Global Warming dan Kegagalan Kapitalisme

Global Warming dan Kegagalan Kapitalisme

- detikNews
Kamis, 17 Jun 2010 08:12 WIB
Global Warming dan Kegagalan Kapitalisme
Jakarta - Pemanasan global atau yang lebih dikenal dengan global warming adalah suatu kejadian meningkatnya temperatur rata-rata di laut dan daratan bumi. Proses menghangatnya suhu permukaan bumi ini disebabkan karena faktor pembakaran bahan bakar fosil, batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Pembakaran ini menghasilkan gas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang disebut dengan dengan gas rumah kaca. Seperti metana, belerang, klor, dan lain-lain. Pelepasan gas-gas tersebut menyebabkan munculnya fenomena efek rumah kaca.

Efek rumah kaca atau greenhouse effect adalah peristiwa pemanasan pada permukaan bumi. Proses ini berawal dari sinar matahari yang menembus lapisan udara (atmosfer) dan memanasi permukaan bumi. Permukaan bumi yang menjadi panas menghangatkan udara yang berada di atasnya. Karena menjadi ringan udara panas tersebut naik dan posisinya digantikan oleh udara sejuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian dari udara panas yang naik ke atas ditahan dan dipantulkan kembali ke permukaan oleh lapisan gas atmosfer bumi yang terdiri dari karbondioksida, metana, dan natrium oksida. Udara yang dipantulkan tersebut berfungsi untuk menjaga temperatur bumi supaya tidak menjadi beku. Proses pemantulan udara panas untuk menghangatkan bumi inilah yag disebut dengan efek rumah kaca.

***

Dampak dari pemansan global sudah mulai dirasakan oleh negara-negara maju dan berkembang. Seperti perubahan iklim (cuaca) yang sangat ekstrim, perubahan tinggi rata-rata muka air laut, banjir, pertanian (bergesernya awal musim tanam yang tidak menentu, kesehatan manusia, kekeringan (kelangkaan air).

Laporan yang dirilis oleh Human Development Report 2008/2009: "Fighting Climate Change : Human Solidarity in a Devided World" menyebutkan bahwa pemanasan global akan merusak produksi pertanian dan security food. Perubahan iklim akan berdampak pada curah hujan, temperatur, dan ketersediaan air untuk pertanian. Tanah-tanah pertanian akan mengalami gangguan dalam pasokan air sehingga produksi pertanian akan merosot.

Perubahan tinggi rata-rata muka air laut yang diukur dari daerah lingkungan yang stabil secara geologi membuktikan bahwa pemanasan global telah mencairkan bongkahan-bongkahan gunung es di kutub, terutama sekitar Greenland, dan menyebabkan bertambahnya volume air di laut.

Tinggi muka air laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm selama abad ke-20. Para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm pada abad ke-21. Dampak peningkatan muka air laut dapat kita lihat pada fakta banjir di pesisir pantai di Jakarta saat ini dan banjir yang sangat parah yang terjadi di Jawa Timur pada daerah aliran sungai Bengawan Solo, tepatnya di Ngawi, Gresik, Bojonegoro, dan lain-lain.

Perusakan hutan sekitar 8 juta sampai 16 juta hektar hutan tropis setiap tahunnya antara tahun 1980-an dan 1990-an telah melepaskan 0.8 miliar sampai 2.4 miliar ton karbon ke atmosfer. Penyebab utama deforestasi meliputi padang rumput untuk peternakan, pertanian industri (kedelai, kelapa sawit), dan pembalakan kayu-kayu tropis untuk keperluan ekspor yang banyak dilakukan di Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Tengah. Pada kejadian El Nino tahun 1998 kebakaran lahan gambut dan hutan di Indonesia melepaskan tambahan 0.8 -p 2.6 miliar ton karbon ke atmosfer.

Jadi sangat jelas sekali bahwa pemanasan global yang tejadi saat ini sudah sedemikian parah karena sudah berdampak rusaknya keseimbangan ekosistem dan perubahan pola aliran air dan pencairan es yang meningkatkan ekologi stres. Demikian juga terhadap kesehatan manusia. Seperti wabah malaria serta demam berdarah yang terus meningkat. Pemanasan global sudah seperti laksana senjata pemusnah masal yang sering disuarakan oleh AS sebagai bukti untuk melegalkan penyerangan terhadap Irak.

