang aman. Hal ini mengingatkan kita dengan sosialisasi uang Rupiah dengan iklan layanan masyarakatnya, bagaimana membedakan uang asli dan palsu. Lantas apa yang membedakan tabung asli dengan yang palsu saat ini. Semua tampak baik-baik dan sempurna ketika membeli.

Isu yang berhembus hanya pengoplosan tabung isi ke tabung kosong. Risikonya adalah kekurangan volume gas. Saat itu masyarakat hanya merasa dirugikan secara materi karena membeli tidak dengan harga pantas.

Mengimbangi pernyataan Indroyono Sesmenkokesra tentang pengetatan peredaran tabung gas 3 kg mulai dari pengisian hingga ke peredaran bisa dipetik alur atau mekanisme distribusi memang sangat kendur dan lemah. Bentuk pengawasan sepertinya masih jadi suatu kerja yang berat bagi pihak-pihak terkait.

Masyarakat sudah mengikuti program konversi energi dengan sukarela. Tapi, tidak rela untuk jadi korban berikutnya. Secara mudahnya, kalau memang banyak tabung gas yang beredar palsu, artinya kita harus buat tanda tabung gas asli yang tandanya termaktub di gas melalui tulisan, standardisasi, distribrutor bersertifikat, segel hologram pada mulut tabung atau lain cara. 1001 jalan sebenarnya sudah bisa di tempuh di awal, yang terpikir hanya menghilangkan subsidi besar kepada masyarakat secara cepat.

Iskandar Ramli ST
Special Analyst Media Inside
Community Based Communication
Jl Cililin Raya No 7 Jakarta Selatan
Phone 0838-92727390
Iskandar@mediainside-corp.com


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads