Harta Karun, Cagar Budaya Laut yang Menjanjikan

Harta Karun, Cagar Budaya Laut yang Menjanjikan

- detikNews
Kamis, 20 Mei 2010 18:56 WIB
Harta Karun, Cagar Budaya Laut yang Menjanjikan
Jakarta - Meski menuai kontroversi lelang Artefak berusia lebih dari 1000 tahun hasil pengangkatan Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) Cirebon yang bernilai 720 miliar itu tetap berlangsung. Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) dan sejumlah kalangan menyesalkan dan menilai bahwa diadakannya lelang peninggalan ChinaΒ  abad ke-10 tersebut adalah sikap pemerintah yang melihatnya dari kepentingan ekonomi jangka pendek saja. Tanpa melihat aspek sejarah artefak yang ada di dalamnya dan yang jauh lebih bernilai.Β Β 

Dalam waktu dekat pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali akan melakukan pelelangan terbuka internasional setelah gagal menghadirkan peserta lelang pada tanggal 5 Mei 2010 lalu terhadap 271.381 keping benda berharga muatan kapal tenggelam yang diangkat dari perairan Cirebon. Penemuan artefak dari perairan Cirebon tersebut sebagai salah satu penemuan artefak terbesar meliputi glass yang berasal dari Sasanian Empires & Rock Crystal berkualitas tinggi dari Fatimid Dynasty, yang keseluruhannya berasal dari Afrika dan Timur Tengah: keramik-keramik China koleksi artefak yang berkualitas tinggi dari era China's Five Dynasties yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Barang Muatan Kapal Tenggelam (treasure-laden shipwrecks - BMKT) atau yang sering disebut dengan harta karun adalah aset laut Nusantara yang tersebar di perairan antara Sabang sampai Marauke yang hingga kini belum digarap dengan baik. Di sejumlah kawasan yang memiliki potensi luar biasa. Namun, kenyataan banyak dari aset kita itu diekplorasi dan hanya dinikmati oleh pihak asing. Baik melalui pencurian kekayaan laut maupun dengan cara ekploitasi yang legal tetapi tidak adil
dalam distribusi pendapatan antara operator dan pemasukan ke dalam ke kas negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara geografis Indonesia terletak pada wilayah yang strategis di jalur lalu lintas pelayaran international yang ramai sejak berabad-abad yang lalu. Dari bukti sejarah banyak kapal dagang dan kapal perang yang jatuh di perairan Indonesia dengan membawa benda-benda berharga. Hal ini memperkaya potensi kelautan Indonesia dengan banyaknya kapal yang karam beserta muatan berharga di dalamnya yang dapat mendatangkan keuntungan ekonomi (economic value).Β Β Β Β 

Telah banyak laporan sejarah menyebutkan peranan penting Malaka. Terutama letaknya yang strategis sebagai pintu gerbang pelayaran kuno. Selat Malaka menghubungkan Afrika, Asia Barat, Asia Selatan dengan Asia Tenggara, dan Asia Timur. Laut Jawa juga merupakan wilayah penting untuk pelayaran kapal-kapal asing.Β Β 

Akibat kondisi alam yang sulit ditebak dan system navigasi masih belum modern saat itu sehingga telah banyak kapal tenggelam yang umumnya berasal dari masa sebelum abad XX. Tepatnya sebelum Perang Dunia II ditemukan di perairan Indonesia. Kapal-kapal Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur untuk tujuan berdagang tersebut memiliki potensi membawa muatan benda-benda berharga yang memiliki nilai sejarah dan budaya.Β Β 

Menurut pengertian Undang-undang U No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya ('UUΒ  BCB') bahwa BMKT (treasure-laden shipwrecks) adalah salah satu bentuk Benda Cagar Budaya yaitu benda buatan manusia. Tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang memiliki nilai penting sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan kebudayaan yang tenggelam di wilayahΒ  perairan Indonesia, zona ekonomi eksklusif Indonesia, dan landas kontinen Indonesia dengan kriteria paling singkat berumur 50 (lima puluh) tahun.

Dari data Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (DitjenΒ  PSDKP) Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) ada 493 situs arkeologi bawah laut di Indonesia. Namun, para peneliti kemaritiman memperkirakan bahwa bila melihatΒ  luas perairan nusantara dan keterangan dalam sejarah kemaritiman di Indonesia angka tersebut dianggap masih terlalu kecil.

Potensi benda-benda berharga yang ada tersebut kurang dari 10 persennya atau baru 46 lokasi yang sudah dieksplorasi dan belum dimanfaatkan secara optimal. Baik untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, budaya maupun ekonomi. Dan, apabila benda-benda berharga yang disebutkan dalam UU BCB bahwa setiap harta karun yang berada di dasar laut Indonesia masih menjadi milik negara pada titik 493 saja berhasil diangkat, maka akan menyumbangkan pendapatan negara hingga mencapai 5 miliar US Dollar.

Seperti dilansir dalam Timesonline.com dan menurut Konsorsium Penyelamat Aset Bangsa (KPAB) bahwa, seorang warga negara Australia bernama Berger Michael Hatcher yang lahir di Inggris, merupakan salah satu dari sekian banyak pelaku pemburuan harta karun yang telah banyak meraup keuntungan dari upayanya melakukan pencarian,Β  pengangkatan, dan penjualan BMKT dari lautan di wilayah perairan Indonesia sejak tahun 1980-an.

Pada 1985-1986 berhasil mengangkat isi kapal tenggelam Geldermasen milik VOC di Karang Heliputan di Tanjung Pinang Indonesia kemudian melelangnya di balai lelang Christi'e, Belanda dengan nilai 17 Juta USD, dan Indonesia tidak kebagian sedikit pun. Di dunia internasional Hatcher dijuluki 'The Wreck Salvage King' (Raja Penyelamat Kapal Karam). Dia mendapatkan 126 emas batangan dan 160 ribu benda keramik dinasti Ming dan Ching.

Nilainya tidak kurang dari US$ 15 juta saat itu. Kemudian, Hetcher juga pernah mengangkat kapal Tek Sing di Perairan Kepulauan Bangka Sumatera Selatan tahun 1999 lalu. Nilainya Rp 500 miliar. Kini Hatcher diduga muncul kembali di perairan Blanakan Subang yang diperkirakan terdapat porselen Dinasti Ming dengan nilai tidak kurang dari US$ 200 juta.Β 

Menurut Konsorsium Penyelamat Aset Bangsa (KPAB) bahwa pihaknya telah meminta pemerintah harus segera menindak dan menghentikan sepak terjang Michael Hatcher, dan mengambil langkah pengamanan serta perlindungan BMKT yang kemungkinan masih banyak tersebar di lautan dalam wilayah perairan Indonesia.

Kasus pencurian Barang Muatan Kapal Tenggelam yang merugikan negara hingga triliunan rupiah di perairan laut Nusantara di atas merupakan bahagian kecil dari sekian banyak kasus dalam pengelolaan warisan budaya yang ada di laut.Β  Bertambahnya nilai pasar seni dan kolektor yang bekerja sama dengan pemburu-pemburu harta BMKT tentunya memiliki konsekuensi tersendiri terhadap upaya kelestarian warisan budaya bangsa.

Hal ini juga merupakan tantangan bagi bangsa ini untuk terus melakukan eksplorasi yang didukung oleh kemampuan teknologi, kemampuan menyelam, dan mengupayakan pengelolaan BMKT agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada negara dengan tetap memegang pada prinsip kelestarian warisan budaya di bawah permukaan laut.
Β 
Andi Iqbal Burhanuddin
Wakil Dekan III Fakultas Ilmu kelautan dan perikanan Universitas HasanuddinΒ 
Β 



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads