Hal ini dikuatkan dengan bukti masyarakat pesisir Indonesia yang mulai menjajakan
rempah-rempahnya yang didapat dari masyarakat pedalaman, kepada saudagar-saudagar yang singgah di pantai-pantai Indonesia. Dan, seiring dengan waktu, rempah-rempah Indonesia semakin terkenal. Bahkan, sampai ke seantero Eropa. Dan walhasil, kekayaan alam negeri ini mulai dilirik para Imperialis Eropa dan mereka pun akhirnya menjajah Indonesia.
Ada berbagai upaya yang dilakukan oleh bangsa Eropa untuk merealisasikan imperialismenya untuk bercokol dinegeri Indonesia. Di samping dengan perang secara fisik, cara yang paling mematikan lainnya adalah mematahkan potensi pasar rakyat Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan berbagai tekanan berbagai sisi, mereka mematikan kesadaran pemasaran dengan cara mematikan rakyat Indonesia dalam penguasaan pasar. Dengan kata lain, menciptakan hilangnya kemauan bangsa Indonesia sebagai seorang wirausahawan atau pun wiraniagawan. Ditumbuhkan keinginan para pemuda-pemuda Indonesia hanya menjadi punggawa atau pegawai penjajah.
Ternyata imbas sisa-sisa penjajahan yang begitu lama itu masih terasa sampai sekarang. Adanya kebanggaan yang berlarut seorang sarjana ketika dia bisa bekerja untuk orang lain membuatnya terkungkung pada zona nyaman untuk dirinya sendiri. Hingga saat ini, sangat sedikit wirausahawan muda yang lahir di Indonesia.
Hal ini diperkuat dengan fakta Departemen Perindustrian yang mengatakan bahwa jumlah semua wirausahawan muda Indonesia baru berjumlah sekitar 0,18 persen atau sekitar 400.000 wirausahawan. Padahal, sudah jelas-jelas Ciputra mengatakan, bahwa Indonesia butuh 2 persen saja dari jumlah penduduk ini yang menjadi pengusaha untuk mengentaskan masalah kemiskinan dan pengangguran di Indonesia saat ini.
Saat ini jumlah wirausahawan Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga. Semisal Cina dengan 4% pengusahanya, diikuti Singapura sebesar 7%, dan Amerika sebesar 12%.
Adanya perkembangan industri asing, investasi asing, individualisme, dan informasi,
kata Kenichi Ohmae, membuat Indonesia semakin terkungkung dalam julukan 'menjadi kuli di negeri sendiri'. Kini sarjana negeri ini pun bukan hanya harus saling bersaing antar sesama mereka, alih-alih juga sarjana luar negeri. Tidak ada jawaban lain, selain mempersiapkan jamuan semangat kewirausahawan muda Indonesia.
Sebenarnya kebangkitan gerakan itu telah berlangsung lama. Namun, cenderung masih dipandang sebelah mata. Walau belum mengalami kenaikan yang cukup signifikan, segenap wirausahawan muda Indonesia telah merambah kegiatan sektor riil dan kreatif yang memberdayakan masyarakat sekitarnya dalam cakupan wilayah yang luas.
Untuk kegiatan ini, Cliff Southcombe menyebutnya dengan istilah wirausaha sosial.
Puncaknya, dibuktikan dengan diundangnya beberapa wirausahawan muda Indonesia sekelas Goris Mustaqim, Putra Sampoerna, Ananda Siregar, Sandiaga Uno, Shinta Widjaja Kamdani, Benjamin Soemartopo, Sheila Tiwan, Tri Mumpuni, dan Yuyun Ismawati dalam Acara Presidential Summit on Entrepreneurship di Amerika lalu.
Mereka membawa kebanggan tersendiri bagi kaum pemuda. Bahwa wirausahawan muda Indonesia ada dan dapat menjawab tantangan bangsa. Bukannya tidak mungkin, jika di masa depan kelak, penentuan arah kehidupan bangsa dan negara ini akan dipegang oleh wirausahawan. Anies Baswedan menegaskan, tren pasar yang mewarnai budaya dan agama hingga konsolidasi demokrasi yang berbasis pasar, membuat para wirausahawan harus masuk dalam dunia kebijakan negara.
Mudah-mudahan, ini dapat menjadi pemicu dan penjamu era kebangkitan wirausahawan muda Indonesia masa kini menjadi elite baru di masa depan.
Ryan Alfian Noor
Mahasiswa Teknik Perminyakan 2006
Institut Teknologi Bandung
http://ryanalfiannoor.wordpress.com/
(msh/msh)











































