Sambung-menyambung menjadi rentetan peristiwa yang menyambung, ruwet, dan sulit untuk ditebak apakah benar-benar 'murni' (invisible hand) atau ada campur tangan manusia. Maka, dalam titik ini pantaslah apabila sebagian besar masyarakat kita berada pada level jenuh dan bersikap tak tanggap lagi dengan berbagai kasus yang terjadi.
Beruntung periode Juni - Juli ada momen yang mampu meredusir pemberitaan sementara perkara-perkara tersebut. Adalah perhelatan akbar Piala Dunia yang digelar empat tahunan yang menyertakan 32 finalis terbaik dari berbagai belahan dunia. Tulisan ini dibuat setelah menyaksikan pertandingan menarik antara tim tangguh Argentina vs Nigeria yang berkesudahan seperti yang sudah diprediksikan; kemenangan untuk Argentina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kita semua sempat diingatkan oleh tulisan Effendi Gazali di sebuah harian Ibu Kota (11/06) bertajuk "Gila Bola, (Jangan) Lupa Perkara!" bahwa hegemoni Piala Dunia jangan sampai meninabobokan beberapa kasus yang menggemparkan. Jangan sampai Piala Dunia di Afrika Selatan menjadi ajang "merapikan" perkara-perkara dan akhirnya tak jelas ujung dan pangkalnya.
Gila Bola
Diprediksikan miliaran orang di seluruh dunia, kini, tengah tertuju perhatiannya ke Piala Dunia di Afrika Selatan. Euphoria Piala Dunia, saya kira melanda setiap negara yang ada di peta dunia tanpa terkecuali, termasuk Indonesia meskipun tidak lolos kualifikasi.
Berbagai ulasan, prediksi, hingga nonton bareng dilakukan untuk menghormati pesta olah raga terakbar 4 tahunan tersebut. Begitu dahsyatnya memang magis Piala Dunia hingga siapa pun rela ambil bagian untuk ikut dalam euphoria tersebut.
Tontonan Piala Dunia mampu menjamah berbagai kalangan. Dari Presiden hingga rakyat jelata merasa terhibur dengan aksi-aksi para idolanya di lapangan hijau.
Bahkan, Presiden SBY sampai menggelar acara nonton bareng di salah satu hotel di Bali, di sela-sela kunjungan kenegaraannya. Dan, yang menarik, Presiden ikut berkelakar, "kapan PSSI bisa tampil di Piala Dunia" (mengulang sukses di tahun 1938 yang berhasil lolos walaupun masih bernama Dutch East Indies atau Hindia Belanda dan ditaklukan Hongaria 6-0 ketika itu).
Ya, mimpi Presiden adalah mimpi kita semua. Kapan timnas kita masuk Piala Dunia tapi dengan cara "wajar". Jangan dengan "tidak wajar". Menghalalkan segala cara demi lolos Piala Dunia (sangat berambisi menjadi tuan rumah supaya lolos gratis, misalnya).
Namun, melihat data empiris selama ini nampaknya inginnya presiden tersebut bisa dikata "masih" ilusi. Mengapa? Kondisi persepakbolaan tanah air kita masih menyimpan berbagai problem yang apabila tak kunjung jua dibereskan; kondisi internal PSSI yang masih mempertahankan status quo para pengurusnya yang bermasalah, anggaran yang minim, inkonsistensi dalam melakukan pembinaan terhadap anak-anak berbakat sejak usia dini, minimnya sarana dan prasarana, sampai kondisi psikologis penontonnya yang lebih menonjolkan sisi anarkis ketimbang sportifitas, persepakbolaan kita akan sulit bersaing dengan negara-negara lain.
Maka, dengan PR-PR yang masih banyak itu, masuk Piala Dunia secara "wajar" hanya bermimpi di siangΒ bolong. Sulit terlaksana. Kecuali ada keajaiban. Yakni menjadi tuan rumah Piala Dunia pasca 2014.
Akhirnya, Piala Dunia yang seharusnya menjadi momen bercermin diri para pemain bola kita, dan bercermin diri para pemangku kepentingan (baik aspek ekonomi: pendanaan, maupun politis: kebijakan/peraturan pro kepentingan Timnas) hanya dijadikan ajang hiburan semata yang nihil pembelajaran.
Tragisnya, kita menjadi bangsa yang tertinggal segala-galanya; olah raga (khususnya sepak bola), politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Kita, dengan 230-an juta jiwa masih sering kalah bemain bola dan "bermain" di bidang lainnya oleh Singapura, misalnya, yang jumlah penduduknya jauh di bawah kita sekali pun.
Ter (di) kuburnya Isu Pra-Piala Dunia, sebelum tanggal 11 Juni, kita banyak disuguhkan oleh berbagai kasus yang tumpah ruah. Dimulai dari Century yang tak jelas akhirnya dan seolah menguap karena tertimpa kasus lain, polemik SMI vs Ical, kasus penyelewengan pajak oleh Gayus Halomoan Tambunan yang berimplikasi pada munculnya sang Whistle Blower: Susno Duadji, pembentukan Setgab yang mengundang banyak protes, wacana Dana Aspirasi, hingga PK SKP2-nya Bibit-Chandra.
Hemat penulis, semaraknya PD di Afsel yang mampu menyedot atensi banyak orang berpotensi akan mengubur dan mengaburkan berbagai isu yang menjadi top of rating di televisi, radio, dan media cetak, sebelumnya. Dan, sinyalemen itu sebagiannya sudah terbukti walau kevalidannya masih perlu diuji supaya reliable.
Kasus Century misalnya, yang semula sudah "mati suri", kemudian berusaha dibangkitkan lagi kini semakin tak jelas juntrungannya. Atau Susno Duadji yang kini mendekam di tahanan Kelapa Dua Polri semakin terlupakan publik (awam). Bahkan, oleh komisi III DPR yang semula begitu menggebu akan melindungi Susno secara hukum. Dan, lebih dari itu, wacana Dana Aspirasi yang didengungkan Partai Golkar sangat dikhawatirkan akan benar-benar terwujud karena "perlawanan" kita kian melemah akibat isunya ter (di) reduksi.
Piala Dunia memang menggilakan. Tapi, jangan sampai perkara-perkara yamg sedang kita hadapi pun ikut menggila karena penyelesaiannya yang tak karuan, bertele-tele, dan penuh dengan kemunafikan. Jangan sampai pasca gila Piala Dunia, kita menjadi gila beneran karena persoalan-persoalan yang kian menggila. Wallahualam.
Ecep Heryadi
Analis Politik Departemen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Intelektual Muda Muhammadiyah, Editor Buku
081382126320
(msh/msh)











































