Anas dan Masa Depan Demokrat

Anas dan Masa Depan Demokrat

- detikNews
Selasa, 15 Jun 2010 18:10 WIB
Anas dan Masa Depan Demokrat
Jakarta - Bandung dan tanggal 21-23 Mei 2010 menjadi hari bersejarah bagi Anas Urbaningrum dan Partai Demokrat (PD) yang baru saja selesai menyelenggarakan kongresnya yang ke-2. Dalam kongresnya tersebut partai yang berhasil keluar sebagai pemenang pemilu pada 2009 lalu berhasil menunjukkan pembelajaran salah satu fragmentasi politik yang demokratis yang terefresentasi dengan sikap politik SBY yang netral dan 'bersihnya' pertarungan bursa Ketum.

Menariknya kemenangan Anas seperti telah ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan. Pasca kemenangannya Anas mendadak mendapatkan sorotan publik dan media secara lebih masif. Wajar memang karena di satu sisi PD menjelma menjadi partai besar di mana secara empiris partai besar banyak menentukan arah dan pemindai kebijakan secara nasional. Dan di sisi lainnya Anas sebagai mantan Ketua Umum PB HMI periode 1997 - 1999 yang tentu banyak koleganya, menjadi Ketua Fraksi DPR PD, menjadi Ketua Bidang Politik PD jelas menjadi entri poin yang berperan menjulangkan namanya.

Namun, yang menarik adalah tanggapan yang hampir seragam. Hampir semuanya positif menyikapi kemenangan Anas atas dua kandidat lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dimulai dari internal PD sendiri para politisi yang tergabung dalam partner koalisi, politisi oposisi, pengamat, bahkan aktifis semisal Fajlur Rahman yang selama ini begitu vokal mengkritisi hampir setiap kebijakan pemerintah. Selain itu kita juga bisa melihat harapan masyarakat yang begitu besar terhadap Anas untuk menjadikan Demokrat bukan hanya sebagai partai 'besar' secara kuantitas, namun besar peranannya dalam membela nasib rakyat bawah. Dan, kemenangan Anas seolah menunjukkan agregasi gaya politik yang 'membumi'. Dekat dengan kader bawah. Bukan hanya menonjolkan artifisialitas yang bertumpu pada popularitas dan pencitraan.

Baik atau Buruk

Tergusurnya politik citra yang berbasiskan kuatnya modal finansial untuk membayar iklan, baliho, dan alat pencitraan lain telah melegitimasi menguatnya politik kader yang berbasis pada integritas, kecerdasan, dan akseptabilitas. Dinamisasi internal PD saat kongres yang demokratis, bersih, dan berhasil memilih pemimpin yang diharapkan mayoritas kader Demokrat menyisakan satu tanya besar; pertanda baik atau buruk?

Bukan prosesnya yang dipertanyakan tentunya. Melainkan kelangsungan masa depan PD sendiri sebagai partai terbesar di satu sisi, dan SBY sang kreator PD yang tidak bisa lagi mengikuti pemilu di 2014 karena terganjal persyaratan konstitusi.

Euforia memang terjadi di segenap elemen bangsa pasca terpilihnya Anas sebagai Ketum baru PD. Internal PD dan lintas partai memuji proses demokratisasi di tubuh PD yang menuju modernis sekaligus memuji sosok Anas yang 'diam-diam menghanyutkan'. Namun, pasca itu semua sebuah tanya besar menyeruak. Dapatkah Anas sekarismatik SBY yang dapat menarik simpati mayoritas masyarakat sehingga berimplikasi pada kemenangan PD di 2014?

Seandainya saja Andi atau Marzuki yang konon merupakan figur yang paling diharapkan oleh SBY untuk menjadi nakhoda PD terpilih menjadi Ketum PD. Seandainya Anas itu Andi? Atau seandainya Anas itu Marzuki? Mungkinkah ada penyesalan dengan terpilihnya Anas? Mungkin naif logika yang penulis sampaikan. Namun, penulis yakini 'keluhan perandaian' semacam ini pernah mampir di benak para pendukung Andi atau Marzuki. Bahkan, di hati SBY sendiri. Siapa yang tahu?

Iya. Seandainya saja Andi yang menjadi Ketum PD tentu, pertama, SBY akan dengan mudahnya menjadikan Eddy Baskoro (Ibas) sebagai sekjen. Dan, itu berarti satu tangga menuju PD-1, dan dua tangga masuk di bursa kepemimpinan nasional. Memang kubu Anas menawari Ibas menjadi sekjen, namun tawaran tersebut ditampik Ibas dengan alasan ketidaketisan politik. Kedua, seandainya Andi menjadi Ketum, PD akan tetap 'aman' di genggamannya karena sedari awal Andi selalu mengatakan akan melanjutkan seluruh kebijakan partai yang telah digariskan ketua dewan pembinanya. Ketiga, terpilihnya Anas (bukan Andi atau Marzuki) berpeluang besar untuk membawa dan 'memekarkan' kader-kader HMI ke (di) internal PD dan bukan mustahil banyak di antara mereka yang kontra - SBY.

Jadi, pertanyaan baik atau buruk terpilihnya Anas menjadi Ketum PD bagi karir PD selanjutnya sejarah yang akan membuktikannya. Paling tidak pada terminal pemilu 2014 nanti.

Proyeksi

Jika kita cermat menelisik perolehan suara PD di dua pemilu lalu pada 2004 PD memperoleh 7% suara dan meningkat tajam di 2009 dengan 21%, maka semua orang sepakat bahwa 'magnum opus' PD adalah SBY. Logika perandaiannya, andaikata SBY tidak di PD mungkinkah PD mampu memperoleh suara signifikan di 3 tahun masa kelahirannya (2004 dengan 7%), dan malah menjadi champion di 2009 dengan mengalahkan 3 partai besar warisan leluhur orde baru?

Inilah tantangan terberat seorang Anas yang dihadapkan pada realitas begitu lekatnya politik citra yang menjadi basis kemenangan PD. Anas harus mampu menjadi pendobrak untuk meleburkan atau memenjarakan karisma figur (SBY) menjadi karisma partai. Karena, hitung-hitungan politiknya, Anas bagaimana pun juga sulit untuk mewarisi karisma dan karakter SBY secara penuh.

Oleh karenanya tak ada jalan lain selain Anas melangkah dengan jalan dan pemikirannya sendiri. SBY cukuplah ditempatkan menjadi pendamping atau penasihat bukan lagi sebagai ikon tunggal.

Perlukah diciptakan ikon pengganti SBY terutama untuk menghadapi 2014? Dalam konteks Indonesia memang sulit sekali menarik massa tanpa menjual figur potensial juga bernas. PDI-P punya Megawati yang sulit sekali lengsernya dari kursi Ketum partai karena mereka sadar PDI-P tanpa Mega laksana banteng yang kehilangan tanduknya sehingga menjadi sulit menerabas.

Demikian juga dengan Gerindra yang mematok Prabowo sebagai simbol perjuangan petani, buruh, dan kaum marjinal lain (karena itu yang menjadi jualan mereka selama ini). PAN yang tak mau kehilangan Amien Rais sebagai tokoh pemersatu faksi-faksi di internalnya. Maka, PD juga demikian, ia harus punya figure yang kuat.

Memang dalam banyak hal Anas dan SBY banyak kemiripan karakter, sikap, dan retorika politiknya. Namun, dua anak kembar sekali pun tak mungkin seluruhnya mirip. Jadi Anas mustahil menjadi satu-satunya ikon untuk dijual PD pada 2014 nanti. Anas harus mampu mengkreasikan ikon-ikon yang lain sehingga apabila digabungkan minimal 'nilainya' sama dengan figur SBY. PD butuh 4-5 orang ikon baru supaya energi elektoralnya equal dengan nilai elektoral Yudhoyono.

Di samping pemantapan ikon PD juga harus mampu menjadikan mesin partainya menjadi modern, soliditas harus terjalin secara kuat antara pusat-daerah, mampu menciptakan kultur demokrasi yang elegan dan kondusif paling tidak di lingkungan internal PD, dan ikut serta dalam mengawal dan mengkritik pemerintah dalam setiap kebijakan yang dinilai nir pro rakyat. Itulah modal awal yang bisa diakumulasi guna menghadapi 2014.

Namun, jika euforia kemenangan Anas tersebut justru malah membuat Anas terkungkung dalam sangkar PD, karena Majelis Tinggi banyak memveto kebijakan DPP misalnya, maka sulit memprediksi suara PD akan naik menjadi 30%. Bertahan di 21% saja dirasa sulit!

Nama Lengkap: Ecep Heryadi
No HP: 0813 82126320
Kegiatan: Analis Politik Departemen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Intelektual Muda Muhammadiyah



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads