Menelisik Bunuh Diri

Menelisik Bunuh Diri

- detikNews
Senin, 05 Jul 2010 07:29 WIB
Menelisik Bunuh Diri
Jakarta - Saat duduk santai di bawah pohon rindang seorang wanita tiba-tiba menancapkan tusuk rambut besi ke lehernya. Aksi bunuh diri itu diikuti orang-orang di sekitarnya. Lalu, serangan bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Dunia ini sudah gila.

Sebuah kawasan diserang sebuah teror menakutkan. Teror bunuh diri. Siapa saja yang diserang teror itu akan lepas kendali. Awalnya si korban akan terdiam. Mulai bicara ngelantur. Terakhir, diam-diam, dia akan bunuh diri dengan berbagai cara.

Paranoia merajai seluruh kota. Adegan ini tidak untuk ditiru sebab cerita ini sekadar cuplikan plot dalam filmnya The Happening karya sutradara M Night Shyamalan. Jadi, teringat film "Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets", Ketia Dea yang melakukan bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari lantai atas gedung sekolah, dia berdandan seperti bidadari yang mempunyai sayap di punggungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dea mengalami depresi karena masalah bersama pacarnya, Adit, yang menyebarkan adegan mesra mereka berdua ke penjuru sekolah lewat handphone dan internet. Melihat Dea yang terguncang, Flory dan kawan-kawan, akhirnya berusaha merangkul Dea dalam geng pertemanan mereka.

***

Kita lupakan dulu adegan film tersebut. Kita beranjak ke Jakarta. Seperti diberitakan detikcom, dalam sehari, 2 pengunjung menjatuhkan diri di pusat perbelanjaan besar yang berbeda. Ice jatuh di eskalator lantai under ground Mal Grand Indonesia pukul 16.00 WIB, Senin (30/11/2009) setelah menjatuhkan diri dari lantai 5 Grand Indonesia. Tubuh Ice tersangkut di reiling eskalator lantai Upper Ground (UG) mal tersebut sehingga tewas di tempat.

Sedang Reno berusia 25 tahun warga Patal Senayan jatuh sekitar pukul 20.15 WIB di Senayan City. Dia melompat dari lantai 5 ke lantai 1. Tapi, ini nyata. Bukan film atau drama. Semoga Tuhan menyayangi mereka dan seluruh masyarakat Indonesia.

(Catatan redaksi: Dalam dua bulan terakhir Juni dan Juli 2010 juga masih marak berita bunuh diri. Bahkan, dua minggu yang lalu, tepatnya Rabu, 30/06/2010 seorang pria terjun daro Graha Simatupang. Pada Minggu, 04/07/2010 juga seorang pria melompat dari lantai 9 rusun Benhil. Pada Juni diberitakan bahwa Senin, 14/06/2010 seorang pria jatuh dari Gajah Mada Plaza Jakarta juga diduga bunuh diri. Sedang pada Jumat, 18/06/2010 Manajer Grage Mall Cirebon tewas terjun dari lantai 6. Dugaan polisi korban juga bunuh diri).

Kita teringat The Jonestown Suicides di Guyana yang memakan korban 909 anggota sekte Peoples Temple pimpinan Jim Jones pada tahun 1978. Dari 918 korban (termasuk empat di Georgetown dan lima bukan anggota sekte), 276 di antaranya anak-anak.

Dalam rekaman video terakhir Jones berkata kepada anggota Temple bahwa Soviet Union, dengan mana Temple bekerja sama akan meninggalkan mereka tanpa membawa serta anggota Temple.

Ikut terbunuh Congressman Leo Ryan, NBC reporter Don Harris dan tiga orang lainnya dekat landasan udara. Saat anggota Temple menangisi rencana yang disebut "Revolutionary Suicide", Jones menyelanya, "stop histerisa ini. Ini bukan cara orang-orang Sosialis atau Komunis untuk mati. Omong kosong itu. Kita mati dengan kebanggaan dan kehormatan".

***

Jadi muncul pertanyaan. Mengapa terjadi demikian. Mengapa terjadi di pusat perbelanjaan. Ada apa dengan anak muda itu. Adakah kondisi lingkungan mempengaruhi. Perlukah ketahanan mental. Ya. Jawabannya masih perlu didiskusikan. Bahkan, bunuh diri massal juga terjadi beberapa waktu yang lalu atas nama sekte tertentu.

Ada banyak teori tentang bunuh diri. Salah satunya yang kerap menjadi acuan adalah yang diajukan oleh Durkheim, Sang Sosiolog Prancis. Durkheim (Suicide, 1897) mengelompokkan fenomena bunuh diri menjadi empat tipe.

1. Bunuh diri egoistik. Bunuh diri Egoistik dapat kita temui ketika individu dalam suatu masyarakat tidak dapat terintegrasikan oleh kelompoknya. Maka individu tersebut merasa tidak dibutuhkan atau ditiadakan sehingga mendorong individu tersebut melakukan bunuh
diri.

2. Bunuh diri anomik. Bunuh diri Anomik dapat terjadi ketika keadaan suatu kelompok masyarakat dalam keadaan keguncangan dan di dalamnya tidak terdapat suatu nilai atau norma yang dapat digunakan sebagai pedoman. Di sini individu akan merasakan kebingungan sehingga mendorongnya untuk melakukan tindakan bunuh diri.

3. Bunuh diri altruistik. Bunuh diri tipe ini disebabkan oleh adanya ikatan sosial yang sangat kuat. Seperti halnya adanya ikatan dalam sebuah sekte tertentu.

4. Bunuh diri fatalistik. Bunuh diri ini terjadi karena tekanan besar oleh kelompok lain. Misalnya karena tekanan seorang majikan terhadap pembantunya. Sehingga, terjadi bunuh diri.

Kasus yang terjadi pada individu yang melakukan bunuh diri sendiri mungkin masuk dalam kategori "egoistik" atau "fatalistik", yaitu merasa tidak dibutuhkan, ditiadakan, atau tertekan oleh individu lain. Sehingga, mengambil solusi yang tidak tepat. Bunuh diri dalam agama tentu saja sangat ditentang.

***

Tentu agak berbeda kasus bunuh diri sendiri dengan dengan kasus bom bunuh diri yang melibatkan orang lain agar mati bersama. Bunuh diri pada remaja menjadi sebuah indikator adanya ketidakmampuan anak dan remaja dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

Sementara itu, bagi pelaku bunuh diri kemampuan mengadaptasinya tidak ada. Begitu mengalami kebuntuan terhadap masalah yang dihadapi yang terlintas adalah melepaskan diri dan bukan menyelesaikannya.

Maka dibutuhkan orang-orang yang bisa mendengarkan keluhan dan mendampingi mereka. Suasana yang tidak nyaman dan seolah dunia kiamat ini harus dihadapi dengan mental kuat. Berani pasang badan apa pun yang terjadi. Bukan dengan mati. Tapi, usaha keras menyelesaikannya dengan cara yang lebih baik.

Walau mati memang sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mati dengan kemauan Tuhan, bukan kehendak diri yang memang menginginkan kematian itu. Namun, peristiwa demi peristiwa itu hanya Tuhan yang tahu. Sesuatu di balik itu semua pasti ada hikmahnya. Memberi pembelajaran bagi manusia yang lain. Semoga.

Abdullah Sajad
Rambutan Jakarta
abdullah.sajad@gmail.com
081318437100

Penulis adalah Pengamat Sosial CSRC UIN Jakarta.


(msh/msh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads