Begitu juga menurut Soekarno dalam pidatonya tentang "Lahirnya Pancasila" pada tahun 1945. Sehingga, hakikatnya suatu bangsa terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki satu keinginan dan tujuan yang sama menuju masa depan yang lebih baik selama bertahun-tahun dan turun temurun.
Kalau pijakan kita adalah konsep tersebut sepertinya saat ini kita harus bertanya pada diri kita masing-masing apakah kita benar-benar masih satu bangsa, Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konflik juga tidak jarang terjadi. Dalam hal sepak bola misalnya, antar suporter tak jarang kita dengar berkelahi, saling menghujat dan melempari sampai pada akhirnya beberapa kali tim yang didukung harus menerima hukuman bertanding tanpa suporter.
Belum dalam hal politik yang kompetisi kadang terjadi di luar batas koridor dan senantiasa mengurangi esensi kebangsaan itu sendiri. Dalam sebuah rumah makan misalnya. Saya dengar dan ingat betul percakapan dua orang pemuda saat itu. Salah seorang mengatakan, kalau saja bukan bapak yang kita dukung menjadi Kepala Desa maka Kepala Desa terpilih akan kita bunuh.
Saya tidak cukup terkejut mendengar ucapannya karena kejadian Kepala Desa terpilih meninggal karena dibunuh sudah pernah saya alami di desa tempat kakek dan nenek saya diami. Anda mungkin menyadari lebih banyak lagi daripada yang saya sadari kalau kita belum bisa bersatu secara utuh dan turun temurun di tengah perbedaan kita.
Dalam kondisi yang seperti ini ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya. Dalam hal ini dua di antaranya adalah saling memperhatikan dan saling mendahulukan kepentingan bangsa.
Pertama adalah saling memperhatikan yang tidak terbatas karena kelompok tertentu. Dalam perjalanan menuju Bandung dari kota Lahat Sumatera Selatan di sebelah saya duduk seorang kakek yang umurnya sekitar 70 tahunan. Dia mengatakan bahwa dia salah satu yang ikut berjuang merebut kemerdekaan.
Hal yang sangat mencengangkan bagi saya adalah bahwa dia hampir mengetahui semua perkembangan yang terjadi di bangsa ini. Mulai dari kasus Century saat itu sampai urusan kehidupan rakyat jelata bangsa ini.
Ketika saya tanya dia dapat informasi dari mana dia mengatakan kalau saya selalu mendengarkan radio sejak dulu untuk mendapatkan berita tentang bangsa ini. Ketika saya bertanya untuk apa? Dia mengatakan kalau tidak mungkin saya tidak memperhatikan bangsa yang dulu membuat saya rela kehilangan nyawa untuk kemerdekaannya. Kalau saja akses kepada pemerintahan tidak sesulit sekarang dan kalau saja saya mempunyai handphone genggam atau telepon biasa maka saya akan menelepon pihak-pihak terkait untuk menyampaikan usul saya.
Bagi saya malam perjalanan itu menjadi salah satu malam yang indah dengan pembicaraan bersama beliau. Kendati usulannya sering kali saya dengar di kampus dan di beberapa media massa saya tetap kagum terhadap perhatiannya terhadap bangsa ini.
Dalam bukunya, Team Work 101, John C Maxwell menjelaskan, bahwa salah satu syarat sebuah tim efektif adalah ketika setiap anggota tim harus saling memperhatikan. Beliau kemudian menjelaskan dengan memberikan gambaran yang menarik untuk menjadi renungan kita bersama.
Terdapat program televisi yang menampilkan sebuah penelitian tentang mengapa orang bersedia mati untuk negara. Program itu menganalisa United State Marines, the French Foreign Legion, dan the British Commandos. Di sana terlihat bahwa seseorang bersedia mati untuk negaranya karena cintanya pada rekan-rekannya.
Program itu juga menayangkan wawancara dengan tentara yang terluka dalam pertarungan namun pulih di rumah sakit. Ketika mendengar bahwa unitnya kembali dari sebuah misi yang berbahaya tentara ini melarikan diri dari rumah sakit dan bergabung bersama mereka hanya untuk terluka kembali.
Ketika ditanyai mengapa ia melakukannya ia mengatakan bahwa setelah bekerja dan hidup bersama orang lain. Anda segera menyadari bahwa kemampuan untuk bertahan tergantung satu dengan yang lain. Agar sebuah tim bisa sukses anggota tim harus mengetahui bahwa mereka akan saling menjaga.
Kedua adalah saling mendahulukan kepentingan bangsa. Layaknya sebuah tim basket yang bermain untuk memasukkan bola ke dalam ring suatu bangsa juga memiliki goal. Sebuah tim basket yang memiliki seorang pemain yang ahli dalam dribling, seorang pemain yang ahli dalam passing, dan seorang yang mampu melakukan rebound dengan baik belum cukup efektif untuk menjadi pemenang ketika mereka tidak mengetahui kalau mencetak goal lebih penting daripada kemampuan mereka masing-masing.
Percuma kalau seorang anggota tim memperlihatkan keahliannya dalam dribling kalau pada akhirnya tidak ada bola yang ia masukkan. Begitu juga dengan suatu bangsa. Bahwa kita harusnya lebih mementingkan bangsa kita daripada egois dengan kelebihan diri kita sendiri dalam konteks berjuang untuk kemajuan bangsa ini.
Ini yang terpenting yang harus masing-masing dari kita pahami. Tidak akan ada korupsi bagi saya ketika kita telah mengetahui dan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri kita sendiri.
Tidak akan terjadi pertikaian di kalangan pejabat negara, antar komunitas, kelompok, etnis, dan sebagainya kalau saja kita mengerti apa yang lebih penting bagi kita sebagai satu bangsa, Indonesia.
Dua hal itu merupakan hal mendasar yang harus kita perbaiki. Dengan saling memperhatikan minimal kita akan senantiasa memperbaiki setiap kekurangan yang terjadi di bangsa kita. Dan, dengan saling mendahulukan kepentingan bangsa kita akan lebih mudah menciptakan kemajuan dan kebangkitan bangsa kita, Indonesia.
Agung Wijaya Mitra Alam
Jalan Tubagus Ismail VIII No 62 A Bandung
agung_wma@yahoo.com
08572246040
(msh/msh)











































