Karena, selain telah terjadi di beberapa lokasi penyelaman (dive site) Makassar dan Teluk Bone, kejadian karang bleaching juga dilaporkan telah terjadi di Sabang Aceh, pesisir Kalimantan, dan Kepulauan Derawan, Kepulauan Wakatobi, Selat Lombok, Kepulauan Komodo, dan Kepulauan Raja Ampat.Β Β
Β
Dalam suatu pertemuan, Direktur Global Reef Alliance bernama Thomas Goreau dan Prof Jamaluddin Jompa (Sekretaris Executive Coremap Indonesia) mengingatkan untuk segera memantau kondisi terumbu karang karena sedang terjadi fenomena anomali (penyimpangan) suhu di perairan Indonesia saat bulan April yang lalu berdasarkan hasil pemantauan suhu permukaan laut SST (Sea surface Temperature) oleh satelit NOAA. Peneliti bio-oseanografi Gulberg dari University of Queensland juga menjelaskan bahwa terjadi peningkatan anomali suhu di laut (1-3oC) setiap abad. Anomali suhu ini akan terus berlangsung jika gas rumah kaca di atmosfer terus terakumulasi.Β
Peningkatan suhu secara umum dapat menyebabkan Bleaching atau kondisi karang memutih akibat dari terlepas atau dilepaskannya mikroalga simbiotik 'zooxanthella' dari tubuh karang dan berakibat konsentrasi zooxanthella dalam sel karang dan atau pigmen zooxanthella berkurang. Hal tersebut merupakan strategi biologi dari individu karang di mana dalam menghadapi tekanan lingkungan yang ekstrim. Selain faktor suhu rendahnya salinitas di laut akibat presipitasi yang tinggi, atau eutrofikasi dalam perairan juga menjadi penyebab terjadinya pemutihan.Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cukup mencengangkan. Terjadi anomali suhu sebesar 3-4oC dari normalnya. Rekor suhu perairan merupakan yang tertinggi selama 13 tahun terakhir setelah peristiwa blaching tahun 1997-1998.
Pada konndisi deviasi suhu 0,8 oC saja sudah bisa memicu karang bleaching dan menurut Suharsono (Kapuslit Oseanologi LIPI) bahwa kenaikan suhu antara 1-3 oC dapat mempengaruhi fisiologi dan kehidupan terumbu karang berupa pertumbuhan yang terhambat, jaringan yang stres atau melemah, dan akhirnya mati bila anomali air berlangsung lebih lama.
Namun, bila anomali dalam waktu yang lebih singkat maka kesehatan karang akan cepat pulihContohnya, karang Acropora loripes di Pulau Badi Spermonde mengalami bleaching pada Bulan April dan Mei 2009 dan kemudian bulan Juni segera pulih karena suhu kembali normal.Β
Khusus di Kepulauan Spermonde lebih dari sepertiga dari 200-an jenis karang telah bleaching, seperti kelompok Acroporoid, Pocilloporoid, dan Poritid. Kelompok karang berpolip besar seperti Lobophyllia dan Euphyllia bersama dengan anemon baru nampak bleaching setelah bulan kedua. Makanya tidak heran bila 169 koloni yang di-sampling terdapat 66% permukaan koloni yang terkena bleaching. Dan, hanya 32% yang masih hidup walau kadang sudah terancam bleaching, dan sisanya jaringan karang sudah mati.
Untuk kita ketahui bersama bahwa Perairan Indonesia merupakan jalur masuknya massa air dari Pasifik terus di lepas di Samudera Hindia di selatan Indonesia. Beberapa peneliti asing dan Indonesia mengungkap fenomena arus lintas Indonesia (ARLINDO).Β Arlindo masuk perairan Indonesia melalui Laut Sulawesi terus ke Selat Makassar, laut Flores, dan keluar lewat Selat Lombok. Selain itu, massa air Pasifik juga melalui Laut maluku dan Laut Halmahera terus ke Laut Banda.Β
Dari dua jalur tersebut massa air keluar menuju Samudera Hindia terutama melalui Laut Timor. Jalur keluar lainnya melalui Selat Ombai, yakni selat antara P Alor dan Timor.Β Arlindo diduga mengangkut massa air hangat dari Samudera Pasifik.
