Mengabaikan Pelajaran Bahari

Mengabaikan Pelajaran Bahari

- detikNews
Senin, 24 Mei 2010 18:37 WIB
Mengabaikan Pelajaran Bahari
Jakarta - Surabaya atau Ujung Galuh adalah Kota Maritim telah disepakati di dalam Master Plan Surabaya Tahun 2000 yang disusun pada tahun 1973. Pada tahun 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan Kota Surabaya sebagai Kota Bahari. Sampai saat ini walaupun rumusan kota sudah mengalami banyak perubahan akan tetapi nafas dan urat nadi kehidupan sebagian masyarakatnya tidak dapat menghindar dari aktivitas maritim.

Identitas yang mempertegas sebutan kota maritim banyak dijumpai di sejumlah lokasi. Antara lain Pelabuhan Tanjung Perak, Pangakalan Armada RI Kawasan Timur, atau Galangan Kapal terbesar di Indonesia PT PAL. Kesibukan kapal barang atau pun penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak, bongkar muat kapal dagang tradisional antar pulau di Pelabuhan Kalimas, merupakan ciri Surabaya sebagai kota maritim.

Selain itu Surabaya mempunyai sedikitnya 14 perusahaan industri galangan kapal besar dan kecil yang sebagian besar terkonsentrasi di lokasi Nilam Barat. Patung Jalasveva Jayamahe, Monumen Kapal Selam (Monkasel) di bantaran kali Surabaya, keberadaannya bukan sekedar hiasan. Akan tetapi mampu memberi karakter dan jati diri Surabaya sebagai ranah bahari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayang, asal-usul kota yang mempunyai luas laut 1.889 kilometer persegi, panjang
garis pantai 26,7 kilometer dengan jumlah nelayan 1651 orang, hasil laut 10 ribu ton
per tahun, serta mempunyai tambak budi daya air payau seluas 1400 hektar ini, tidak
banyak difahami pemangku kepentingan pendidikan di Surabaya.

Kurikulum di sekolah tidak pernah mengajarkan secara instens nilai-nilai kebaharian dan wawasan tentang kelautan. Dengan potensi maritim yang dimiliki sekolah dasar dan menengah di Surabaya seharusnya mencantumkan pelajaran bahari sebagai muatan lokal. Main-set sebagai kota maritim harus ditanamkan sejak usia dini di sekolah.

Sebagai ilustrasi sejak mulai belajar di Taman Kanak-kanak (TK), materi menggambar misalnya, selama ini guru lebih senang mengajari muridnya menggambar gunung, matahari kemudian sawah. Jarang ada murid yang berinisiatip menggambar nuansa laut atau perahu tradisional nelayan.

Patut pula disesalkan jika anak-anak sangat asing dan tidak bisa mendendangkan lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut. Pola pikir murid secara tidak sangaja dibatasi untuk selalu berorientasi daratan. Tidak mengherankan jika hal ini terbawa hingga dewasa dan menjadi pilihan ketika mereka melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan.

Seorang Sri Edi Swasono, Guru Besar di Universitas Indonesia, dalam sebuah artikelnya beberapa waktu lalu mengungkapkan rasa kecewanya. Ahli ilmu ekonomi kerakyatan ini dengan penuh kegelisahan menceritakan mahasiswanya di Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia tidak mengetahui di mana letak pulau terdepan Marore dan Miangas. Hal ini membuktikan betapa penguasaan pengetahuan geografi dan ilmu kebaharian di sekolah umum dan perguruan tinggi sangatlah lemah.

Kita menjadi prihatin ketika seorang Dekan Fakukltas Perikanan di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Malang menemukan fakta tidak lebih dari 20 persen mahasiswanya yang bisa berenang. Kita juga menyesalkan Universitas Hangtuah terpaksa menutup Fakultas Perikanan karena sepi peminat. Potensi maritim Surabaya seperti transportasi laut, wisata bahari, hasil tangkapan nelayan, pada akhirnya hanya akan menjadi retorika.

Jangan salahkan murid lulusan sekolah umum jika mereka tidak mengenal budaya pesisir. Apa itu padang lamun, ikan demersial, atau seperti apa bentuk perahu nelayan Payangan dan Polokan atau bentuk jaring Cantrang. Apalagi untuk menumbuhkan dalam jiwa mereka kesadaran cinta laut.

Jangan pula salahkan generasi penerus jika kemudian mereka enggan bekerja di laut karena persepsi mengenai laut yang keliru. Sebab, laut diidentikan dengan kemiskinan, kekumuhan, dan menyeramkan karena mitos Nyai Roro Kidul.

Di Kota Maritim seharusnya lembaga pendidikan di Surabaya mengajarkan pengetahuan seperti manfaat transportasi laut, wisata bahari, keanekaragaman hayati laut, dan potensi pulau-pulau kecil. Sumber daya alam apa saja yang terkandung di dalamnya, baik yang habis dipergunakan mau pun yang renewable. Kemudian murid diberi wawasan bagaimana cara memanfaatkan dan melestarikannya agar tidak mengusik ekosistem yang ada.

Pepatah mengatakan siapa yang belajar ilmu kelautan akan menguasai laut dan menguasai dunia. Mari tumbuhkan jiwa bahari dan menjadikan kurikulum bahari dan ilmu kelautan bukan sekedar pelajaran ekstra kurikuler. Bangsa ini tidak boleh melupakan kodrat dan jati diri sebagai entitas maritim.

Bung Karno pernah mengatakan 'Sebuah bangsa bila kehilangan jati dirinya maka bangsa tersebut tidak akan mampu bertahan hidup bahkan akan punah'. Ironi, jika Surabaya sebagai kota industri, dagang, maritim, dan pendidikan (Indamardi), di sekolah tidak mempunyai kurikulum bahari dan penghuninya tidak mengenal budaya pesisir.

Oki Lukito
Direktur Regional Economic Maritime Institute
Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads