Namun, politik pencitraan yang selama ini dilakukan oleh para kandidat calon saat pemilihan umum tidak berhasil diterapkan oleh Andi Malarangeng. Seperti kita ketahui bersama SBY sukses menggunakan media sebagai alat untuk mencitrakan dirinya. Begitu pula dengan Gubernur DKI Jakarta kini Fauzi Bowo yang pada masa kampanyenya dulu paling gencar menggunakan media sebagai strategi politik pencitraan.
Memang, selama ini media memiliki peran yang besar untuk membangun opini publik. Akan tetapi rakyat Indonesia pun semakin cerdas dalam memilih pemimpin. Memang benar bahwa memilih pemimpin itu bukan dari seberapa banyak usahanya dalam mempromosikan dirinya bukan juga karena banyaknya uang yang telah dikeluarkan untuk kampanye. Akan tetapi pemimpin itu akan dipilih oleh rakyat jika calon pemimpin itu ada di hati rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'tidak terlalu sibuk' di internal partai. Beliau banyak bekerja di luar partai seperti menjadi juru bicara presiden dan sekarang menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga. Strategi Andi Malarangeng bisa disebut sebagai out side in dari luar ke dalam. Sedangkan Anas Urbaningrum lebih banyak sibuk di dalam internal partai. Ini juga akan memperkuat pencitraan beliau di Partai Demokrat, partai pemenang pemilu 2009 lalu.
Terpilihnya Anas Urbaningrum pun telah mendobrak citra Partai Demokrat sebagai partainya SBY dan keluarga. Kita tahu bersama bahwa Edhie Tri Baskoro 'yang akrab disapa Ibas' mendukung kubu Andi Malarangeng seolah mencitrakan bahwa Keluarga SBY pun mendukung Andi Malarangeng. Tidak hanya itu. Terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai orang muda telah membangun kaderisasi partai yang baik. Tampuk kepemimpinan partai tidak hanya dipegang kaum senior.
Ini juga menimbulkan optimisme baru di tengah kegelisahan dan kebosanan publik kepada tokoh-tokoh senior yang masih memimpin partai politik hingga saat ini. Meskipun dalam kasus tertentu kehadiran politikus senior tersebut sering kali tak terelakkan demi soliditas partai.
Hal ini juga menjadi penyegaran baru dalam kancah kepemimpinan politik di Indonesia. Kursi pemimpin partai politik tidak dimonopoli oleh kaum senior. Kondisi PD tidak seperti kondisi partai-partai lain yang mengalami stagnasi kaderisasi. Kaderisasi kepemimpinan partai menjadi sangat penting untuk menghadapi pemilu 2014. Indonesia membutuhkan regenerasi pemimpin. Saatnya yang muda yang mengambil alih.
Terlepas dari itu semua semoga dalam proses pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat bisa menjadikan suatu pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa memberikan pencerdasan kepada bangsa kita tentang memilih pemimpin hingga pada akhirnya bahwa yang jujur dan bertindak benarlah yang akan menang. Kebenaran pasti akan muncul juga. Cepat atau lambat.Β Insya Allah.
Rizal Dwi Prayogo
Mahasiswa Matematika ITB Bandung
rizal_dp@arc.itb.ac.id
http://rizaldp.wordpress.com
(msh/msh)











