***

Bila kita telaah lebih jauh akan kita temukan ada keterkaitan antara pemanasan global dengan negara-negara Kapitalis dengan ideologi Kapitalisme-nya. Dan, ini merupakan salah satu bukti kegagalan dan rusaknya ideologi kapitalis dalam menjaga lingkungan hidup yang diakibatkan oleh keangkuhan mereka dalam meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.

AS dan negara-negara maju tidak mau kepentingan politik dan dan ekonominya 'terkurangi'. Sebab, jika mereka sepakat mengurangi emisi karbon maka bencana mungkin akan dialami oleh mereka.

Fakta membuktikan bahwa industri-industri merekalah sebenarnya yang menyumbang terbesar emisi karbon di dunia. Menurut data terakhir (2007) UNDP karbon emisi per kapita dunia saat ini adalah 4,5. Dari angka tersebut ternyata AS menyumbang 20,6%, Kanada 20%, Australia 16,2%, Jepang 9,9%, dan baru sisa kecilnya disumbang oleh negara-negara berkembang.

Sungguh ironis. AS dan negara-negara maju lainnya adalah penyumbang terbesar emisi karbon namun mereka menolak menguranginya. Jelas, karena jika sepakat untuk mengurangi jumlah emisi karbon mereka berarti mereka setuju mengurangi jumlah produksi industri mereka. Inilah bencana bagi mereka. Mereka tentu tidak mau karena penopang utama perekonomian mereka adalah sektor industri.

Ini semua menunjukkan bukti bahwa AS dan negara-negara maju lainnya egois. Mereka tidak mau memperhatikan generasi dan nasib bumi yang akan datang.

***

Sudah waktunya kita meninggalkan AS dan sekutunya serta ideologinya. Termasuk para komprador yang senantiasa membebek kepada mereka. Kalau kita meninggalkan ideologi Kapitalis yang jelas-jelas merusak tentunya kita harus mengambil suatu ideologi lain sebagai pembandingnya. Tinggal hanya ada dua pilihan ideolosi Sosialis atau Islam.

Kita ketahui sosialisme telah gagal mengatur sistem kehidupan di dunia ini setelah runtuhnya kedigdayaan Uni Soviet. Jadi hanya tinggal satu pilihan lain yaitu Ideologi Islam sebagai pengatur sistem kehidupan di dunia ini. Dan, Islam telah mampu mengatur dunia ini dengan baik selama 1300 tahun.

Sudah saatnya Islam dijadikan solusi terhadap segala permasalahan yang menimpa peradaban manusia. Jika kita masih mengekor kepada AS dan sekutunya tunggulah kehancuran lebih besar menimpa kita semua.

Padahal Allah, Pemilik sejati alam ini telah memerintahkan manusia untuk menjaga lingkungan hidup ini. Ini adalah sebuah kewajiban. Allah SWT berfirman: "Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya" (QS Al-Araf: 56).

Karena itu sudah saatnya kita harus menghentikan privatisasi barang-barang milik umum (seperti hutan, air, dan lain-lain) dan mencabut semua undang-undang yang melegalkan penjarahan sumber daya alam oleh pihak asing. Hal inilah yang telah merusak lingkungan dan pada akhirnya masyarakat kecil yang selalu menerima dampak dari kerusakan lingkungan ini. Seperti di Indonesia ini.

Lebih dari itu. Sudah saatnya negeri ini diatur oleh syariah Islam. Hanya dengan syariah Islam yang notabene dari Zat Yang Maha Pengatur, Allah SWT, yang diterapkan oleh negara melalui tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah. Sehingga, permasalahan lingkungan, khususnya dalam konteks pemanasan global.

Di samping solusi penerapan syariah Islam oleh negara juga merupakan wujud ketakwaan umat kepada Allah SWT. Ketakwaan umat inilah yang akan menghasilkan keberkahan hidup, sebagaimana telah Allah janjikan: "Sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka" (QS Al Araf: 96). Wallahu alam bi ash shawab.

Akhiril Fajri
Jl Hayam Wuruk Gg Rukun No 01 RT RW 005/002
Kel Kedamaian Kec T Karang Timur B Lampung
aafajri8@gmail.com
081272240683

Humas HTI Lampung



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads