Harus diakui --suka tidak suka, bahwa Partai Demokrat telah memberikan satu pencitraan bahwa Partai Demokrat adalah partai yang reformis dan modern. Hal ini tampak jelas dengan terpilihnya Anas Urbaningrum dalam kongres silam. Ada beberapa sudut pandang yang saya lihat sehingga saya bisa mengatakan bahwa Partai Demokrat berhasil membangun citra positif pasca kongres Partai Demokrat, yakni:
1. Sikap netral Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Dewan Pembina. SBY dikenal sebagai sosok yang sangat amat merepresentatifkan Partai Demokrat. Masyarakat sangat mengetahui bahwa Partai Demokrat adalah Partainya SBY. Akan tetapi dalam kongres kedua Partai Demokrat ini SBY lebih memilih netral atau tidak memberikan imbauan untuk mendukung salah satu calon baik secara eksplisit maupun implisit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Kehadiran Edhie Baskoro (Ibas) putra SBY yang ternyata tidak mampu mendongkrak suara Andi Malaranggeng. Hal ini membuktikan bahwa Partai Demokrat juga bukan Partai Keluarga dan tidak dikuasai oleh dinasti tertentu. Kehadiran Ibas yang sedianya dinilai mampu mendongkrak suara Andi Malaranggeng ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan. Partai Demokrat artinya terdiri dari kader (khususnya para perwakilan DPD dan DPC) yang rasional bukan emosional.
3. Kemenangan kekuatan grassroot. Seperti yang kita rasakan, khususnya buat yang tinggal di Kota Bandung, akan sangat tampak bahwa Andi Malaranggeng membuat publikasi yang sangat amat banyak. Hampir setiap orang berpikir bahwa beliau pasti menang karena modal besar yang beliau miliki untuk membuat publikasi. Akan tetapi ternyata publikasi yang besar itu pun tidak menjadi jaminan untuk menjadi Ketua Umum.
Pada akhirnya kedekatan dengan pemilih (dalam hal ini DPD dan DPC) menjadi kunci Utama. Anas Urbaningrum berhasil menjadi ketua umum dikarenakan kedekatan dan kemauan beliau untuk turun langsung ke DPD dan DPC untuk menyampaikan visi dan mengsinkronisasi gagasan dengan kader Partai Demokrat di daerah. Hal ini membuktikan bahwa suara arus bawahlah yang memegang peranan. Bukan sekedar publikasi besar akan tetapi tidak menyentuh masyarakat.
4. Modernisasi dalam demokrasi. Edhie Baskoro sebagai SC dari Kongres Partai Demokrat, sudah merencanakan untuk menggunakan sistem e-voting. Walau memang sebetulnya tidak begitu diperlukan karena cuma pemilih yang hanya 500-an. Akan tetapi Partai Demokrat telah mencoba memberikan contoh bagaimana e-voting dapat diterapkan di pemilu mendatang. Partai Demokrat membuktikan telah menjalankan pemilihan ketua umum dengan tertib dan bisa dipertanggungjawabkan.
5. Munculnya golongan muda. Terpilihnya Anas Urbaningrum adalah satu bukti bahwa regenerasi di tubuh Partai Demokrat sangat cepat dan tidak mengenal usia. Mereka memilih pemimpin dan positioning kader berdasarkan kapasitas bukan faktor usia muda.
Bisa dikatakan Partai Demokrat saat ini adalah Partai Besar dengan ketua umum yang masih muda. Anas berusia 41 tahun saat ini. Hal ini adalah bukti bahwa regenerasi di Partai Demokrat berjalan dengan baik. Dan, tidak ada istilah 'nunggu giliran' bagi golongan yang muda untuk mengalah kepada golongan yang lebih tua. Bahkan, menurut kabar Ibas ditawari posisi strategis di kubu Anas urbaningum.
6. Menangnya politik gagasan. Ini adalah satu hal yang sangat penting, walau SBY dikenal dengan ahli pencitraanya. Akan tetapi Andi Malaranggeng yang bermain dengan 'citra' ternyata tidak terpilih. Justru yang terpilih adalah Anas Urbaningrum dengan gagasan yang terstruktur ditambah kesantunan khas SBY yang menjadi faktor pendorong.
Pembelajaran dalam poin ini adalah pemilih haruslah memilih berdasarkan gagasan apa yang dibawa. Walau memang sedikit mengecewakan di Kongres Partai Demokrat silam adalah, tidak cukup banyaknya waktu yang di alokasikan untuk pemaparan visi dan misi calon Ketua Umum.
7. Sportivitas dalam kompetisi. Seperti yang dilihat di media, bahwa saat pengumuman Anas sebagai Ketua Umum. Ketiga calon ketua umum duduk bersampingan dan saling berangkulan. Mereka telah memberikan contoh bahwa mereka berjuang untuk Partai Demokrat. Bukan karena ambisi pribadi semata.
Enam pertimbangan di atas adalah penilaian subyektif saya tentang keberhasilan Partai Demokrat dalam membangun citra positifnya di mata masyarakat Indonesia. Saya tidak mengetahui apakah semua ini direkayasa. Akan tetapi setidaknya apa yang dilakukan oleh Partai Demokrat telah memberikan kesan tersendiri dalam pembelajaran politik masyarakat Indonesia.
Ke depannya tentu akan semakin menarik perhelatan dunia politik di Indonesia. Dengan hadirnya sosok muda di antara tetua partai politik seperti Anas Urbaningrum. Akan kita lihat apakah partai politik lain akan mampu mencetak politisi muda berbakat dan diberikan kesempatan oleh partai politik tanpa harus 'menunggu giliran' dari yang sudah tua. Semoga partai politik di Indonesia mampu mencetak politisi idealis dan berbakat.
Ridwansyah Yusuf Achmad
Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota ITB
Jl Ganesha No 10 Bandung
http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com
ridwansyahyusuf@gmail.com
(msh/msh)











