Massa air tersebut membawa massa air hangat sehingga menyebabkan karang memutih. Karena, karang dalam fenomena bleaching tidak mengalami kematian maka mereka masih memiliki peluang untuk pemulihan kembali.Β
Apabila intensitas gangguan tidak besar atau tidak lama maka banyak binatang karang akan pulih mendekati kondisi semula. Sebaliknya intensitas dan gangguan penyinaran yang besar atau lama menyebabkan kematian karang. Hampir 99% karang yang bleaching mengalami kematian. Peningkatan suhu di laut diduga berkaitan dengan adanya peristiwa El-nino tahun 1997-1998. Dugaan ini didasarkan pada penemuan fenomena bleaching secara global pada tahun 1998 yang terjadi pula di Kenya, Cayman, Florida, kepulauan Galapagos, Pulau Crissmass.
Namun, beberapa pengalaman dari peristiwa bleaching terlihat bahwa lebih banyak berakhir dengan kematian dalam skala besar. Seperti kematian karang di Samudera Hindia, Asia Tenggara, dan Karibia di atas 50%. Khusus di Maldives dan Srilangka suhu mencapai 35 oC pada bulan April hingga Juni 1998.Β
Individual karang kemungkinan pulih dan mendapatkan kembali zooxanthellanya, bila kondisi suhu perairan kembali menurun ke normal. Namun demikian pada beberapa kasus laju kematian karang akibat bleaching ini meningkat antara 80 - 100% dan akhirnya karang mati semua. Ketahanan hidup karang kemungkinan lebih tinggi tetapi berkaitan dengan menurunnya laju pertumbuhan dan kapasitas reproduksi.Β
Makanya tidak heran jika saat itu karang bleaching juga dijumpai di Indonesia seperti di Lampung, Taman Nasional Bali Barat, Nusa Penida, Karimunjawa, Bali, Taka Bonerate Selayar dan Kepulauan Spermonde Makassar serta Kepulauan Togian Teluk Tomini.Β
Selama lebih dari 20 tahun telah terjadi bleaching massal yakni: 1979-80, 1982-83, 1987, 1991, 1994,1998. Tidak ada laporan kejadian bleaching sebelum tahun 1979. Biasanya El-nino terjadi diikuti oleh peristiwa bleaching karang. Namun, kejadian tahun ini tidak diikuti oleh fase El-nino.
Kejadian bleaching skala kecil juga dicatat pada bulan Mei 2009 yang baru lalu. Sementara peristiwa bleaching karang tahun 1998 tidak dilaporkan secara serentak di Indonesia. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kurang siapnya para peneliti dan pemerhati lingkungan kelautan Indonesia terhadap peristiwa alam ini
Selanjutnya pada tahun 2010 ini beberapa komunikasi pribadi (informal) dalam beberapa minggu terakhir hampir di semua lokasi terumbu karang di Indonesia termasuk di Nusa Tenggara (Tiga Gili), Sabang Aceh, Kepulauan Komodo, Kepulauan Spermonde Makassar, Teluk Bone, Teluk Palu, Pesisir Kalimantan Selatan.Β
Pada akhirnya penulis yakin bahwa kejadian pemutihan karang kali ini terjadi dalam skala global akibat pemanasan suhu perairan di Lautan Pasifik kemudian mengalir masuk ke perairan Indonesia melalui pintu-pintu Arlindo. Penulis berharap agar pemerhati lingkungan mampu menyampaikan pesan kepada masyarakat nelayan pesisir dan pulau-pulau kecil perihal kejadian alam 'pemanasan global' yang menyebabkan terjadinya kerusakan terumbu karang akibat karang memutih (bleaching).Β
Bila terumbu karang terdegradasi karena bleaching maka kita harus siap menghadapinya karena sumber daya ikan pun telah berkurang akibatnya. Secara sosial berdampak pada pendapatan nelayan. Yang perlu dipikirkan bagaimana mencari 'alternative income' bagi masyarakat nelayan sebelum dan selama sumber daya ikan pulih.
Kita sama-sama menghendaki agar kejadian bleaching massal ini cepat berlalu. Agar keluarga nelayan mudah menangkap ikan lagi dan kembali tersenyum.
Syafyudin Yusuf
Jl Peternakan 5/B 153
Komplek Unhas Antang Makassar
s.yusuf69@gmail.com
0811469220
Penulis adalah Dosen Jurusan Ilmu Kelautan FIKP dan peneliti pada Pusat Penelitian Terumbu Karang Unhas.Β
(msh/msh)











































