Mengadu Untung dalam Pemilukada 2010

Mengadu Untung dalam Pemilukada 2010

- detikNews
Jumat, 02 Jul 2010 18:24 WIB
Mengadu Untung dalam Pemilukada 2010
Jakarta - Pemilu Kepala Daerah (pemilukada) di beberapa daerah telah di depan mata. Persiapan mulai dari logistik hingga sosialisasi pemilih pun terus dilakukan.

Tugas berat Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk segera memenuhi kebutuhan logistik pemilu di daerah-daerah. Selain pemenuhan kebutuhan logistik perlu juga dilakukan sosialisasi pemilih mengenai tata cara memilih dan menandai surat suara.

Dalam pemilukada 2010 ini tata cara menandai pilihan pada surat suara berbeda dengan pemilu legislatif maupun pemilu presiden 2009 lalu. Tata cara untuk pemilukada beberapa daerah tahun ini masih menggunakan cara lama yaitu dengan mencoblos tanda gambar, nama, atau nomor urut pasangan calonnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tata cara ini sama halnya dengan tata cara penandaan pada pemilu 2004 maupun sebelumnya. Tentunya cara inilah yang pada hakikatnya menjadi pengalaman sekaligus eksperimen lama dalam pembelajaran politik pada rakyat. Karena kebiasaan lama dalam memilih menggunakan cara "coblos" telah mendarah daging maka memudahkan masyarakat menentukan hak pilihnya. Meskipun demikian tetap dibutuhkan sosialisasi pencoblosan secara intensif pada pemilih.

Belum lagi ditambah dengan golput yang tidak menggunakan hak pilihnya. Jika hal ini benar-benar terjadi pada akhirnya perolehan suara tidaklah mewakili sebagian besar rakyat sehingga legitimasi pemerintah di mata rakyat juga kecil. Kecilnya legitimasi ini justru akan membuat pemerintahan daerah menjadi rapuh karena tidak mendapat dukungan dan kepercayaan dari rakyatnya secara luas.

Dalam tulisan ini terdapat tiga pihak yang nantinya akan mengadu untung dalam pemilukada kali ini.

Pihak pertama adalah penyelenggara pemilukada yaitu Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), di mana untuk saat ini masih direpotkan dengan pengadaan logistik pemilu. Dalam beberapa hari yang mendesak ini masing-masing KPUD di kabupaten/ kota masih mengemas dan mendistribusikan logistik pemilu ke seluruh TPS. Peruntungan KPUD terletak pada sukses tidaknya distribusi kebutuhan pemilu menyangkut kebutuhan logistik, proses pelaksanaan pemungutan suara, hingga pada penetapan hasil Pemilu.

Pihak kedua yang mengadu peruntungan ialah para kandidat yang punya kendaraan politik untuk mencalonkan dirinya menjadi calon pemimpin daerah lima tahun mendatang. Di samping kendaraan politik kecukupan dana kampanye juga menjadi patokan mereka dalam memasarkan nama pribadinya dimasyarakat. Tidak dapat dipungkiri dukungan akan muncul dari media-media kampanye dan bagaimana masyarakat bisa kenal jika tidak ada atribut-atribut pengenalannya.

Di setiap kampung kita akan mudah menjumpai media promosi para kandidat yang dipampang di tiang-tiang listrik maupun telepon, di pohon-pohon, di warung makan, bahkan di tempat sampah sekali pun. Di beberapa kota atribut-atribut semacam baliho, bendera, poster, dan lain sebagainya sebagai media kampanye banyak yang dirazia karena dianggap merusak pemandangan kota.

Di sinilah letak adu peruntungannya para kandidat untuk meraup suara agar dapat memenuhi ambang batas perolehan suara. Para kandidat harus menghadapi hal-hal tersebut sembari berharap mereka untung dalam arti dapat tercapai menjadi pemimpin daerah. Sedangkan pihak terakhir yang akan mengadu untung dalam pemilukada 2010 adalah pemilih itu sendiri.

Pemilih dapat diartikan sebagai rakyat di masing-masing daerah yang telah memiliki hak pilih. Kartu pilih akan diberikan oleh penyelenggara pemilukada pada setiap orang yang memiliki hak pilih. Pemegang hak pilih tentu akan menentukan pilihannya pada para caleg yang dianggapnya dapat dipercaya. Terlepas apakah hak pilihnya dipakai atau tidak yang jelas pemilih akan menentukan sendiri pilihan sesuai dengan hati nuraninya dan benar-benar berharap pada kandidat yang selama ini telah nyata berjuang demi rakyat.

Masyarakat akan puas dan merasa untung jika calon-calon pemimpin yang terpilih nantinya memberikan kontribusi nyata pada masyarakat. Mungkin yang lebih tepat adalah "memberi bukti bukan janji" seperti pada iklan-iklan kampanye sebagian calon di berbagai tempat. Sebagian orang berpendapat mengenai pengalaman pemilu sebelumnya.

Wakil-wakil yang terpilih ternyata hanya memberikan janji dan menunjukkan sedikit bukti saja sehingga pada pemilukada 2010 ini rakyat tidak ingin menerima janji semu kembali. Rakyat berharap untung dalam memilih wakil-wakilnya yang menjadi pemimpin daerah kelak. Suara-suara mereka memang disampaikan pada pemerintah dan berharap kebijakan pemerintah selalu menguntungkan rakyat.

Rudiono
Relawan Panwaslukada Bantul 2010 dan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads